Opinions

79 Tahun HMI: Kesadaran Sejarah dan Tanggung Jawab Kader ‎

HMI
Adil Makmur Alwi, SE, M.M---Kader HMI Komisariat YPUP Cabang Makassar ‎79 Tahun HMI; Melanjutkan perjalanan Sejarah, Membentuk Insan Akademis Yang Beriman, Kreatif, dan Bertanggung Jawab Untuk Masyarakat Adil dan Makmur. Jum'at (06/02/2026). Foto Ist ‎

Oleh: Adil Makmur Alwi, SE, M.M ‎(Kader HMI Komisariat YPUP Cabang Makassar)

INSAN.NEWS || Pangkep—Bagi manusia maupun organisasi, usia tidak pernah sekadar angka, selalu membawa beban sejarah, tuntutan makna, dan pertanyaan tentang tanggung jawab. Semakin panjang usia, semakin besar  tuntutan untuk merefleksikan arah dan kebermanfaatan keberadaan.

‎5 Februari 2026, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap 79 tahun; menandai kematangan historis, sekaligus mengajukan pertanyaan mendasar tentang sejauh mana HMI mampu membaca zaman dan memaknai eksistensi secara bertanggung jawab di tengah perubahan sosial, politik, dan kultural yang kompleks.

‎Ketika HMI didirikan pada tahun 1947, tujuan organisasi dirumuskan secara tegas dan kontekstual yakni mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat masyarakat Indonesia.

‎Menurut Adil dalam tulisan resminya, Jum’at (06/02/2026), rumusan ini lahir dari situasi sejarah yang genting—ketika kemerdekaan belum sepenuhnya aman dan umat Islam menghadapi keterbatasan serius dalam akses pendidikan serta peran sosial-politik.

79 Tahun HMI: Dari Kaderisasi ke Demokrasi Etis di Tengah Krisis Keteladanan Politik

‎Dalam konteks ini, HMI hadir sebagai ikhtiar etis kaum terpelajar Muslim untuk mengambil bagian aktif dalam proyek besar bernama Indonesia. HMI bukan sekadar organisasi kemahasiswaan, melainkan simpul kesadaran sejarah yang menjembatani keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan.

‎Dalam perspektif historis, tujuan awal tersebut dapat dikatakan telah ditunaikan. Indonesia kini berdiri sebagai negara merdeka dan berdaulat, sementara ruang partisipasi sosial dan intelektual umat semakin terbuka.

‎Namun, sejarah tidak pernah berhenti pada pencapaian. Seperti ditegaskan Muhammad Iqbal, sejarah adalah proses becoming; gerak kreatif manusia dalam merespons tantangan zamannya.

‎Karena itu, kesetiaan pada sejarah tidak berarti membekukannya, melainkan melanjutkannya dalam bentuk tanggung jawab baru.

‎Di sinilah perubahan orientasi tujuan HMI menemukan relevansinya. Peralihan dari agenda mempertahankan kemerdekaan, menuju agenda keumatan, hingga pada rumusan tujuan saat ini bukanlah bentuk inkonsistensi, melainkan ekspresi kedewasaan intelektual.

Khalifah di Tengah Semesta: HMI dan Zikir Kosmik Peradaban

‎Sejalan dengan pemikiran Fazlur Rahman, nilai-nilai dasar memang bersifat tetap, tetapi pemahamannya harus selalu bergerak dari konteks ke konteks.

‎Nilai yang hanya diulang tanpa keberanian membaca realitas baru akan kehilangan daya transformasinya dan berubah menjadi simbol kosong.

‎Kesadaran inilah yang melahirkan konsep Insan Cita;

‎insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

‎Rumusan ini menempatkan manusia sebagai pusat perjuangan—bukan struktur organisasi, bukan pula romantisme sejarah. Ia menegaskan bahwa tujuan akhir dari setiap gerakan adalah pembentukan manusia yang utuh: manusia yang berpikir jernih, beriman secara sadar, dan bertanggung jawab secara sosial.

Chairul Amri; Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilihan Umum di Indonesia Oleh Peradilan Khusus

‎Dalam kerangka pemikiran Iqbal, manusia semacam ini adalah pribadi yang aktif, kreatif, dan berani mengambil risiko moral. Iman tidak dimaknai sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai energi untuk mengubahnya. Karena itu, Insan Cita bukanlah gambaran manusia ideal yang selesai, melainkan orientasi etis bagi proses menjadi—sebuah perjalanan panjang yang menuntut keberanian berpikir dan bertindak.

‎Pertanyaan mendasar bagi HMI hari ini, dengan demikian, bukan lagi apakah cita-citanya luhur. Keluhuran itu telah menjadi konsensus normatif. Pertanyaan sesungguhnya adalah: apakah HMI masih memiliki kapasitas etis dan intelektual untuk menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam pengalaman sosial yang konkret.

‎Sebagaimana ditegaskan Jurgen Habermas, rasionalitas sejati tidak berhenti pada klaim normatif, melainkan harus diuji dalam ruang praksis dan tanggung jawab publik. Nilai yang tidak menjelma menjadi tindakan sosial hanya akan tinggal sebagai wacana.

‎Organisasi, pada hakikatnya, bukan sesuatu yang sakral pada dirinya sendiri. Ia adalah sarana, bukan tujuan. Nurcholish Madjid berulang kali mengingatkan bahwa yang sakral adalah nilai-nilai moral dan kemanusiaan, bukan wadah institusional. Ketika organisasi diperlakukan sebagai tujuan akhir, ia berisiko kehilangan orientasi etik dan terjebak dalam upaya mempertahankan dirinya sendiri.

‎Di sinilah arti penting perkaderan dan tradisi intelektual HMI. Keduanya bukan sekadar rutinitas struktural, melainkan ruang pembentukan kesadaran kritis. Tanpa nalar kritis dan keberanian moral, organisasi mungkin tetap hidup secara administratif, tetapi hampa secara substantif.

‎Usia yang bertambah seharusnya melahirkan kebijaksanaan, bukan kelelahan gagasan. Ia semestinya memperdalam kerendahan hati untuk belajar dan memperkuat keberanian untuk berubah. Kesetiaan pada cita-cita tidak diukur dari seberapa sering ia diucapkan, melainkan dari seberapa sungguh ia diupayakan dalam kehidupan nyata umat dan bangsa.

Milad ke-79 HMI patut dijadikan momentum keterbukaan reflektif kolektif—kesediaan untuk menilai diri secara jujur, tanpa defensif dan tanpa romantisme berlebihan. Pertanyaan yang diajukan bukan untuk melemahkan, melainkan untuk memurnikan; apakah HMI masih menjadi ruang pembentukan manusia yang sadar, ataukah sekadar menjaga keberlangsungan organisasi sebagai tujuan itu sendiri?

‎Selama Insan Cita dipahami sebagai panggilan moral yang terbuka dan dinamis, selama HMI tetap berpijak pada keislaman yang inklusif, keindonesiaan yang kontekstual, dan kemanusiaan yang adil, maka sejarah HMI tidak akan berhenti sebagai catatan masa lalu. Ia akan terus hidup sebagai proses kreatif menjadi manusia—sebagaimana hakikat sejarah itu sendiri.

‎Selamat Milad HMI ke-79.

‎Semoga pertambahan usia ini meneguhkan kejernihan berpikir, keberanian moral, dan kesediaan untuk terus belajar demi kesetiaan yang lebih otentik pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

‎INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement