INSAN.NEWS || Jeneponto,- Gelombang digitalisasi terus menyapu berbagai sektor kehidupan, membentuk ulang perilaku masyarakat, hingga memaksa dunia pendidikan menata ulang budaya belajarnya.
Di tengah arus perubahan itu, Dr. Abd. Karim, S.E., M.M., hadir sebagai narasumber pada Latihan Kader (LK) II HMI Cabang Jeneponto yang digelar di Hotel Lingkarsut, Sabtu (29/11/2025).
Untuk membuka tabir besar tentang persaingan global, inovasi lokal, dan masa depan mahasiswa di era serba cepat.
Membawakan materi “Kebijakan Ekonomi di Era Digital: Antara Inovasi Lokal dan Dominasi Global,” Karim tidak sekadar menyampaikan ulasan akademik.
Ia membentangkan lanskap ekonomi digital, pergeseran pola konsumsi global, hingga lahirnya pusat-pusat kekuatan ekonomi baru yang bergerak melalui algoritma, data, dan inovasi teknologi.
Namun, perhatian peserta memuncak ketika Karim melemparkan satu pernyataan yang tajam, bahkan memancing adrenalin intelektual peserta.
Dengan suara tegas ia berkata:
“Di zaman digital seperti ini, haram hukumnya kalau seorang mahasiswa masih membawa buku tulis ke kampus.”
Kalimat itu langsung menyulut reaksi beragam. Ada yang mengernyitkan dahi, ada pula yang tersenyum tipis mencoba memahami maksudnya. Karim bukan sedang mengejek tradisi menulis, tetapi ingin menggugah kesadaran bahwa mahasiswa harus berlari mengikuti kecepatan zaman.
Dunia hari ini, katanya, tidak lagi memberi ruang bagi mereka yang lambat beradaptasi.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa dominasi raksasa digital global kini turut menentukan arah ekonomi Indonesia. Jika generasi muda – khususnya mahasiswa – tidak membekali diri dengan literasi digital, mereka hanya akan menjadi penonton dalam peta kompetisi global.
Namun pernyataan itu tidak dibiarkan lewat tanpa kritik. Sesi diskusi menjadi semakin hidup ketika Mabruk Abdul Muhaimin Alkatiri, peserta dari HMI Cabang Makassar Timur, mengangkat tangan dan menyampaikan pertanyaan yang menggugah.
Dengan intonasi tenang namun berbobot, ia bertanya:
“Apakah transformasi digital ini tidak mempengaruhi kualitas berpikir mahasiswa? Jika pembelajaran berbasis digital tidak lagi mengharuskan mahasiswa menulis, bukankah ini bisa menumpulkan daya analisis mereka?”
Pertanyaan itu membuat suasana forum menghangat. Beberapa peserta mengangguk, mendukung kegelisahan tersebut. Di era ketika mengetik lebih cepat daripada menulis, kekhawatiran tentang hilangnya kedalaman berpikir benar-benar terasa nyata.
Karim menjawab dengan menegaskan bahwa digitalisasi memang membawa tantangan, tetapi juga membuka peluang yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Kuncinya terletak pada kecakapan literasi digital, disiplin intelektual, dan kemampuan mengelola informasi secara kritis.
Ia menegaskan:
Teknologi bukan musuh, melainkan alat. Yang menentukan kualitas intelektual bukan perangkatnya, tapi manusianya.
Diskusi tersebut menjadi salah satu sesi paling dinamis selama gelaran LK II HMI Cabang Jeneponto. Forum ini tidak hanya membahas ekonomi digital, tetapi juga menguji kembali bagaimana mahasiswa harus membangun karakter berpikir di tengah gelombang teknologi yang semakin mendikte pola hidup manusia.
Kegiatan LK II kali ini berhasil menunjukkan bahwa kader HMI bukan hanya siap menerima arus digital, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengkritisi, mengolah, dan mengintegrasikan perubahan besar tersebut ke dalam cara berpikir yang lebih matang dan visioner.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


