Opinions

Kalender yang Disakralkan, Akal yang Diliburkan ‎

Api
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Kamis (16/04/2026). Foto Ist

Oleh : Buhari Fakkah – UMS Rappang

‎‎INSAN.NEWS || Sidenreng – Rappang,- Rabu 31 Desember 2025 – Setiap akhir tahun, sebagian umat mendadak berubah menjadi penjaga gerbang iman. Kalender diperiksa, niat dicurigai, hitungan hari diaudit seolah malaikat pencatat amal sedang cuti massal.

‎Tahun Baru Masehi dianggap ancaman, sementara Tahun Baru Hijriah diklaim sebagai benteng terakhir akidah. Iman, rupanya, kini rapuh – bisa runtuh hanya karena pergantian angka di kalender.

‎Padahal sejak awal, Al-Qur’an memperlakukan waktu dengan tenang dan dewasa. Matahari dan bulan disebut sekadar penanda perhitungan, agar manusia tahu kapan menanam, berdagang, dan beribadah (QS. Yunus [10]: 5; QS. Al-Isra’ [17]: 12). 

‎Tidak ada ayat yang menyuruh panik massal setiap Desember. Tidak pula ditemukan perintah menutup kalender internasional demi menyelamatkan iman dari bahaya angka.

Ketika Dokumen Palsu Menjadi Jalan Menuju Kekuasaan

‎Ironisnya, kalender Hijriah yang sering diperlakukan seperti artefak suci lahir dari rapat administrasi. Ia dibakukan pada masa Umar bin Khattab karena arsip negara kacau, bukan karena langit menurunkan memo ilahi.

‎Hijriah adalah produk ijtihad politik yang rasional. Namun di tangan generasi yang gemar mensakralkan simbol, ijtihad itu dipajang sebagai dogma, sementara akalnya disimpan rapi di lemari.

‎Tahun Baru Masehi lalu diposisikan sebagai ritual Kristen terselubung. Sebuah tuduhan yang mengandaikan dunia modern sedang melakukan misa global tanpa imam.

‎Padahal kalender Masehi hari ini hanyalah alat koordinasi peradaban dipakai untuk jadwal penerbangan, gaji pegawai, dan jatuh tempo cicilan. Jika kalender bisa mengubah iman, mungkin kartu ATM juga patut difatwakan.

‎Masalahnya bukan Masehi atau Hijriah, melainkan obsesi pada simbol yang meninabobokan. Al-Qur’an bersumpah atas waktu (QS. Al-‘Asr [103]: 1–3), bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.

PUTUSAN MK TELAH DIBACAKAN, MENGAPA MASIH BERSEMBUNYI DI BALIK RIWAYAT PENDIDIKAN GIBRAN?

‎Manusia merugi bukan karena salah kalender, melainkan karena waktu dihabiskan untuk menghakimi, bukan memperbaiki. Namun polemik kalender selalu laku keras murah secara nalar, mahal secara emosi.

‎Lebih ironis lagi, Nabi Muhammad tidak pernah merayakan tahun baru apa pun. Hijrah yang diagungkan sebagai penanda kalender adalah tindakan politik-moral:

‎”Meninggalkan penindasan menuju keadilan”.

‎Kini hijrah disulap menjadi seremoni angka, sementara ketidakadilan justru dirayakan sepanjang tahun tanpa keberatan teologis.

‎Pada akhirnya, kalender disakralkan karena ia mudah. Menggugat ketimpangan butuh keberanian, menggugat kalender cukup modal teriak. Iman pun direduksi menjadi urusan tanggal, bukan keberpihakan. Akal diliburkan, simbol dipertuhankan.

Babak Kedua: DPR Memeriksa Putusan MK

‎Tahun akan terus berganti dengan atau tanpa fatwa. Pertanyaannya bukan kalender apa yang kita pakai, melainkan apakah akal masih ikut dihitung, atau ikut dipensiunkan setiap pergantian tahun.

‎INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

× Advertisement
× Advertisement