Opinions

Fenomena Guru Non-Linier: Ketika Sarjana Pendidikan Tersisih di Negeri Sendiri

IMG 20251101 WA0084
Nurul Rahma : Ketua Kohati HMI Cabang Takalar, Menyoroti Fenomena Guru Non-Linier Yang Dinilai Menggeser Peran Lulusan Sarjana Pendidikan. Jum'at (02/01/2026). Foto Ist

‎Oleh : Nurul Rahma – Ketua Kohati HMI Cabang Takalar 

INSAN.NEWS || Takalar,- Jum’at 02 Januari 2026 – Belakangan ini, dunia pendidikan di Indonesia dihadapkan pada realitas yang semakin memprihatinkan. Banyak tenaga pendidik di sekolah berasal dari latar belakang non-kependidikan dan jurusan yang tidak linear dengan mata pelajaran yang diajarkan.

‎Ironisnya, di tengah melimpahnya lulusan sarjana pendidikan yang telah dibekali kompetensi pedagogik, justru banyak dari mereka kesulitan mendapatkan ruang mengajar.

‎Sebaliknya, lulusan non-pendidikan dapat mengikuti PPG, memperoleh sertifikat pendidik, dan tercatat dalam Dapodik, meskipun latar belakang keilmuannya tidak selalu sejalan.

‎Faktanya, setiap tahun perguruan tinggi meluluskan ribuan sarjana pendidikan dari berbagai bidang studi. Namun, tidak sedikit dari mereka justru kesulitan mendapatkan kesempatan mengajar, sementara individu dari jurusan non-pendidikan dapat masuk ke sekolah, mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), memperoleh sertifikat pendidik, dan tercatat resmi dalam Dapodik.

DEMOKRASI DELIBERATIF DAN KEADABAN TEOLOGIS

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius: 

“Di mana posisi dan masa depan lulusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan”? 

‎Mereka yang sejak awal disiapkan secara akademik, pedagogik, dan praktik lapangan justru harus bersaing dengan lulusan non-pendidikan yang baru mengenal dunia keguruan setelah lulus kuliah.

‎Lebih jauh, kebijakan yang membolehkan ketidaklinieran ini dinilai berpotensi mengaburkan esensi profesionalisme guru. Profesi guru seharusnya dibangun melalui proses panjang dan terstruktur, bukan sekadar pemenuhan administrasi atau kebutuhan sesaat. 

‎Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin kualitas pendidikan akan terdampak, sekaligus menurunkan minat generasi muda untuk menempuh pendidikan keguruan.

Demokrasi: Kritik Kosmologis atas Ilusi Daulat Rakyat

‎Oleh karena itu sudah saatnya pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan melakukan evaluasi serius. Penataan rekrutmen guru, penegakan prinsip linearitas, serta keberpihakan pada lulusan pendidikan harus menjadi prioritas.

‎‎Dunia pendidikan tidak boleh dikelola dengan logika darurat yang berkepanjangan, karena masa depan generasi bangsa dipertaruhkan.

‎INSAN.NEWS Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

× Advertisement
× Advertisement