Oleh : Buhari Fakkah – Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidenreng – Rappang,- Kamis 15 Januari 2026 – Peristiwa Isra’ Mi’raj kerap dibaca secara nomik yakni tunduk pada hukum kausalitas fisika atau secara anomik, dengan menanggalkannya sepenuhnya dari rasionalitas dan menempatkannya dalam wilayah mukjizat murni yang kebal kritik.
Dua pendekatan ini sama-sama menyederhanakan. Di antara keduanya, diperlukan suatu gerakan metanomik:
”Cara membaca yang tidak tunduk sepenuhnya pada hukum alam, tetapi juga tidak menafikan nalar, melainkan melampauinya tanpa membatalkannya”.
1. Metanomik sebagai Jalan Tengah Epistemologis
Istilah metanomik di sini merujuk pada gerak melampaui hukum (nomos) tanpa meniadakan hukum itu sendiri. Dalam filsafat Kant, terdapat wilayah noumena realitas yang tak sepenuhnya dapat dicerap oleh rasio empiris, namun tetap memiliki koherensi makna. Isra’ Mi’raj bergerak di wilayah ini:
”Bukan sekadar peristiwa fisik yang dapat diukur jarak dan waktunya, tetapi juga bukan ilusi subjektif spiritual”.
Dengan demikian, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa makna, bukan sekadar peristiwa ruang. Ia terjadi bukan karena hukum fisika dilanggar, melainkan karena kategori ruang dan waktu tidak lagi menjadi kerangka utama pengalaman.
2. “Menaik” Tanpa Jarak: Kritik atas Imajinasi Spasial
Bahasa “naik ke langit” sering menjebak pemahaman Isra’ Mi’raj dalam kosmologi tiga lapis:
“Bumi – langit – Tuhan. Padahal, teologi Islam sendiri menolak Tuhan sebagai entitas yang terikat ruang”.
Maka, “kenaikan” Nabi tidak bisa dimaknai sebagai perpindahan vertikal dalam arti geografis.
Di sinilah konsep menaik jarak dekat menemukan relevansinya. Mi’raj bukan perjalanan menjauh, melainkan perjalanan mendekat tanpa jarak. Tuhan tidak berada “di atas” secara spasial, tetapi “dekat” secara ontologis. Al-Qur’an sendiri menegaskan:
“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
Kedekatan ini tidak memerlukan langkah, kendaraan, atau lintasan. Ia menuntut transformasi subjek, bukan perubahan posisi.
3. Tak Sentuh: Transendensi Tanpa Objektifikasi
Dalam filsafat teologi, salah satu bahaya terbesar adalah menjadikan Tuhan sebagai objek sesuatu yang bisa disentuh, dilihat, atau didekati secara fisik. Isra’ Mi’raj justru menegaskan paradoks suci:
”Kedekatan absolut tanpa sentuhan”.
Nabi “mendekat” tanpa menjadikan Tuhan sebagai objek indrawi. Ini menolak teologi antropomorfik dan sekaligus menolak mistisisme vulgar yang mengklaim “menyatu” secara ontologis dengan Tuhan. Mi’raj adalah relasi, bukan fusi.
Dalam bahasa Levinas, ini adalah perjumpaan dengan Yang Lain yang tak pernah bisa direduksi menjadi kepemilikan atau pengalaman total.
4. Isra’ Mi’raj sebagai Kritik atas Kesalehan Mekanis
Dimensi paling politis dari Isra’ Mi’raj justru sering dilupakan:
”Hasil akhirnya bukan ekstase spiritual, melainkan kewajiban shalat”.
Ini penting. Mi’raj tidak melahirkan pelarian dari dunia, tetapi ritme etis harian yang membumikan pengalaman transenden.
Dengan demikian, Isra’ Mi’raj adalah kritik keras atas spiritualitas eskapis agama yang sibuk mengejar langit namun lupa bumi.
Ia menegaskan bahwa puncak pengalaman metafisis justru berbuah pada disiplin praksis, bukan klaim kesucian.
5. Gerakan Metanomik sebagai Etika Keberagamaan
Membaca Isra’ Mi’raj secara metanomik berarti menolak dua ekstrem:
”Fundamentalisme literal yang miskin refleksi, dan rasionalisme kering yang menafikan makna simbolik”.
Gerakan ini mengajak umat beragama untuk menaik tanpa meninggalkan akal, mendekat tanpa mengobjektifikasi, dan percaya tanpa mematikan kritik.
Dalam dunia modern yang memuja kecepatan, Isra’ Mi’raj justru mengajarkan bahwa jarak terpendek menuju Yang Absolut bukanlah akselerasi, melainkan kedalaman.
Penutup
Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah perjalanan, melainkan arsitektur makna:
”Tentang bagaimana manusia dapat melampaui dirinya tanpa kehilangan kemanusiaannya”.
Gerakan metanomik menaik jarak dekat tak sentuh adalah undangan untuk beragama secara dewasa:
”Rasional tanpa kering, spiritual tanpa ilusi, dan transenden tanpa kehilangan tanggung jawab etis di dunia”.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


