INSAN.NEWS || Makassar,- Di tengah arus pragmatisme yang kian menguat dalam kehidupan berorganisasi, Nilai Dasar Perjuangan (NDP) kembali menemukan relevansinya sebagai fondasi etik dan intelektual kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Hal ini mengemuka dalam kegiatan Latihan Kader II (LK II) HMI Korkom Tamalate Cabang Makassar, ketika Baharuddin Hafid membawakan materi Teologi dalam Tafsir NDP di Wisma Latobang, Makassar. Ahad (25/01/2026).
NDP bukan sekadar teks ideologis yang dibaca saat forum formal kaderisasi. Ia adalah asumsi dasar, sebagaimana diletakkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang dimaksudkan untuk membentuk cara berpikir kader HMI dalam memandang realitas keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Di sinilah dimensi teologis NDP menjadi penting:
”Iman tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi kesadaran etis dan tanggung jawab sosial”.
Dalam pemaparannya, Baharuddin Hafid menegaskan bahwa tradisi pemikiran Cak Nur menempatkan HMI sebagai organisasi yang berorientasi intelektual.
Intelektualitas ini bukan sekadar penguasaan wacana, melainkan keberanian berpikir kritis, keterbukaan terhadap perbedaan, serta kesanggupan merumuskan solusi atas problem umat dan bangsa.
Perbedaan orientasi kader HMI – antara jalur intelektual dan jalur politik – sejatinya bukanlah dikotomi yang saling meniadakan. Sejarah HMI justru memperlihatkan bahwa keduanya lahir dari satu rahim nilai yang sama.
Cak Nur dikenal dengan intelektualisme dan pembaruan pemikiran Islam, sementara tokoh-tokoh lain memilih jalur praksis politik. Namun, keduanya bertemu pada satu titik:
”Cita-cita luhur membangun kepemimpinan yang berakar pada nilai dan moralitas”.
Karena itu, kepemimpinan dalam HMI tidak boleh dipahami secara sempit. Memimpin HMI bukan sekadar mengelola struktur organisasi, apalagi menjadikannya batu loncatan pragmatis.
Kepemimpinan HMI menuntut kapasitas menyeluruh, dari kemampuan intelektual, ketajaman analisis sosial, hingga integritas moral.
Seorang kader HMI harus siap memimpin di ruang mana pun – akademik, sosial, politik, bahkan pemerintahan – dengan bekal nilai dan pengetahuan yang matang.
Tidak mengherankan jika HMI kerap melahirkan pemimpin publik di usia relatif muda. Namun, usia muda tidak pernah menjadi jaminan tanpa proses kaderisasi yang serius dan berorientasi nilai.
Di sinilah LK II menemukan maknanya sebagai ruang pendewasaan ideologis, bukan sekadar jenjang struktural.
Membaca ulang teologi NDP berarti menegaskan kembali bahwa HMI adalah rumah intelektual kader umat dan bangsa. Tanpa fondasi teologis dan intelektual yang kokoh, kepemimpinan akan mudah terjebak pada kekuasaan yang hampa nilai.
Sebaliknya, dengan NDP sebagai keyakinan standar, kader HMI diharapkan mampu menempatkan iman, ilmu, dan amal dalam satu tarikan napas perjuangan.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


