Oleh: Baharuddin Hafid (Dosen Tetap Universitas Megarezky Makassar)
INSAN.NEWS || Makassar,- 27 Januari 2026 – Kisah Ashabul Kahfi kerap dibaca sebagai dongeng religius tentang pemuda saleh yang tertidur ratusan tahun. Tafsir populer berhenti pada keajaiban durasi tidur, seolah mukjizat hanya terletak pada panjangnya waktu.
Padahal, jika dibaca secara tekstual dan teologis, Surah al-Kahfi justru mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar:
”Apakah mereka benar-benar tidur, atau justru ditidurkan”?
Al-Qur’an memberi isyarat yang tegas sejak awal narasi:
“Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu selama bertahun-tahun.” (QS. al-Kahfi: 11)
Frasa faḍarabnā ‘alā ādzānihim bukanlah idiom biologis tentang tidur biasa. Dalam tradisi bahasa Arab klasik, ungkapan ini menunjuk pada penghentian kesadaran secara total. Tafsir ath-Thabari dan al-Qurthubi memahami ayat ini sebagai intervensi langsung Tuhan:
”Allah menonaktifkan daya dengar – pintu utama kesadaran – agar para pemuda itu sepenuhnya terlepas dari dunia sekitarnya”.
Dengan kata lain, Ashabul Kahfi bukan sekadar tertidur, melainkan ditidurkan oleh kehendak ilahi.
Penegasan ini penting karena mengubah cara kita membaca kisah tersebut. Jika mereka hanya tidur, maka cerita ini sekadar keajaiban biologis.
Namun jika mereka ditidurkan, maka kisah Ashabul Kahfi adalah pernyataan teologis tentang kekuasaan Tuhan atas waktu, sejarah, dan politik penindasan.
Ayat berikutnya semakin menguatkan hal ini:
“Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur.” (QS. al-Kahfi: 18)
Tubuh mereka dijaga, posisi mereka dibolak-balik, bahkan lingkungan gua diatur sedemikian rupa. Semua detail ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan pasif, melainkan dirancang dan dikendalikan.
Tidur Ashabul Kahfi adalah tidur yang aktif secara ilahi – sebuah paradoks yang hanya masuk akal dalam kerangka rububiyah Allah.
Lebih dari itu, kisah ini mengandung pesan politik yang kerap luput. Para pemuda Ashabul Kahfi hidup di bawah rezim yang memaksakan keyakinan dan menghukum iman.
Dalam kondisi seperti itu, al-Qur’an tidak menghadirkan narasi perlawanan bersenjata atau revolusi terbuka. Yang terjadi justru sebaliknya:
”Tuhan menghentikan waktu mereka”.
Sejarah ditangguhkan, bukan dilawan secara frontal. Ketika mereka dibangunkan kembali, al-Qur’an menyebut alasannya secara eksplisit:
“Agar Kami mengetahui siapa di antara dua golongan yang lebih tepat menghitung berapa lama mereka tinggal.” (QS. al-Kahfi: 19)
Kebangkitan Ashabul Kahfi bukan demi nostalgia iman, melainkan sebagai ujian epistemologis bagi masyarakat:
“Sejauh mana manusia mampu membaca waktu, kebenaran, dan kuasa Tuhan”.
Mereka adalah āyat – tanda – bukan pahlawan dalam pengertian modern. Di titik inilah kisah Ashabul Kahfi menjadi relevan bagi zaman kita.
Ia mengkritik kecenderungan aktivisme yang memuja gerak tanpa hening, perlawanan tanpa kesabaran, dan keberanian tanpa kebijaksanaan.
Al-Qur’an seolah mengatakan: tidak setiap iman diuji dengan aksi;
”Sebagian diuji dengan penantian yang ditentukan Tuhan”.
Maka, Ashabul Kahfi bukan kisah tentang pemuda yang tertidur panjang, melainkan tentang iman yang diselamatkan dengan cara paling sunyi.
Ketika ruang sosial menjadi terlalu sempit bagi kebenaran, Allah tidak selalu membuka jalan perlawanan – kadang Ia justru menidurkan sejarah, lalu membangunkannya kembali pada saat yang paling tepat.
Dan barangkali, di tengah zaman yang bising oleh klaim kebenaran dan perebutan kuasa, pesan itulah yang paling kita butuhkan untuk direnungkan.
Allahu ‘a’lambissawab.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


