Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Ada manusia yang tidak pernah benar-benar miskin, kecuali dalam martabat. Menjual punggung sejawat demi receh bukanlah tindakan karena lapar, melainkan karena kehampaan etis.
Ia tahu apa yang dijual bukan miliknya sepenuhnya kepercayaan, persahabatan, dan kehormatan kolektif namun tetap melakukannya, sebab harga diri baginya memang tidak pernah mahal.
Pengkhianatan kecil selalu bersembunyi di balik alasan besar. Demi stabilitas, demi masa depan, demi “realitas”. Bahasa pragmatis itu bekerja seperti sabun; membersihkan rasa bersalah tanpa pernah membersihkan perbuatan.
Sebagaimana yang dikemukakan Buhari Fakkah dalam tulisannya, Senin (09/02/2026), di sinilah aforisme moral lahir kalimat singkat untuk menipu diri sendiri. Orang yang mengkhianati sejawat jarang mengaku tamak; ia lebih suka menyebut dirinya realistis.
Receh yang diterima memang nyata, tetapi nilainya hanya cukup untuk membeli ilusi kemenangan. Sebab pengkhianatan tidak pernah membayar lunas. Ia mencicil aib sepanjang hidup. Sekali punggung sejawat dijual, pelaku belajar satu hal penting; bahwa dirinya pun bisa dijual kapan saja, oleh siapa saja, dengan harga yang mungkin lebih murah.
Dalam komunitas yang sehat, pengkhianat adalah anomali. Namun dalam sistem yang rusak, ia justru menjadi teladan. Ketika kesetiaan dianggap naif dan integritas diejek sebagai kemewahan moral, maka pengkhianatan tampil sebagai kecerdikan.
Dunia seperti ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan orang yang berani menanggung konsekuensi moral dari kepintarannya.
Friedrich Nietzsche pernah menyindir manusia yang kehilangan nilai dengan menciptakan nilai-nilai kecil agar tetap merasa bermakna. Receh itulah nilai kecil itu. Ia memberi sensasi kuasa sesaat bagi jiwa yang gagal tumbuh.
Namun manusia yang hidup dari pengkhianatan sesungguhnya sedang menghukum dirinya sendiri; ia mengasingkan diri dari kepercayaan, dan hidup dalam kecurigaan yang ia ciptakan sendiri.
Aforisme terakhirnya sederhana siapa yang menjual punggung sejawat demi receh, maka dia sedang menyiapkan punggungnya sendiri untuk dijual kembali. Dan dunia yang membiarkan itu terjadi, sedang menawar kehancurannya dengan harga paling murah.
Sidenreng—Rappang, 09 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


