Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari)
INSAN.NEWS || Kendari—Di tengah dunia modern yang semakin dikuasai oleh bahasa, simbol, dan algoritma, manusia seakan terjebak dalam ilusi bahwa segala sesuatu bisa dipahami hanya dengan kata-kata.
Kita hidup dalam peradaban diskursif; dunia diurai menjadi teks, realitas menjadi narasi, dan kebenaran menjadi debat.
Dalam konteks inilah pemikiran Ludwig Wittgenstein tentang language games terasa sangat relevan—bahkan menggelisahkan.
Bagi Wittgenstein, makna bukanlah sesuatu yang berdiri di balik kata, melainkan lahir dari penggunaannya dalam praktik sosial. “Meaning is use.”
Bahasa tidak merepresentasikan realitas secara netral; ia adalah permainan dengan aturan-aturan yang disepakati komunitas.
Ikhsan AR menegaskan tulisannya, rabu (11/02/2026), kita tidak berbicara tentang dunia sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana cara kita memainkannya lewat bahasa.
Namun di sinilah problem epistemologis besar muncul; jika realitas hanya hadir dalam permainan bahasa;
Apakah masih mungkin berbicara tentang kebenaran yang melampaui diskursus?
Apakah manusia benar-benar hanya makhluk linguistik, atau ada dimensi pengetahuan yang lebih dalam, lebih sunyi, lebih eksistensial?
Di titik inilah filsafat Islam—melalui Mehdi Hairi Yazdi—masuk sebagai koreksi radikal. Yazdi menawarkan konsep ilmu hudhūrī, yakni pengetahuan kehadiran langsung, bukan representasi konseptual.
Kita tidak “mengetahui” diri kita lewat bahasa, melainkan mengalami diri kita secara langsung.
Aku tahu aku ada, bukan karena mendefinisikannya, tetapi karena aku hadir sebagai aku.
Dalam—The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy—Yazdi menegaskan bahwa pengetahuan paling fundamental bukanlah pengetahuan proposisional (knowing that), melainkan pengetahuan eksistensial (knowing by being).
Ini bukan bahasa tentang realitas, melainkan realitas yang menyingkap dirinya tanpa perantara.
Jika Wittgenstein membongkar ilusi bahasa sebagai jendela realitas, maka Yazdi mengembalikan kita pada kesadaran bahwa realitas terdalam justru tak pernah sepenuhnya terkatakan.
Ada wilayah pengetahuan yang hanya bisa dialami, bukan diargumentasikan.
Lalu di manakah posisi Muhammad Sabri dalam anyaman ini?
Muhammad Sabri—dalam berbagai tulisan dan kuliahnya—menempati posisi unik; ia tidak menolak kritik Wittgenstein terhadap bahasa, tetapi juga tidak terjebak dalam skeptisisme linguistik.
Sabri melihat bahwa krisis modern bukan sekadar krisis makna, melainkan krisis kesadaran. Kita terlalu sibuk memperdebatkan kebenaran, tetapi lupa mengalami kehadiran.
Bagi Sabri, ilmu hudhuri bukan sekadar konsep metafisika, melainkan jalan pembebasan eksistensial. Di era digital, manusia hidup dalam banjir tanda; notifikasi, status, caption, opini. Kita tahu segalanya, tetapi tidak mengalami apa pun secara mendalam.
Kita fasih berbicara tentang Tuhan, tetapi asing dengan kehadiran-Nya. Kita menguasai wacana spiritual, tetapi kehilangan pengalaman spiritual.
Di sinilah Sabri membaca ulang Wittgenstein secara kreatif; language games memang membentuk dunia sosial kita, tetapi ia tidak boleh menjadi penjara ontologis. Bahasa adalah jembatan, bukan rumah.
Ketika bahasa dikira sebagai realitas itu sendiri, manusia terasing dari dirinya, dari Tuhan, dan dari makna hidup.
Dengan bahasa Sabri, modernitas menderita over-knowledge but under-presence; terlalu banyak tahu, terlalu sedikit hadir.
Jika Wittgenstein mengingatkan bahwa “batas bahasaku adalah batas duniaku”, maka Yazdi dan Sabri menambahkan; “tetapi batas kehadiranku melampaui batas bahasaku.”
Ada dunia yang tidak bisa ditulis, hanya bisa dialami. Ada kebenaran yang tidak bisa diperdebatkan, hanya bisa dihidupi.
Dalam lanskap ini, ilmu hudhuri menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap peradaban algoritma. Ketika manusia direduksi menjadi data, klik, dan statistik, ilmu hudhuri mengingatkan bahwa manusia adalah kesadaran, bukan sekadar informasi.
Ketika kebenaran ditentukan oleh trending topic, ilmu hudhuri mengajarkan bahwa kebenaran sejati justru sering hadir dalam keheningan.
Maka anyaman Wittgenstein—Yazdi—Sabri bukanlah sekadar dialog filsafat, melainkan peta jalan eksistensial; dari bahasa menuju kehadiran, dari diskursus menuju kesadaran, dari permainan makna menuju pengalaman makna.
Barangkali krisis terbesar manusia modern bukanlah kekurangan pengetahuan, melainkan kehilangan kehadiran. Kita tahu terlalu banyak tentang dunia, tetapi terlalu sedikit tentang diri.
Kita berbicara terus-menerus tentang kebenaran, tetapi jarang tinggal bersama kebenaran.
Di zaman ketika semua orang bicara, mungkin tugas filsafat justru bukan menambah kata, melainkan mengantar manusia kembali kepada keheningan tempat makna pertama kali lahir.
Wallahu Ta’ala A’lam
Kendari—11 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


