Opinions

Banalitas Dusta dan Kenyamanan Kolektif dalam Demokrasi Prosedural elektoral ‎

Demokrasi
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Sabtu (14/02/2026). Foto Barsa

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang 

‎INSAN.NEWS || SidrapHannah Arendt, ketika meliput persidangan Adolf Eichmann, tidak menemukan monster. Ia menemukan manusia biasa. Bukan iblis bertanduk, melainkan birokrat patuh yang merasa hanya menjalankan tugas.

Dari sana lahir konsep the banality of evil bahwa kejahatan sering kali tidak lahir dari kebencian radikal, melainkan dari ketiadaan berpikir.

‎Dalam politik modern, kebohongan sering bekerja dengan cara yang sama. Ia tidak selalu dibela oleh orang jahat.

Ia dibela oleh orang biasa yang terlalu sibuk, terlalu takut, atau terlalu nyaman untuk berpikir radikal tentang konsekuensi moral dari sikapnya.

Liturgi Dusta dan Republik Para Penyembah Bayangan ‎

Mereka tidak merasa sedang merusak tatanan publik. Mereka merasa hanya sedang “mendukung,” “menjaga stabilitas,” atau “melawan musuh bersama.”

‎Di titik inilah kebohongan menjadi banal. Tidak dramatis. Tidak heroik. Hanya rutinitas.

‎Absurdnya, semakin sering dusta diulang, semakin ia terdengar normal. Jean Baudrillard menyebut zaman ini sebagai era simulakra di mana representasi lebih penting daripada realitas.

Politik bukan lagi pertarungan gagasan, tetapi pertunjukan citra. Pemimpin tidak dinilai dari kebenaran ucapannya, tetapi dari kemampuan mengelola persepsi. Dalam dunia seperti ini, kebohongan bukan kegagalan moral; ia adalah teknik manajemen narasi.

‎Lalu datanglah absurditas ala Albert Camus. Manusia sadar ada kontradiksi antara nilai dan kenyataan, tetapi tetap memilih hidup di dalamnya. Mereka tahu ada kebohongan, tetapi tetap bersorak.

Dari Language Games ke Ilmu Hudhuri: Menganyam Gagasan Wittgenstein—Mehdi Hairi Yazdi—Muhammad Sabri ‎

Mereka tahu ada manipulasi, tetapi tetap membela. Mengapa? Karena melawan berarti menghadapi keterasingan. Dan tidak semua orang siap menjadi asing di tengah kelompoknya sendiri.

‎Fanatisme, pada akhirnya, bukan sekadar loyalitas. Ia adalah ketakutan eksistensial untuk kehilangan makna. Ketika identitas politik menjadi sumber harga diri, kritik terhadap pemimpin terasa seperti kritik terhadap diri sendiri. Maka membela dusta menjadi cara mempertahankan eksistensi.

‎Yang paling ironis; banyak dari mereka yang membela kebohongan menganggap diri sedang membela moralitas. Mereka merasa benar, bahkan suci.

Inilah tragedi Arendtian ketika seseorang berhenti berpikir secara reflektif, ia bisa melakukan atau membenarkan apa saja tanpa merasa bersalah.

‎Dan di tengah semua itu, masyarakat perlahan terbiasa. Kebohongan tidak lagi mengagetkan. Ia hanya menjadi satu berita lagi. Satu klarifikasi lagi. Satu pembelaan lagi. Sensitivitas moral menurun seperti inflasi nilai tukar integritas.

Invasi Terhadap Suatu Negara Berdaulat, Degradasi dan Melemahnya PBB dan Hukum Internasional

‎Namun sejarah memiliki kecenderungan yang tak bisa dinegosiasikan; realitas selalu menagih. Kebohongan mungkin, membangun istana persepsi, tetapi ia berdiri di atas pasir.

Ketika badai fakta datang, cepat atau lambat yang runtuh bukan hanya citra pemimpin, tetapi juga harga diri kolektif para pembelanya.

Dan mungkin di situlah momen paling menyakitkan; bukan ketika kebohongan terungkap, tetapi ketika para pembelanya menyadari bahwa selama ini mereka tidak sedang membela kebenaran, mereka hanya takut sendirian.

‎Pertanyaan akhirnya bukan politis, melainkan eksistensial; Apakah kita cukup berani untuk berpikir sendiri, meski harus kehilangan barisan?

‎Sidenreng—Rapang,14 Februari 2026

‎INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement