Opinions

Piring Retak Koalisi: Prabowo Lem Piring Retak atau Cuci Piring

IMG 20260214 141733 698
Baharuddin Hafid - Dosen tetap Universitaz Megatezky Makassar Dan Instruktur NDPers Nasional. Sabtu (14/02/2026). Foto Ist

Oleh: Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

INSAN.NEWS || Makassar—Politik Indonesia pasca Pilpres 2024 menyisakan satu metafora menarik; piring retak. Koalisi besar yang mengantar kemenangan Prabowo Subianto ibarat satu set perjamuan megah—ramai, gemerlap, tetapi menyimpan garis-garis retak akibat kontestasi panjang dan tarik-menarik kepentingan.

‎Pertanyaannya; Apakah Prabowo akan menjadi “tukang lem” yang merekatkan retakan, atau justru “tukang cuci piring” yang membersihkan ulang komposisi kekuasaan?

‎Koalisi Gemuk: Stabilitas atau Potensi Friksi?

‎Sejak awal, arsitektur kekuasaan Prabowo dibangun di atas koalisi besar yang melibatkan partai-partai dari spektrum nasionalis hingga religius.

Banalitas Dusta dan Kenyamanan Kolektif dalam Demokrasi Prosedural elektoral ‎

‎Di atas kertas, koalisi gemuk menjanjikan stabilitas parlemen. Dengan dukungan mayoritas kursi, agenda legislasi relatif aman dari guncangan oposisi formal.

‎Namun, sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa koalisi besar kerap menyimpan paradoks; Stabil di luar, bergetar di dalam. 

‎Pada era Joko Widodo, koalisi juga melebar, tetapi ketegangan tetap muncul dalam isu pembagian kursi, kebijakan ekonomi, hingga suksesi kepemimpinan partai.

‎Koalisi Prabowo mewarisi bukan hanya dukungan, tetapi juga ekspektasi. Ada partai yang berharap jatah strategis, ada pula yang ingin menjaga identitas ideologisnya agar tidak larut dalam pragmatisme kekuasaan.

‎Di titik inilah “retak” itu tampak; bukan retak struktural, tetapi retak kepentingan.

Liturgi Dusta dan Republik Para Penyembah Bayangan ‎

‎Lem Politik; Akomodasi dan Konsolidasi

‎Jika Prabowo memilih “lem piring retak”, maka strategi utamanya adalah akomodasi.

‎Pembagian portofolio kementerian yang proporsional, distribusi proyek strategis nasional, dan komunikasi politik intensif menjadi instrumen perekat.

‎Gaya kepemimpinan Prabowo yang cenderung militeristik—tegas dan hierarkis—akan diuji dalam ruang koalisi yang penuh ego sipil. Konsolidasi bukan sekadar soal jatah kursi, tetapi juga narasi bersama; Apakah rezim ini sekadar kelanjutan teknokratis atau menawarkan lompatan ideologis?

‎Di sinilah posisi Gibran Rakabuming Raka menjadi variabel penting. Sebagai representasi kesinambungan dengan era Jokowi sekaligus simbol generasi baru, Gibran bisa menjadi jembatan atau justru titik sensitif dalam dinamika internal.

Dari Language Games ke Ilmu Hudhuri: Menganyam Gagasan Wittgenstein—Mehdi Hairi Yazdi—Muhammad Sabri ‎

Cuci Piring: Restrukturisasi Koalisi?

‎Sebaliknya, “cuci piring” berarti keberanian melakukan rasionalisasi koalisi. Tidak semua partai harus selalu berada di lingkar dalam. Politik modern menuntut efektivitas, bukan sekadar kuantitas dukungan.

‎Langkah ini tentu berisiko. Mengurangi porsi partai tertentu bisa memicu manuver di parlemen atau penggiringan opini publik. Namun, dalam jangka panjang, koalisi yang lebih ramping berpotensi lebih solid dan terkontrol.

‎Sejarah menunjukkan bahwa presiden dengan legitimasi elektoral kuat memiliki ruang untuk menata ulang peta koalisi.

‎Pertanyaannya; Apakah Prabowo akan menggunakan mandat rakyat untuk memperkuat disiplin koalisi, atau memilih menjaga harmoni semu demi stabilitas jangka pendek?

Ujian Sesungguhnya: Ekonomi dan Oposisi Moral

‎Retak terbesar koalisi bukan hanya soal kursi, tetapi soal kebijakan. Jika ekonomi melambat, harga pangan naik, atau kebijakan fiskal tak populer, friksi internal akan menguat. Partai-partai akan mulai menjaga jarak demi keselamatan elektoral 2029.

‎Selain itu, oposisi formal yang kecil bukan berarti oposisi hilang. Oposisi moral bisa muncul dari masyarakat sipil, kampus, dan kelompok keagamaan. Dalam konteks ini, soliditas koalisi diuji bukan hanya oleh elite, tetapi oleh tekanan publik.

Penutup: Politik sebagai Seni Merawat Retakan

‎Dalam tradisi Jepang, ada seni kintsugi: memperbaiki keramik retak dengan emas, sehingga retakan menjadi bagian dari estetika. Mungkin di situlah Prabowo diuji—apakah ia mampu menjadikan retakan sebagai energi konsolidasi, bukan sumber pecahnya piring kekuasaan.

‎Lebih mendalam penjelasan tulisan resminya Bahar, Sabtu (14/02/2026), bahwa koalisi besar selalu menggoda, tetapi juga rawan rapuh. Lem atau cuci piring—keduanya membutuhkan keberanian. Yang jelas, politik bukan soal menghindari retak, melainkan bagaimana merawatnya agar tidak pecah sebelum jamuan selesai.

‎Dan sejarah akan mencatat; Apakah Prabowo sekadar pewaris meja makan lama, atau arsitek dapur politik baru Indonesia.

Makassar—14 Februari 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement