By: Samsir Salam, S.Ag.,MH (Ketua Bawaslu Pangkep/Mantan Ketum HMI Cab. Gowa Raya)
Catatan ini hadir sebagai upaya Konsolidasi Demokrasi Bawaslu Pasca Pemilu dalam rangka perbaikan demokrasi
INSAN.NEWS || Pangkep—Demokrasi lahir dari keyakinan bahwa suara rakyat memiliki makna yang luhur. Demokrasi bukan sekadar angka dalam perhitungan politik, melainkan ekspresi harapan dan tanggung jawab warga negara terhadap masa depan bersama.
Dalam perspektif agama, suara itu dapat dipahami sebagai amanah—sesuatu yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan sesama manusia, tetapi juga di hadapan Tuhan.
Dalam perjalanan demokrasi kita, tegas Samsir dalam tulisan resminya, Ahad (15/02/2026), bahwa terdapat dinamika yang patut menjadi bahan perenungan bersama.
Praktik politik yang bersifat transaksional, dalam berbagai bentuknya, berpotensi menggeser orientasi demokrasi dari ruang pertukaran gagasan menuju pendekatan yang lebih pragmatis.
Situasi ini tidak selalu lahir dari niat yang keliru, tetapi sering kali dari kebiasaan yang dibiarkan tumbuh tanpa disadari dampak jangka panjangnya.
Di hulu, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara pemilih memaknai pilihannya. Pertimbangan program, kapasitas, dan integritas berisiko tersisih oleh pertimbangan sesaat.
Padahal, demokrasi yang sehat mensyaratkan pilihan yang lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan atau ketergantungan. Ketika ruang refleksi menyempit, pemilu berisiko dipersepsikan sekadar sebagai rutinitas, bukan sebagai momentum menentukan arah kehidupan bersama.
Di hilir, tantangannya tidak kalah besar. Kepemimpinan yang lahir dari proses yang kurang sehat berpotensi menghadapi beban kepercayaan publik. Bukan karena individu semata, melainkan karena ekspektasi yang menyertai proses tersebut.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kualitas kebijakan dan pelayanan publik, serta kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi itu sendiri.
Sebagai bagian dari penyelenggara pemilu, saya memandang bahwa tugas ini bukan hanya soal memastikan tahapan berjalan sesuai aturan, tetapi juga merawat makna demokrasi itu sendiri.
Pengawasan, pencegahan, dan edukasi pemilih merupakan ikhtiar untuk menjaga agar proses demokrasi tetap berada dalam koridor kejujuran dan keadilan. Namun saya juga menyadari, sekuat apa pun aturan, demokrasi tidak akan tumbuh tanpa kesadaran para pelakunya.
Di titik inilah nilai-nilai keagamaan dan kebijaksanaan para tokoh bangsa menjadi relevan sebagai pengingat. Mohammad Hatta pernah menegaskan bahwa demokrasi memerlukan kejujuran dan tanggung jawab moral agar tidak kehilangan ruhnya.
Sementara Abdurrahman Wahid mengingatkan bahwa demokrasi pada hakikatnya adalah cara memanusiakan manusia.
Karena itu, upaya menjaga demokrasi dari praktik transaksional sebaiknya dipahami sebagai ikhtiar bersama, bukan beban satu pihak.
Peserta pemilu dituntut berkompetisi secara bermartabat, pemilih diajak memaknai suaranya sebagai amanah, dan penyelenggara pemilu terus berupaya menjaga integritas serta kepercayaan publik.
Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya diukur dari seberapa sering kita memilih, melainkan dari kesadaran dan nilai yang menyertai pilihan itu.
Selama suara masih diperlakukan sebagai amanah—bukan semata sebagai harga—demokrasi memiliki ruang untuk tumbuh secara sehat, beradab, dan memberi kebaikan bagi semua.
Pangkajene— Kepulauan,15 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


