Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari)
INSAN.NEWS || Kendari—Di tengah dunia yang serba cepat, manusia modern hidup dalam paradoks; teknologi semakin canggih, tetapi jiwa semakin rapuh.
Notifikasi tak pernah berhenti, informasi datang bertubi-tubi, standar kesuksesan dipertontonkan setiap detik di layar gawai.
Kita terkoneksi dengan banyak orang, tetapi sering merasa kosong dan terasing. Kegelisahan menjadi teman harian—cemas akan masa depan, takut tertinggal, khawatir tak diakui.
Dalam lanskap seperti ini, dzikir sering dianggap sebagai praktik tradisional yang jauh dari problem modern. Padahal justru di sinilah letak relevansinya. Dzikir bukan sekadar repetisi lafaz, melainkan terapi eksistensial yang menyentuh akar kegelisahan manusia.
Al-Qur’an memberikan pernyataan tegas dalam QS. Ar-Ra’d: 28:
*أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ*
Alā bi dzikrillāhi tathma’innul qulūb
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa ketenangan datang dari kekayaan, pengakuan sosial, atau validasi digital. Ia menegaskan bahwa sumber ketenteraman adalah koneksi dengan Yang Transenden. Kegelisahan modern pada dasarnya adalah krisis keterhubungan—bukan dengan internet, tetapi dengan Tuhan.
Para ulama klasik telah lama membaca fenomena ini secara spiritual. Abu Hamid al-Ghazali menyebut hati yang lalai sebagai hati yang sakit. Penyakit itu bernama ghaflah—lupa kepada Allah.
Ketika manusia lupa kepada pusat maknanya, ia akan mencari pengganti; popularitas, materi, atau pujian. Namun semua itu bersifat sementara. Dzikir mengembalikan orientasi hati pada sumber ketenangan sejati.
Demikian pula Ibn Qayyim al-Jawziyya menggambarkan dzikir seperti air bagi ikan. Tanpa air, ikan mati. Tanpa dzikir, hati kehilangan vitalitasnya. Dalam konteks hari ini, kita bisa mengatakan; tanpa kesadaran spiritual, manusia tenggelam dalam arus distraksi.
Ulama kontemporer Indonesia juga membaca dzikir secara kontekstual. M. Quraish Shihab menafsirkan ketenangan hati sebagai hasil keyakinan akan kebijaksanaan Allah. Artinya, dzikir membangun cara pandang baru; bahwa hidup bukan sekadar kompetisi, melainkan amanah.
Sementara Buya Hamka melihat keresahan modern sebagai akibat hilangnya tujuan hidup.
Linear dengan itu Muhammad Sabri mendaku bahwa dzikir bukan hanya ibadah individual, tetapi strategi peradaban—membangun manusia yang cerdas, reflektif, dan berkesadaran tauhid di tengah tantangan modernitas. Dzikir memulihkan orientasi itu—dari dunia—sentris menjadi Allah—sentris.
Menariknya, sains modern mulai menemukan apa yang telah lama diajarkan spiritualitas. Pengulangan kalimat dengan kesadaran penuh dapat menenangkan sistem saraf, menurunkan hormon stres, dan memperlambat ritme napas.
Namun dzikir bukan sekadar teknik relaksasi. Ia bukan hanya soal tenang, tetapi soal makna. Ia bukan hanya menurunkan kecemasan, tetapi meninggikan kesadaran.
Dalam dunia digital, dzikir bisa menjadi bentuk spiritual detox. Ketika jempol ingin terus menggulir layar, kita bisa menggantinya dengan tasbih. Ketika pikiran dipenuhi overthinking, kita bisa melafalkan la ilaha illallah dengan kesadaran mendalam.
Ketika hati merasa sempit, kita bisa mengulang—hasbunallahu wa ni‘mal wakil. Perlahan, ritme batin berubah. Kita tidak lagi dikendalikan oleh algoritma, tetapi dituntun oleh kesadaran Ilahi.
Kegelisahan modern sebenarnya adalah sinyal. Ia mengingatkan bahwa jiwa membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hiburan dan pengakuan.
Dzikir adalah jawaban yang lembut namun kuat. Ia mengajarkan bahwa ketenangan bukan ditemukan di luar, tetapi ditumbuhkan di dalam—di ruang sunyi antara hamba dan Tuhannya.
Mungkin inilah yang perlu kita renungkan; di tengah kebisingan dunia, kita tidak kekurangan suara. Kita kekurangan keheningan. Dan dzikir adalah keheningan yang berbicara—menguatkan hati, menata pikiran, dan mengembalikan manusia pada pusat eksistensinya.
Sebab pada akhirnya, kegelisahan bukan tanda bahwa kita lemah. Ia tanda bahwa hati sedang mencari jalan pulang. Dan dzikir adalah kompasnya.
Wallahu A’lam bi al-Shawwab
Kendari—23 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


