News

Soft Provocative dan Revolusi Perut: Ketika Ruang Komunal Menjadi Panggung “Pesta Babi” Sosial

Babi
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Selasa (12/05/2026). Foto Ist

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang

INSAN.NEWS || Sidrap—Demokrasi modern tidak selalu bergerak melalui pidato besar, debat ideologis, atau perebutan kekuasaan secara terbuka.

Dalam banyak kasus, politik justru bekerja lebih halus, lebih santai, dan lebih akrab. Ia masuk melalui ruang-ruang sosial sehari-hari: kumpul rutin, jalan-jalan bersama, makan bersama, lalu perlahan membangun loyalitas informal yang dibungkus atas nama kebersamaan.

Di titik inilah soft provocative bekerja—provokasi lunak yang tidak terasa sebagai konflik, tetapi pelan-pelan membangun pengaruh dan fragmentasi sosial dari dalam.

Fenomena ini mengingatkan pada simbolisme yang belakangan viral melalui film Pesta Babi. Terlepas dari kontroversinya, istilah “pesta babi” secara metaforis dapat dibaca sebagai gambaran tentang kerumunan yang larut dalam euforia kolektif tanpa lagi peduli pada substansi moral maupun arah sosialnya.

Siswi SMAN 1 Bulukumba Wakili Sulsel di FLS3N, Afira Target Tembus Nasional

Semua tampak cair, akrab, penuh tawa, tetapi diam-diam sedang berlangsung konsolidasi kepentingan yang bekerja melalui kenyamanan sosial dan politik perut.

Dalam perspektif Antonio Gramsci, dominasi modern tidak selalu dibangun lewat kekerasan, melainkan melalui hegemoni yakni kemampuan membentuk persetujuan sosial secara perlahan hingga masyarakat menganggap sesuatu yang sebenarnya problematis sebagai hal biasa.

Karena itu, pengaruh paling efektif sering tidak datang melalui intimidasi, melainkan melalui kedekatan emosional dan penguasaan ruang sosial sehari-hari.

Di lingkungan sosial perkotaan, pola seperti ini semakin mudah ditemukan. Ruang komunal yang seharusnya netral perlahan berubah menjadi arena konsolidasi kelompok tertentu.

Identitas lingkungan dipakai sebagai simbol legitimasi, sementara aktivitas sosial diarahkan untuk membangun jaringan loyalitas informal.

Ketua TP PKK Makassar Luncurkan Program Goes to School, Edukasi Pengelolaan Sampah di SMP Makassar

Semua dilakukan tanpa deklarasi politik yang vulgar. Tidak ada pidato keras. Tidak ada perebutan terbuka. Yang ada hanyalah suasana santai, basa-basi hangat, dan budaya traktiran yang perlahan meninabobokan kesadaran kritis masyarakat.

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut fenomena ini sebagai perebutan modal sosial. Kedekatan, pertemanan, dan relasi informal dapat diubah menjadi instrumen kekuasaan.

Orang yang menguasai interaksi sosial akan memperoleh legitimasi simbolik, bahkan tanpa otoritas formal. Akibatnya, pengaruh tidak lagi dibangun melalui kapasitas atau mekanisme organisasi yang sehat, tetapi melalui jaringan kenyamanan sosial.

Yang lebih ironis, sebagian masyarakat sering tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi bagian dari proses mobilisasi kepentingan. Politik perut memang selalu lebih cepat bekerja daripada politik kesadaran.

Cukup dengan rasa diterima, diajak berkumpul, atau diberi ruang pergaulan, banyak orang akhirnya kehilangan jarak kritis terhadap agenda yang sedang dimainkan.

Konsultasi ke Kemendagri Berbuah Restu, Seleksi Direksi PDAM Makassar Lanjut Tanpa Ulang Proses

Loyalitas pun berubah menjadi hubungan pragmatis bukan lagi berbasis nilai, melainkan berbasis kenyamanan.

Kondisi inilah yang melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “pesta babi sosial”: kerumunan pragmatis yang larut dalam euforia kebersamaan sambil perlahan kehilangan sensitivitas terhadap batas antara solidaritas warga dan kolonisasi ruang komunal oleh kepentingan tertentu.

Semua tampak guyub di permukaan, tetapi diam-diam sedang tumbuh fragmentasi sosial dan sistem loyalitas informal yang berpotensi merusak kohesi bersama.

Filsuf Herbert Marcuse pernah mengingatkan bahwa masyarakat modern sering merasa bebas padahal sebenarnya sedang diarahkan secara halus melalui kebutuhan-kebutuhan semu.

Dalam konteks ini, masyarakat tidak lagi digerakkan oleh kesadaran kritis, tetapi oleh rasa nyaman dan ketergantungan sosial yang diproduksi terus-menerus. Politik akhirnya kehilangan dimensi etiknya dan berubah menjadi sekadar kompetisi pengaruh berbasis kedekatan.

Karena itu, ancaman terbesar bagi ruang sosial hari ini bukan selalu konflik terbuka atau kekerasan politik, melainkan normalisasi soft provocative yang bekerja diam-diam melalui budaya basa-basi, loyalitas semu, dan politik kenyang.

Sebab sejarah menunjukkan, pengaruh paling efektif memang tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan.

Kadang ia hadir sambil tersenyum, mengajak berkumpul, lalu perlahan mengambil ruang bersama atas nama kebersamaan itu sendiri.

Sidenreng Rappang—12 Mei 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda ‎Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement