Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR Daeng Mabela, M.Ag.
(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Selayar 2004-2009 dan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara)
Prof. Dr. Muhammad Sabri AR Daeng Biseang, M.A.
(Wakil Ketua PD Muhammadiyah Selayar 1995-2000 dan Anggota Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan 2000-2005)
INSAN.NEWS || Kepulauan Selayar—Sejarah, tidak hanya berkisah perihal peristiwa dalam detak waktu (kronika), tapi juga jejak sebilah pergumulan pemikiran, gerakan, dan harapan (genealogika).
Sejarah Muhammadiyah di Kepulauan Selayar pun tidak lahir dari ruang hampa sosial-budaya, tentu. Ia tumbuh mekar dari rahim masyarakat, dari keberanian dan kegairahan para ulama dan tokoh lokal yang menyambut gagasan pembaruan pemikiran Islam, lalu menjelma gerakan nyata dalam ruang sejarah.
Dalam narasi sejarah lokal Muhammadiyah yang sejauh ini berkembang, A.G.H. Hayyung tampil sebagai tokoh sentral. Namun, sejarah yang hanya menempatkan satu nama berisiko mengaburkan kenyataan bahwa sebuah gerakan tidak pernah dibangun seorang diri.
Di antara nama yang patut mendapatkan tempat lebih terang dalam ruang sejarah lokal itu adalah A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang, seorang tokoh yang dalam tradisi kekerabatan berakar usul dari Saluk Lambongang.
Dalam sumber sejarah otentik disebutkan bahwa beliau sebagai salah seorang tokoh penting yang seiring sejalan dan bergerak bersama dengan perjuangan A.G.H. Hayyung dalam mengembangkan gagasan pembaruan dan pemikiran Muhammadiyah di Selayar.
Sebuah penelitian tentang jaringan Muhammadiyah Selayar mencatat nama A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang di antara tokoh-tokoh seperti Manggalatung Daeng Pasolong, H. Adam, H. Bontona, H. Idris, Safaruddin, dan Abdul Hamid. Para tokoh tersebut disebut bersama A.G.H. Hayyung telah menyulut dan menggelorakan gagasan pembaruan Islam dan menjadi bagian tak terpisahkan dari “ruang musyawarah” mengenai berbagai persoalan gerakan perjuangan dan dakwah dalam menentang kezaliman kolonialisme Belanda di Bumi Tanadoang.
Di titik inilah sejarah menjadi lebih terang dan mencerahkan.
Hayyung memang penting, tetapi Hayyung tidak sendirian.
Dari Saluk Lambongang Nafas Perjuangan Mekar
Ada segaris cahaya yang memandu ketika kita menyusuri jejak sejarah dari sebuah pelosok di pundak Pulau Selayar: Saluk Lembongang.
Nama Saluk Lambongang mungkin tidak terlalu dikenal dalam peta besar sejarah Indonesia. Tetapi dari tempat seperti itulah sejarah sering kali tumbuh mekar dan memercikkan cahaya pencerahan.
Sejarah tidak selalu lahir dari ibu kota.
Ia dapat lahir dari kampung, dari surau, dari rumah seorang ulama, dari percakapan antartokoh, bahkan dari perjalanan senyap seorang guru dari satu tempat ke tempat lain.
Dalam konteks itulah sejarah perjuangan dan gerakan dakwah A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang diletakkan.
Menurut kesaksian keluarga yang diwariskan turun-temurun, beliau berasal dari Saluk Lambongang. Keterangan ini memiliki nilai tersendiri karena datang dari ingatan keluarga dan keturunan langsung sebagai penuturan otentik.
Namun, secara akademik, kesaksian tersebut perlu terus “didialogkan”dengan sumber tertulis dan arsip sejarah. Dengan keterbatasan arsip sejarah tertulis yang ada, kehadiran sumber-sumber otentik dari tradisi lisan keluarga dan kesaksian sejumlah tokoh patut menjadi rujukan dalam penulisan sejarah.
Justru di situlah keunikan sejarah lokal.
Ingatan keluarga tidak boleh dianggap remeh, tetapi juga harus diuji secara kritis.
Sebab bisa jadi, di balik ingatan sebuah keluarga tersimpan serpihan sejarah yang belum sempat ditulis oleh para sejarawan.
Hayyung Tidak Sendirian
Kita sering menulis sejarah dalam format yang terlalu sederhana dan pejal:
A.G.H. Hayyung → Muhammadiyah Selayar.
Padahal, sejarah sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Sebuah gagasan baru membutuhkan manusia yang bersedia menerimanya.
Sebuah organisasi membutuhkan jaringan.
Sebuah sekolah membutuhkan guru.
Sebuah gerakan dakwah membutuhkan penganjur, dai, dan masyarakat.
Dan sebuah gerakan membutuhkan jejaring dan kawan seperjuangan.
Karena itu, A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang penting ditempatkan dalam peta bumi jaringan sosial pembaruan Islam Selayar.
Sumber sejarah yang ada menyebut beliau bersama sejumlah tokoh lokal lainnya sebagai orang-orang yang seiring sejalan dan senafas juang bersama A.G.H. Hayyung. Mereka bahkan menjadi tempat A.G.H. Hayyung bermusyawarah mengenai aneka persoalan yang muncul dalam gerakannya.
Keterangan ini sangat penting.
Sebab kata “bermusyawarah” menunjukkan bahwa hubungan mereka bukan sekadar hubungan struktur formal antara pemimpin dan pengikut.
Tapi Ada dialog. Ada ruang “egaliter” dalam merancang bersama garis perjuangan dan misi dakwah pembaruan.
Ada pertukaran pikiran. Percakapan eklektika, juga dialektika.
Ada persoalan yang dibahas bersama.
Ada kesediaan untuk mengambil risiko bersama dalam menyulut api perjuangan menentang kolonialisme yang telah menggurita sekian lama di Bumi Tanadoang.
Dengan demikian, lebih tepat jika A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang dikenang sebagai kawan seperjuangan dan salah seorang pemuka pendakwah dalam jaringan awal pembaruan pemikiran Islam dan Muhammadiyah di Selayar.
Ketika Pembaruan Menyeberangi Laut
Muhammadiyah di Sulawesi Selatan berkembang melalui jaringan dan tali temali yang amat panjang.
Makassar menjadi salah satu pusat penting perkembangan gerakan dakwah dan perjuangan ini. Dari sana, gagasan pembaruan bergerak menuju berbagai daerah.
Selayar, dengan karakter kepulauannya yang khas dan tipikal, tentu memiliki dinamika tersendiri.
Tetapi laut tidak selalu menjadi pemisah.
Dalam sejarah masyarakat kepulauan, laut justru menjadi jalan perjumpaan dan ruang “refleksi” kosmologis serta permenungan yang bening.
Gagasan bergerak bersama manusia.
Pedagang menggenggam perkabaran.
Ulama membawa ilmu.
Pelajar menyauk pengalaman dan kearifan.
Dan para tokoh lokal menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bahasa masyarakatnya sendiri yang lebih “membumi” dan kontekstual.
Di sinilah peran tokoh seperti A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang menjadi penting.
Sebuah gagasan yang datang dari luar tidak akan menjadi gerakan lokal jika tidak menemukan *agen kebudayaan dan kesaksian di tengah masyarakat*.
Hayyung dan kawan-kawannya adalah bagian dari proses tersebut.
Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi
Kesalahan terbesar dalam membaca sejarah Muhammadiyah adalah melihatnya hanya sebagai sejarah struktur organisasi.
Padahal Muhammadiyah adalah sejarah pergulatan ide, manusia, pendidikan, dakwah, perjuangan menentang kolonialisme, dan juga perubahan sosial.
Ia membawa semangat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Ia mengkritik praktik keagamaan yang dianggap tidak memiliki akar yang kuat dalam tradisi nubuwah. Meski terkesan pejal, tapi itulah pilihan sejarah Muhammadiyah.
Ia membangun pendidikan.
Ia mendirikan sekolah.
Ia mengembangkan kegiatan sosial.
Ia membangun kesadaran baru tentang pentingnya ilmu pengetahuan.
Ia membangun akar dan jejaring dakwah untuk pencerahan Islam dan sosial.
Dan di Selayar, gagasan itu menemukan para penggeraknya.
Karena itu, perjuangan A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang harus dilihat dalam konteks yang lebih besar:
ia bukan sekadar membantu sebuah organisasi berkembang: ia ikut membantu sebuah cara berpikir baru menemukan tempat yang tepat dalam jantung tradisi masyarakat, ia bersama kawan seperjuangan menerbitkan kesadaran baru: “Islam sebagai kekuatan pengubah”.
Dari Dakwah ke Peradaban
Muhammadiyah memiliki filosofi yang sederhana tetapi revolusioner:
agama harus melahirkan amal.
Iman tidak cukup disimpan di dalam pualam hati.
Ia harus menjadi tindakan.
Ilmu tidak cukup menjadi pengetahuan.
Ia harus menjadi pencerahan.
Dakwah tidak cukup menjadi ceramah.
Ia harus menjadi api perubahan sosial. Di titik inilah Islam menjelma “kekuatan pengubah” yang sangat kuat.
Jika semangat ini kita gunakan untuk membaca perjuangan generasi awal Muhammadiyah Selayar, maka kita dapat memahami mengapa jaringan tokoh lokal menjadi begitu penting.
Mereka tidak hanya berbicara tentang Islam.
Mereka berusaha *menghidupkan Islam dalam nafas kehidupan masyarakat*.
Mengapa Nama-Nama Lokal Harus Dikembalikan?
Ada persoalan penting dalam historiografi kita.
Sejarah sering ditulis berdasarkan nama-nama “besar.”
Akibatnya, orang-orang yang bekerja di belakang layar menghilang, lenyap dimangsa waktu.
Padahal, setiap tokoh besar biasanya memiliki jaringan manusia yang menopang misi besar: mencerahkan masyarakat dan mengusir kolonialisme melalui kobaran api Islam.
Maka sudah waktunya sejarah Muhammadiyah Selayar tidak hanya bertanya:
“Siapa A.G.H. Hayyung?”
Tetapi juga bertanya:
“Siapa saja yang berjalan bersama, seiring senafas juang dengan Hayyung?”
Pertanyaan kedua inilah yang membuka ruang bagi nama A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang, dan tokoh lokal lainnya.
Sebab, mungkin masih banyak nama lain yang belum tertulis.
Mereka mungkin tidak pernah menjadi ketua dalam organisasi persyarikatan Muhammadiyah.
Tidak memiliki gelar akademik.
Tidak pernah difoto dalam kongres.
Tidak menulis buku.
Tetapi mereka menyediakan rumah untuk pengajian.
Mengumpulkan masyarakat.
Mendidik anak-anak.
Menjadi penghubung antar kampung.
Menyebarkan dan menjaga spirit gagasan dakwah dan api pembaruan Muhammadiyah agar tetap terjaga sebagai medium pencerahan masyarakat dan konsolidasi para pejuang mengusir kolonialisme.
Di ruang sadar ini, kita sejatinya membutuhkan penelusuran jejak sejarah sungguh-sungguh dari para sejarawan.
Sejarah Muhammadiyah adalah sejarah mereka juga.
Biografi yang Belum Selesai
Sebagai salah seorang cucu A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang, kami memandang bahwa tugas generasi sekarang bukan sekadar membanggakan leluhur.
Lebih dari itu, kita mempunyai kewajiban etik dan intelektual untuk *mencari, memeriksa, dan menuliskan jejak mereka dengan jujur*.
Jika keluarga menyimpan cerita dan kisah, dokumentasikan.
Jika ada foto, arsipkan.
Jika ada surat, selamatkan.
Jika ada kitab peninggalan, catat.
Jika ada makam, dokumentasikan.
Jika masih ada orang tua yang pernah mendengar cerita tentang beliau, wawancarai.
Sebab ketika satu generasi wafat tanpa meninggalkan sebilah catatan, sebagian sejarah ikut terkubur.
Dalam konteks inilah tradisi lisan keluarga menjadi penting.
Bukan untuk menggantikan penelitian sejarah, tetapi untuk *melengkapinya*.
Dari Seorang Kakek Menjadi Warisan Sejarah
Ada dimensi yang sangat personal dalam kisah ini.
Bagi keluarga, A.G. H. Abdul Fattah Daeng Biseang tentu bukan sekadar nama dalam buku sejarah.
Ia adalah ayah.
Ia adalah kakek.
Ia adalah leluhur.
Tetapi bagi masyarakat Selayar, mungkin ia harus ditempatkan lebih luas:
sebagai bagian dari generasi awal yang ikut menanam benih pembaruan Islam dan menyulut api perjuangan menentang kolonialisme.
Dan bagi Muhammadiyah, A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang layak dikenang sebagai salah seorang tokoh lokal yang bersama A.G.H. Hayyung ikut menyemai gerakan dakwah Muhammadiyah dan menentang cengkeraman kolonialisme di Tanadoang.
Di sinilah sejarah keluarga bertemu dengan sejarah organisasi.
Yang semula hanya menjadi kisah dan percakapan hangat di ruang keluarga, perlahan dapat menjadi bagian dari *memori kolektif Muhammadiyah dan perjuangan di Selayar*.
Menjahit Kembali Ingatan yang Terputus
Ada ironi dalam sejarah.
Para pendahulu bekerja keras agar sebuah gerakan memiliki masa depan.
Tetapi generasi berikutnya kadang justru melupakan siapa yang pertama kali menanam benihnya.
Karena itu, menulis sejarah A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang bukan sekadar “mencatat” usaha pengabdian seorang tokoh.
Ia adalah usaha *menjahit kembali ingatan yang terputus*.
Dari Saluk Lambongang.
Ke Batangmata.
Ke jaringan Hayyung.
Ke Muhammadiyah.
Ke gerakan perjuangan.
Ke sekolah-sekolah.
Ke generasi-generasi berikutnya.
Dan akhirnya sampai kepada kita hari ini.
Epilog: Sang Surya Tidak Terbit Sendirian
Lambang Muhammadiyah adalah Sang Surya.
Matahari tidak pernah terbit karena satu helai sinar.
Ia memancarkan sinar yang menyebar ke segala arah.
Begitu pula sebuah gerakan.
Tidak ada perjuangan besar yang dibangun seorang diri.
A.G.H. Hayyung adalah salah satu sinar matahari dalam sejarah pembaruan Islam Selayar. Tetapi di sekelilingnya ada banyak cahaya dan sinar lain—ulama, guru, tokoh masyarakat, perempuan, pemuda, saudagar, dan keluarga—yang bersama-sama membuat cahaya dan sinar itu mencerahkan masyarakat.
A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang adalah salah satu sudut cahaya dan sinar itu.
Ia datang dari Saluk Lambongang.
Ia berjalan bersama para pembaru.
Ia menjadi bagian dari jaringan perjuangan A.G.H. Hayyung.
Dan dari perjuangan generasi awal seperti mereka, Muhammadiyah kemudian menemukan akar otentiknya di Bumi Tanadoang Selayar.
Kini tugas kita bukan hanya menikmati teduhnya pohon yang mereka tanam.
Tugas kita adalah merawat akarnya, menyirami pohonnya, menemukan kembali nama-nama yang terlupakan, dan memastikan cahaya perjuangan itu tidak pernah padam.
Sebab sejarah bukan sekadar tentang siapa yang paling terkenal.
Sejarah juga tentang mereka yang bekerja dalam senyap agar sebuah cita-cita dapat hidup lebih lama daripada usia mereka sendiri.
Dan mungkin, itulah makna terdalam dari jejak A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang:
Ia mungkin tidak tercatat sebagai nama terbesar dalam sejarah Muhammadiyah Selayar. Tetapi ia adalah salah satu dari mereka yang membuat sejarah Selayar itu menjadi mungkin.
Dan dari sepetak kebun ayah kami, di Lambongang, jelang elmaut menjemput, terbayang senyum A.G.H. Abdul Fattah Daeng Biseang yang lembut menggetarkan pesan: ”jika kelak kasih sayang Allah menjemputku, makamkan saya bukan di pekuburan umum. Karena akan ada jejak “semesta” yang menekuk logika di sisi kubur saya.”
Maka keluarga pun berembuk, dan sepenggal tanah di kebun ayah kami menjadi “pilihan” pusara beliau yang damai, di Lambongang.
Selamat jalan Opu Ajji Daeng Biseang. Kami haru biru membaca “jejak”juangmu bersama tokoh dan ulama Muhammadiyah. Engkau pun mengguratkan senyum di barzakh.
Kami rengkuh dengan rasa hormat dan berkaca-kaca. Bagi kami, engkau bukan lagi milik keluarga. Engkau milik masyarakat Selayar. Milik Muhammadiyah. Milik Indonesia.
Lahulfaatihah
Kepulauan Selayar—21 Agustus 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


