INSAN.NEWS || Makassar—Pemerintah Kota Makassar mulai membidik pasar internasional sebagai ruang baru bagi pengembangan pariwisata, produk UMKM, industri kreatif, dan talenta lokal.
Strateginya, bukan sekadar membawa produk ke pameran luar negeri, melainkan membangun jejaring yang mampu membuka akses pasar secara berkelanjutan.
Arah tersebut mengemuka dalam pertemuan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, didampingi Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), dengan CEO dan Founder IBR, Imat Badruddin, di Kantor Wali Kota Makassar, Senin (24/8).
Imat, diaspora Indonesia yang berbasis di New York, Amerika Serikat, menawarkan tiga gagasan strategis untuk memperluas koneksi Makassar ke pasar global: Experience Makassar, Creative Outsourcing Center, dan Makassar Hub. Menurut dia, Makassar sesungguhnya memiliki modal besar dan tidak perlu memulai pembangunan ekosistem global dari titik nol.
“Banyak potensi di Kota Makassar. Kota ini tidak mulai dari nol. Makassar sudah harus melangkah jauh,” ujar Imat dalam pemaparannya.
Ia menilai posisi Makassar sebagai gerbang kawasan Indonesia Timur, didukung perguruan tinggi, sektor komersial, industri kreatif, serta potensi pariwisata, menjadi kekuatan yang dapat dikembangkan menjadi ekosistem ekonomi berorientasi internasional.
Tantangannya, kata dia, adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikemas secara tepat dan memiliki nilai ekonomi.
Konsep Experience Makassar, misalnya, diarahkan untuk menjadikan pengalaman wisata sebagai daya tarik yang lebih kuat bagi wisatawan mancanegara. Sementara Creative Outsourcing Center dirancang untuk menghubungkan talenta-talenta Makassar dengan kebutuhan industri global tanpa harus meninggalkan daerah.
“Creative Outsourcing Center bukan berarti kita buka studio di sini kemudian bersaing dengan orang kreatif di sini. Justru talenta yang ada di sini kita hubungkan dengan kebutuhan di luar,” kata Imat.
Adapun Makassar Hub diproyeksikan menjadi pintu masuk bagi promosi produk dan jasa lokal ke jaringan internasional.
Namun, Imat menekankan bahwa produk UMKM yang akan dibawa ke pasar global harus melalui proses kurasi, terutama terkait kualitas dan kesiapan memenuhi standar pasar.
“Yang kita kurasi bukan orangnya saja, tapi barangnya,” ujarnya.
Menurut Imat, tantangan menembus pasar internasional tidak berhenti ketika produk dipamerkan.
Persoalan yang lebih menentukan justru muncul setelah pameran selesai, mulai dari tindak lanjut terhadap calon pembeli, menjaga komunikasi, memastikan ketersediaan produk, hingga memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten.
“Kalau berdagang di luar negeri jangan hanya datang pameran tiga hari, kemudian pulang. Kunci keberhasilan dari pameran adalah setelah pameran,” tegasnya.
Melalui kolaborasi dan pembukaan jejaring baru tersebut, Pemkot Makassar berharap produk UMKM, sektor pariwisata, industri kreatif, hingga kualitas sumber daya manusia lokal dapat memiliki daya saing yang lebih kuat.
Ambisinya jelas: Makassar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain yang mampu menjual potensi lokal ke panggung global.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


