INSAN.NEWS || Bulukumba—Sistem pendidikan Indonesia dinilai perlu terus direformulasi agar mampu menjawab perubahan zaman, terutama di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga dituntut membentuk sumber daya manusia yang adaptif, kritis, dan mampu menghadapi perubahan sosial.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam forum perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bulukumba, Senin (31/8).
Materi bertajuk “Reformulasi Sistem Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Kemoderenan” disampaikan Andi Buyung Saputra, S.STP., M.M., dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba.
Kegiatan berlangsung di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba) pada pukul 13.00 hingga 16.00 WITA.
Forum tersebut mempertemukan peserta perkaderan dengan perspektif mengenai tantangan pendidikan Indonesia dalam menghadapi perubahan masyarakat, perkembangan teknologi, serta tuntutan kompetensi yang terus bergeser.
Dalam pemaparannya, Andi Buyung menekankan pentingnya melihat pendidikan sebagai sistem yang harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Menurut dia, modernisasi membawa konsekuensi terhadap cara manusia belajar, bekerja, berinteraksi, sekaligus membangun pengetahuan.
“Pendidikan harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan orientasi pada pembentukan manusia. Reformulasi diperlukan agar sistem pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan mampu menjawab tantangan masyarakat.” Ujar Andi Buyung Saputra, S.STP., M.M.
Menurut Andi Buyung, perubahan sistem pendidikan tidak semata-mata berkaitan dengan kurikulum.
Reformulasi juga menyangkut kualitas tenaga pendidik, metode pembelajaran, pemanfaatan teknologi, akses pendidikan, serta kemampuan lembaga pendidikan membaca kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
“Mahasiswa harus menjadi bagian dari proses reformulasi pendidikan. Kader HMI tidak cukup hanya memahami persoalan pendidikan, tetapi harus mampu membaca perubahan, menawarkan gagasan, dan memastikan modernisasi pendidikan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.” kata Andi Buyung Saputra, S.STP., M.M.
Dalam konteks tersebut, peserta perkaderan HMI didorong tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga mampu membaca persoalan pendidikan secara kritis.
Mahasiswa dinilai memiliki posisi penting dalam memberikan gagasan sekaligus mengawal arah kebijakan pendidikan agar tetap berorientasi pada kepentingan publik.
Pembahasan itu juga menempatkan modernisasi sebagai tantangan sekaligus peluang.
Kemajuan teknologi dapat membuka akses pengetahuan yang lebih luas, tetapi pada saat yang sama menuntut kesiapan sumber daya manusia agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi.
Pendidikan, karena itu, perlu diarahkan untuk membangun kemampuan mencipta, berinovasi, dan menyelesaikan persoalan.
Bagi HMI, isu reformulasi pendidikan memiliki relevansi dengan agenda perkaderan.
Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kesadaran, karakter, dan tanggung jawab sosial generasi muda.
Dari forum tersebut, peserta diharapkan mampu membawa gagasan pendidikan yang lebih kontekstual sekaligus kritis terhadap perubahan zaman.
Forum di SKB Bulukumba itu akhirnya menjadi ruang refleksi mengenai arah pendidikan Indonesia di tengah arus kemoderenan.
Tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat sistem pendidikan lebih modern, melainkan memastikan modernisasi tersebut tetap menghasilkan manusia yang berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


