INSAN.NEWS || Makassar—Demonstrasi menyoroti persoalan distribusi dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Makassar berakhir ricuh. Seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar, Muh Farham Farsyah, dilaporkan mengalami luka hingga berdarah dalam ketegangan antara massa aksi dan aparat kepolisian, Senin (14/9).
Aksi bertajuk “Makassar Darurat Energi” itu berlangsung di depan kantor PT Pertamina Patra Niaga, Jalan Garuda, Makassar.
Massa mempersoalkan antrean panjang dan persoalan distribusi BBM yang dalam beberapa hari terakhir dikeluhkan masyarakat. HMI sebelumnya memang telah menginstruksikan kadernya turun dalam aksi tersebut.
Menurut informasi dari massa aksi, Farham mengalami luka ketika terjadi ketegangan saat aparat berupaya mengendalikan demonstran. HMI menyebut kadernya diduga mendapat tindakan kekerasan dari oknum aparat.
Laporan lain mengenai insiden tersebut menyebut seorang demonstran mengalami luka di bagian kepala ketika aparat berupaya menghalau massa yang masuk ke area kantor Pertamina.
Namun, detail mengenai siapa yang melakukan tindakan tersebut dan kronologi lengkapnya masih memerlukan penjelasan resmi dari pihak kepolisian.
Ketua Umum HMI Cabang Makassar, Sarah Agus Salim, mengecam dugaan tindakan represif tersebut. Menurut dia, aparat seharusnya mengedepankan pendekatan persuasif dalam mengamankan demonstrasi.
“Kami mengutuk keras segala bentuk tindakan represif yang diduga dilakukan oleh oknum aparat terhadap kader HMI Cabang Makassar. Demonstrasi adalah ruang penyampaian aspirasi yang dijamin dalam negara demokrasi,” kata Sarah.
Sarah menilai dugaan pemukulan hingga menyebabkan demonstran terluka merupakan persoalan serius.
Ia meminta pengamanan demonstrasi tidak berubah menjadi tindakan kekerasan terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi.
“Di tengah masyarakat menghadapi kesulitan mendapatkan BBM, mahasiswa turun untuk menyuarakan persoalan rakyat. Sangat disayangkan apabila aspirasi tersebut justru direspons dengan tindakan yang diduga tidak manusiawi,” ujarnya.
HMI Cabang Makassar meminta kepolisian melakukan pemeriksaan secara terbuka dan profesional untuk mengungkap rangkaian kejadian tersebut.
Jika pemeriksaan menemukan adanya pelanggaran prosedur atau penggunaan kekuatan yang tidak sesuai ketentuan, HMI meminta pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai aturan.
Di sisi lain, persoalan BBM memang tengah menjadi perhatian di Makassar. Pertamina sebelumnya menyatakan melakukan sejumlah langkah untuk mengurai antrean, termasuk penambahan layanan SPBU modular dan evaluasi kebijakan pengaturan pengisian BBM.
Karena itu, insiden benturan antara massa dan aparat tidak semestinya menutup substansi persoalan yang dibawa mahasiswa: kepastian pasokan, distribusi BBM, serta pelayanan energi bagi masyarakat.
Hingga berita ini ditulis, Insan.news masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak kepolisian dan PT Pertamina Patra Niaga mengenai kronologi kericuhan, dugaan tindakan kekerasan terhadap Farham, serta langkah penanganan terhadap insiden tersebut.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


