INSAN.NEWS || BULUKUMBA—Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pemanfaatan big data dinilai mulai mengubah cara negara, institusi, dan masyarakat mengambil keputusan.
Di tengah perubahan tersebut, kemampuan menguasai teknologi dipandang menjadi bagian penting dari strategi mempertahankan kedaulatan bangsa.
Persoalan itu menjadi salah satu pembahasan dalam forum Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bulukumba, Senin (31/8).
Materi bertajuk “Strategi Kepemimpinan: Penguatan Kedaulatan Bangsa di Tengah Gempuran AI dan Pemanfaatan Big Data” disampaikan oleh Dr. Muhammad Yusran, S.Kom., M.Kom., di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba.
Dalam pemaparannya, Yusran menempatkan AI dan big data bukan sekadar sebagai perkembangan teknologi, melainkan sebagai instrumen yang dapat memengaruhi berbagai sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, pendidikan, pemerintahan hingga pengambilan kebijakan publik.
Menurut dia, pemimpin masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif dan manajerial.
Pemimpin juga dituntut memahami perkembangan teknologi agar mampu membaca perubahan, mengantisipasi risiko, serta memastikan teknologi digunakan untuk kepentingan bangsa.
“AI dan big data telah menjadi bagian dari perubahan besar dalam kehidupan manusia. Karena itu, kepemimpinan ke depan tidak boleh gagap teknologi. Pemimpin harus mampu memahami data, membaca perubahan dan memastikan teknologi digunakan untuk memperkuat kepentingan serta kedaulatan bangsa,” kata Yusran.
Ia menjelaskan, penguasaan data menjadi salah satu aspek strategis di tengah kompetisi global.
Data yang dikelola secara tepat dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan, meningkatkan efisiensi, memetakan kebutuhan masyarakat, hingga menciptakan inovasi baru.
Sebaliknya, ketergantungan terhadap teknologi dan sistem yang sepenuhnya dikendalikan pihak lain dapat menjadi tantangan bagi kedaulatan nasional.
Yusran juga mendorong kader HMI untuk tidak menempatkan AI sebagai ancaman semata.
Menurutnya, teknologi harus dibaca secara kritis sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
Kader mahasiswa dinilai perlu memiliki literasi digital sekaligus kemampuan berpikir kritis agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi.
“Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Kader muda harus dipersiapkan menjadi manusia yang mampu memahami, mengembangkan dan mengarahkan teknologi untuk menjawab persoalan bangsa. Di situlah kepemimpinan menjadi penting,” ujarnya.
Forum tersebut kemudian menjadi ruang diskusi bagi peserta LK II HMI Cabang Bulukumba untuk melihat hubungan antara kepemimpinan, perkembangan AI, penguasaan data, dan masa depan kedaulatan Indonesia.
Pembahasan diarahkan pada pentingnya membangun generasi yang adaptif terhadap teknologi, tetapi tetap memiliki orientasi kebangsaan dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


