News

Arsyi Jailolo (Ketua PB HMI Bidang HI) Bedah Krisis Kepemimpinan Sulsel di LK II HMI Jeneponto: “Leluhur Kita Besar, Tetapi Kita Menjauh dari Nilainya”

IMG 20251129 WA0001
Muhammad Arsyi Jailolo, Ketua PB HMI Bidang Hubungan Internasional, saat menyampaikan materi ‘Diaspora Peradaban Nusantara’ pada LK II HMI Cabang Jeneponto di Aula Hotel Lingkarsut. Minggu (30/11/2025). Foto Barsa

INSAN.NEWS || Jeneponto,- Kegiatan Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Jeneponto yang mengusung Grand Tema: “Sekapur Sirih” berlangsung penuh dinamika intelektual dan dialog kritis.

‎Kegiatan tersebut dipusatkan di Aula Hotel Lingkarsut, Jalan Lingkar Kabupaten Jeneponto, dan dihadiri puluhan peserta dari berbagai cabang HMI di Sulawesi Selatan dan di luar Sulawesi. Minggu (30/11/2025).

‎Pada sesi materi utama, Muhammad Arsyi Jailolo, Ketua PB HMI Bidang Hubungan Internasional (HI), tampil sebagai narasumber kunci dengan membawakan pokok bahasan “Diaspora Peradaban Nusantara: Tinjauan Kepemimpinan Manusia Sulawesi Selatan.” Materi ini dianggap sangat relevan dengan kondisi aktual kepemimpinan di Sulawesi Selatan yang menurut banyak pihak menunjukkan gejala degradasi nilai.

Warisan Kepemimpinan Bugis – Makassar: Besar, Berani, dan Berakar pada Nilai

‎Dalam pemaparannya, Arsyi menekankan bahwa manusia Bugis – Makassar berasal dari tradisi kepemimpinan yang kuat. Leluhur mereka tidak hanya dikenal sebagai pelaut dan penjelajah, tetapi juga sebagai pembawa nilai, penyebar etika, dan penjaga moral di berbagai wilayah Nusantara.

Panen Perdana Nila KJA, POKDAKAN MAPAN Buktikan Kebangkitan Ekonomi Warga Maccini Sombala

‎Namun ia menilai bahwa karakter luhur itu kini mulai meredup di tangan generasi modern yang kerap jauh dari nilai dasar leluhur.

‎“Kita lahir dari peradaban besar. Leluhur Bugis–Makassar bukan hanya pelaut dan penakluk, mereka adalah pemimpin dengan karakter jujur, berani, dan tidak mudah tunduk pada kepalsuan. 

‎Jika hari ini kita melihat degradasi moral, itu bukan karena hilangnya nilai leluhur, tetapi karena kita sendiri menjauh dari sumber-sumber kearifan itu,” tegas Arsyi di hadapan peserta LK II.

‎Arsyi mengingatkan bahwa kemunduran moral bukanlah cermin dari hilangnya peradaban, melainkan hilangnya komitmen generasi untuk menjaganya.

‎Tanya Jawab Hangat: Tradisi, Gelar, hingga Kosmologi Bugis–Makassar

KOHATI BADKO Sulsel Gelar Seminar Lingkungan dan Workshop Eco Enzyme di Makassar

‎Setelah pemaparan materi, forum berlanjut dengan sesi tanya jawab yang berlangsung kritis dan mendalam.

‎1. Pertanyaan Nur Fatmi (HMI Cabang Makassar – Komisariat Unimerz)

Nur Fatmi mempertanyakan mengapa sebagian pemimpin Sulawesi Selatan hari ini tidak lagi mencerminkan nilai kepemimpinan leluhur Bugis – Makassar, padahal sejarah diaspora menunjukkan bahwa daerah ini pernah melahirkan pemimpin besar dan bermoral tinggi.

‎Menanggapi hal tersebut, Arsyi kembali menegaskan perlunya rekonstruksi nilai dalam diri generasi hari ini.

‎“Diaspora Nusantara bukan sekadar perpindahan manusia, tetapi penyebaran nilai. Tantangan terbesar kita hari ini adalah menghidupkan kembali nilai itu di tengah modernitas yang kian rapuh secara moral,” jelasnya.

Mahasiswa Asal Makassar Soroti Nasib Pegawai Paruh Waktu Kabupaten Dompu

‎2. Pertanyaan Riswan (HMI Cabang Cagora)

Riswan mengajukan pertanyaan mengenai gelar “Daeng”, apakah ia merupakan simbol keturunan bangsawan atau sekadar gelar sosial.

Arsyi memberikan penjelasan lugas:

‎“Gelar ‘Daeng’ bukan hanya simbol kebangsawanan. Ia adalah representasi kedewasaan sosial, status kedekatan, dan pengakuan budaya. Siapa pun yang memakai gelar itu membawa tanggung jawab etik dalam setiap tindakan dan perkataan,” terang Arsyi.

‎3. Pertanyaan Rahmat Hidayat (HMI Cabang Bulukumba)

‎Rahmat menyoroti konsep To Manurung dalam epos I La Galigo, yang digambarkan turun dari langit, sementara dalam Islam hanya Nabi Adam yang diyakini diturunkan secara langsung.

Arsyi menanggapi dengan pendekatan historis dan kosmologis:

“Epos I La Galigo bukan sekadar mitologi. Ia adalah cermin kosmologi dan struktur pengetahuan masyarakat kita. To Manurung harus dibaca sebagai simbol legitimasi ilahiah, bukan dipahami secara literal seperti teologi penciptaan dalam agama samawi,” jelasnya.

‎Ia menekankan pentingnya membaca teks budaya secara hermeneutik, bukan literal.

Penegasan Akhir: HMI Adalah Penjaga Nilai Peradaban

Sebelum menutup sesi, Arsyi menyampaikan pesan tegas kepada seluruh peserta LK II agar tidak kehilangan arah moral di tengah perubahan sosial yang cepat.

“HMI tidak lahir untuk mencetak manusia biasa. Kader HMI harus menjadi lokomotif perubahan – pemimpin yang sadar sejarah, tegak dengan nilai, dan berani menantang arus degradasi moral,” pungkasnya.

‎Ia berharap agar kader HMI mampu mengembalikan martabat kepemimpinan Sulawesi Selatan dengan memahami akar sejarah dan nilai luhur leluhurnya.

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

× Advertisement
× Advertisement