News

Bagian III – Hegemoni Algoritma dan Kematian Akal Sehat ‎(Penutup dari trilogi “Demokrasi dan Logika yang Tertukar”)

1765034263515
Dr. Buhari Fakkah, M.Pd - Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng - Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Minggu (06/12/2025). Foto Barsa

Oleh : Buhari Fakkah – Dosen UMS Rappang

INSAN.NEWS || Sidenreng Rappang,- 06 Desember 2025 – Di masa lalu, manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah berpikir. Di masa kini, teknologi justru berpikir untuk manusia. Dan dalam proses itu, perlahan tapi pasti, akal sehat mati tanpa upacara.

Algoritma, sang dewa baru peradaban digital, telah mengambil alih fungsi logika dan nurani. Ia menentukan apa yang harus kita lihat, pikirkan, dan bahkan percayai – tanpa pernah kita sadari.

‎Demokrasi yang dulu bersandar pada kesadaran rasional kini digerakkan oleh statistik, klik, dan engagement rate. Manusia tidak lagi menjadi warga negara yang berpikir, melainkan data yang dapat diprediksi perilakunya.

Antonio Gramsci pernah berbicara tentang hegemoni – dominasi halus yang membuat yang tertindas menerima penindasannya sebagai hal wajar.

Politik Modern harus diasuh oleh Argumentasi Rasional ‎

Di era algoritma, hegemoni itu tidak lagi dilakukan oleh negara atau ideologi, tapi oleh logika mesin. Ia tidak memaksa, hanya mengarahkan. Ia tidak mengancam, hanya merekomendasikan.

Dan kita, tanpa sadar, menuruti setiap saran itu dengan senyum puas – karena mengira itu adalah pilihan kita sendiri.

Akal sehat kehilangan panggungnya. Ia kalah cepat dari feed yang terus diperbarui, kalah populer dari emosi yang viral, kalah menarik dari kebodohan yang lucu. 

‎Orang lebih percaya pada yang sering muncul di layar ketimbang pada yang logis dan terbukti benar. Demokrasi yang dulu mengandalkan diskusi kini bergantung pada trending topic.

Kematian akal sehat tidak terjadi karena kekerasan, tapi karena kebiasaan. Kita terlalu lama dimanjakan oleh kenyamanan berpikir instan, oleh “rekomendasi untukmu” yang menenangkan tapi memenjarakan.

Panen Perdana Nila KJA, POKDAKAN MAPAN Buktikan Kebangkitan Ekonomi Warga Maccini Sombala

‎Perlahan, kemampuan kita untuk berpikir kritis membusuk – bukan karena dilarang, tapi karena tidak lagi dianggap perlu.

‎Dan ketika akal sehat mati, demokrasi berubah menjadi ritual formalitas: ada pemilu, tapi tanpa kesadaran;

‎”Ada hukum, tapi tanpa keadilan; ada kebebasan, tapi tanpa arah. Semua berjalan sesuai protokol digital – mekanis, efisien, tapi tanpa jiwa”.

‎Kekuasaan pun menemukan bentuk barunya:

“Bukan lagi melalui kekuatan fisik, tetapi melalui pengendalian persepsi. Para penguasa algoritma tidak perlu menguasai senjata – cukup menguasai perhatian publik. Siapa yang menguasai layar, dialah penguasa pikiran”.

Demokrasi Tanpa Akal Sehat: Hilirisasi Digital dan Kebodohan Dipertontonkan dalam Janji 19 Juta Lapangan Kerja

‎Dalam situasi ini, perlawanan terbesar bukan lagi menentang tirani politik, tapi melawan keheningan intelektual dalam diri sendiri. Karena di era di mana semua orang berbicara, berpikir justru menjadi tindakan paling revolusioner.

Hegemoni algoritma tidak bisa dihancurkan dengan teriakan, tapi dengan kesadaran. Kesadaran bahwa di balik setiap klik ada upaya membentuk cara kita melihat dunia. Dan selama kita membiarkan mesin berpikir untuk kita, demokrasi hanyalah nama lain dari perbudakan yang dikemas modern.

‎Maka mungkin benar kata Albert Camus:

“Zaman kita bukan kekurangan ide, tapi kekurangan keberanian untuk berpikir sendiri.”

‎Dan mungkin, di tengah hegemoni algoritma yang begitu lembut, berpikir dengan jernih adalah satu-satunya bentuk kebebasan yang tersisa.

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

× Advertisement
× Advertisement