News

Banjir Hoaks, Kader HMI Dipaksa Memilih: Kritis atau Terseret Arus ‎

IMG 20260127 WA0003
Hajriana Ashadi Menyampaikan Materi Analisis Problematika Hoaks dalam kegiatan Latihan Kader II (LK II) HMI Korkom Tamalate di Wisma Latobang, Makassar, Selasa (27/01/2026). Foto Bang Barsa

INSAN.NEWS || Makassar,- Hajriana Ashadi saat membawakan materi Analisis Problematika Hoaks dalam kegiatan Latihan Kader II (LK II) Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Korkom Tamalate Cabang Makassar di Wisma Latobang, Makassar, Selasa (27/01/2026).

‎“Hoaks bukan sekadar kesalahan informasi, tetapi ancaman serius yang dapat melumpuhkan daya kritis kader,” tegasnya.

‎Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap tidak diimbangi dengan kemampuan verifikasi dan analisis yang memadai.

Dalam konteks ini, hoaks tidak lagi dipandang sebagai persoalan sepele, melainkan fenomena sistemik yang berpotensi membentuk opini, mengarahkan sikap, bahkan mempengaruhi arah gerakan organisasi.

Hajriana menyoroti kecenderungan sebagian kalangan – termasuk mahasiswa – yang menerima informasi secara instan tanpa menguji sumber, konteks, dan kepentingan di baliknya.

Menjadi Kader, Menjadi Jawaban: Andi Hendra Paletteri Tantang HMI Hadir di Tengah Krisis Sosial

‎Menurutnya, kondisi tersebut menjadi celah masuk bagi disinformasi untuk menguasai ruang berpikir, sekaligus melemahkan tradisi intelektual yang seharusnya menjadi fondasi kaderisasi.

‎Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa kader HMI dituntut untuk tidak hanya aktif dalam diskursus publik, tetapi juga memiliki kemampuan membaca pola, memetakan narasi, serta membedakan antara fakta, opini, dan manipulasi informasi.

‎Tanpa sikap kritis, kader berisiko menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks, alih-alih menjadi penjernih informasi di tengah masyarakat.

‎Lebih jauh, Hajriana menilai bahwa hoaks dapat berimplikasi serius terhadap kualitas kepemimpinan masa depan.

‎Informasi yang keliru, jika terus dikonsumsi tanpa klarifikasi, berpotensi melahirkan keputusan dan sikap yang tidak berpijak pada realitas.

Firman Jaya Daeli: Demokrasi dan Hukum Harus Menjadi Pelindung Rakyat, Bukan Alat Penguasa

‎Hal ini, menurutnya, bertentangan dengan nilai keilmuan, keislaman, dan keindonesiaan yang selama ini menjadi identitas perjuangan HMI.

‎Materi Analisis Problematika Hoaks yang disampaikan dalam LK II ini menjadi bagian strategis dari perkaderan tingkat lanjut HMI. Tidak hanya sebagai bekal pengetahuan, tetapi juga sebagai alarm intelektual agar kader mampu bertahan di tengah banjir disinformasi yang kian masif dan kompleks.

‎Di tengah derasnya arus informasi digital, pesan yang disampaikan Hajriana menjadi penegasan bahwa kader HMI berada pada persimpangan penting:

‎”Tetap menjaga nalar kritis dan integritas intelektual, atau terseret arus hoaks yang perlahan menggerus kualitas berpikir dan arah perjuangan”.

‎INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

Membaca NDP Sebagai Etos Peradaban: Tafsir Antropologis dalam Kaderisasi HMI ‎

× Advertisement
× Advertisement