Oleh Buhari Fakkah – Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Makassar,- Rabu 07 2026 – Hilangnya atau terbunuhnya Anakda/Adinda Kifen di Gunung Sangiang semestinya menjadi peristiwa duka yang mengundang keheningan, empati, dan kesabaran kolektif.
Namun seperti banyak tragedi lain di republik ini, peristiwa itu justru cepat berubah rupa dari misteri kemanusiaan menjadi tontonan digital. Duka belum menemukan jawabannya, tetapi kamera sudah lebih dulu bekerja.
Gunung Sangiang, yang seharusnya menjadi ruang hening pencarian dan doa, mendadak ramai oleh live report, potongan video emosional, dan narasi spekulatif.
Kesedihan keluarga bercampur dengan komentar warganet, teori liar, dan konten yang berlomba-lomba menjadi yang “paling update”. Dalam situasi seperti ini, empati sering kali kalah cepat dari algoritma.
Kasus Anakda/Adinda/ Saudara Kifen memperlihatkan dengan telanjang bagaimana tragedi kemanusiaan personal dapat dengan mudah diseret ke arena publik tanpa etika.
Proses pencarian, dugaan hilang/pembunuhan, bahkan ekspresi duka keluarga yang mestinya dilindungi berubah menjadi bahan konsumsi massal.
Ada yang mengaku peduli, ada yang mengklaim solidaritas, tetapi tak sedikit yang sekadar berburu engagement. Duka menjadi alat, bukan tujuan.
Fenomena ini menunjukkan krisis empati di era media sosial. Hannah Arendt pernah mengingatkan bahwa :
“Kejahatan bisa menjadi banal ketika manusia berhenti berpikir secara moral”.
Dalam kasus semacam ini, banalitas itu tampak ketika orang merasa wajar merekam penderitaan, menyebarkan kabar yang belum pasti, dan menambahi luka keluarga dengan spekulasi. Semua dilakukan tanpa rasa bersalah, sebab dianggap
“Sekadar berbagi informasi”.
Padahal, dalam konteks kasus Anakda/Adinda/Saudara Kifen, informasi yang beredar bukan hanya soal benar atau salah, tetapi juga soal dampak.
Setiap potongan video, setiap narasi dugaan, berpotensi mengganggu proses hukum, memperkeruh suasana, dan melukai psikologis keluarga korban. Namun logika media sosial tidak mengenal jeda etik. Yang penting cepat, ramai, dan viral.
Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana empati telah bergeser menjadi performa. Kepedulian diukur dari seberapa sering seseorang mengunggah, seberapa panjang caption-nya, dan seberapa dramatis narasinya.
Solidaritas berubah menjadi branding moral. Dalam kerangka kapitalisme digital, tragedi seperti yang menimpa Anakda/Adinda/Saudara Kifen menjadi sumber atensi dan atensi adalah komoditas.
Ironisnya, semua itu kerap dibungkus dengan dalih kemanusiaan.
“Agar kasusnya tidak tenggelam,” kata sebagian orang.
Padahal, menjaga agar kasus tetap hidup tidak identik dengan mengeksploitasi duka. Ada perbedaan antara mengawal keadilan dan memanfaatkan penderitaan.
Perbedaan itu terletak pada adab apakah kita memberi ruang pada keluarga untuk berduka, atau justru menjadikan mereka objek.
Gunung Sangiang hari ini bukan hanya saksi sebuah tragedi, tetapi juga cermin wajah kita sebagai masyarakat digital.
Apakah kita masih mampu menahan diri di hadapan duka orang lain?
Ataukah kita telah sepenuhnya tunduk pada logika kamera dan algoritma?
Kasus Kifen ini seharusnya mengajarkan bahwa empati bukan soal siapa yang paling cepat mengunggah, melainkan siapa yang paling mampu menjaga martabat korban.
Kemanusiaan diuji bukan ketika kita ramai berbicara, tetapi ketika kita tahu kapan harus diam. Sebab tidak semua duka perlu disiarkan;
”Sebagian cukup dihormati”.
Wara sarusa ade ku baca berita ede ake ede, cua lepi angi ndawi konten, Allah Akbar.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


