Oleh : Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)
INSAN.NEWS || Makassar,- Jum’at 15 Januari 2026 – Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah agama, bukan karena ia irasional, tetapi karena ia menolak tunduk pada absolutisme sains positivistik.
Al-Qur’an secara sadar membuka narasi ini dengan deklarasi metafisis yang keras:
“Subḥāna alladzī asrā bi ‘abdihī…” (QS. Al-Isra: 1).
Kata Subḥān di sini bukan sekadar tasbih, melainkan penafian awal terhadap segala keterbatasan hukum alam yang disakralkan manusia. Sejak awal, ayat ini seperti ingin berkata:
“Hukum fisika bukanlah Tuhan”.
Dalam kerangka sains modern, perjalanan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam melampaui batas ruang dan waktu dalam satu malam jelas mustahil jika diukur dengan mekanika Newton atau relativitas Einstein sekalipun.
Bahkan konsep time dilation, wormhole, atau multiverse yang sering dipakai untuk “mendamaikan” Isra’ Mi’raj dengan sains hanyalah spekulasi teoretik yang belum terverifikasi.
Di titik ini, upaya sebagian Muslim untuk “membuktikan” Isra’ Mi’raj secara saintifik justru problematik. Ia berisiko mereduksi mukjizat menjadi sekadar fenomena fisika yang kebetulan belum ditemukan rumusnya.
Kontroversi sesungguhnya bukan pada apakah Isra’ Mi’raj bisa dijelaskan oleh sains, melainkan pada asumsi diam-diam bahwa sesuatu baru sahih jika lolos uji laboratorium.
Inilah yang dapat disebut sebagai saintisme – keyakinan ideologis bahwa sains adalah satu-satunya sumber kebenaran. Isra’ Mi’raj, dalam konteks ini, hadir sebagai kritik epistemologis:
”Wahyu tidak anti-sains, tetapi menolak dijajah oleh sains”.
Lebih jauh, Al-Qur’an menggunakan istilah ‘abdihī (hamba-Nya), bukan rasūlihī atau nabiyyihī. Pilihan diksi ini signifikan. Yang “diperjalankan” adalah manusia seutuhnya – tubuh dan ruh – bukan sekadar pengalaman spiritual subjektif.
Klaim ini secara sadar menabrak dikotomi modern antara realitas fisik dan pengalaman batin.
Isra’ Mi’raj menolak reduksi agama menjadi sekadar psikologi religius atau halusinasi mistik.
Namun paradoks paling tajam dari Isra’ Mi’raj justru terletak pada hasil akhirnya.
Dari perjalanan kosmik yang melampaui langit dan waktu, tidak dibawa pulang formula teknologi, rahasia energi, atau pengetahuan kosmologi, melainkan perintah shalat – ritual yang mengikat tubuh manusia pada waktu dan ruang. Ini adalah kritik diam-diam terhadap obsesi peradaban modern:
”Semakin tinggi sains manusia, semakin miskin makna hidupnya”.
Isra’ Mi’raj, dengan demikian, bukan dongeng sakral untuk menenangkan orang beriman, melainkan peristiwa teologis yang secara radikal menantang kesombongan epistemik manusia modern.
Ia menegaskan bahwa realitas tidak habis di laboratorium, kebenaran tidak selalu dapat direplikasi, dan makna hidup tidak lahir dari percepatan teknologi, melainkan dari keterhubungan etis antara manusia, waktu, dan Tuhan.
Di sinilah kontroversinya:
menerima Isra’ Mi’raj berarti mengakui bahwa sains, setinggi apa pun pencapaiannya, tetap bukan hakim terakhir atas realitas.
Dan bagi peradaban yang menjadikan sains sebagai agama baru, klaim ini jelas mengguncang fondasi intelektualnya – namun justru di situlah Isra’ Mi’raj menemukan relevansinya yang paling tajam.
Kesimpulan
Isra’ Mi’raj, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Isra ayat 1, bukanlah peristiwa yang menunggu legitimasi sains untuk menjadi benar. Ia justru hadir sebagai kritik mendasar terhadap arogansi epistemik manusia modern yang menjadikan sains sebagai otoritas tunggal penentu realitas.
Upaya memaksa Isra’ Mi’raj masuk ke dalam kerangka fisika modern – relativitas, wormhole, atau spekulasi kosmologis lainnya – lebih mencerminkan kegelisahan iman ketimbang keunggulan nalar.
Peristiwa ini menegaskan bahwa hukum alam bukan batas kekuasaan Tuhan, melainkan bagian dari ciptaan-Nya.
Dengan demikian, sains tetap bernilai sebagai alat baca realitas, tetapi kehilangan klaim absolutnya sebagai sumber kebenaran final. Isra’ Mi’raj memulihkan keseimbangan itu:
”Akal dihormati, tetapi wahyu tetap memimpin”.
Pada akhirnya, pesan paling radikal dari Isra’ Mi’raj bukan terletak pada perjalanan kosmiknya, melainkan pada mandat etik yang dibawanya.
Dari pengalaman yang melampaui ruang dan waktu, manusia justru dipanggil untuk tunduk pada disiplin moral yang paling konkret:
“Shalat, kesadaran waktu, dan tanggung jawab hidup”.
Di titik inilah Isra’ Mi’raj menemukan makna terdalamnya – sebagai penegasan bahwa kemajuan sejati bukan diukur dari sejauh mana manusia menaklukkan semesta, melainkan dari sejauh mana ia mampu menundukkan dirinya di hadapan Tuhan.
Allahu a’lam bissawab.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


