Membaca Pernyataan K.H. Zaitun Rasmin yang Mengusik Kenyamanan Iman
INSAN.NEWS || Makassar—Pernyataan K.H. Zaitun Rasmin—“bahkan dari iblis pun kadang-kadang ada kebaikan”—langsung memantik kegaduhan. Reaksi yang muncul hampir seragam: marah, curiga, dan defensif. Iblis, dalam imajinasi keagamaan kita, harus sepenuhnya hitam, tanpa celah makna, tanpa kemungkinan hikmah. Setiap upaya membaca ulang posisinya segera dicurigai sebagai relativisasi kejahatan.
Merujuk pada keterangan tertulis yang disampaikan Bahar, Senin (09/02/2026), bahwa ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita ajukan, padahal jauh lebih mengganggu: jika iblis benar-benar tak memiliki fungsi apa pun, mengapa Tuhan tidak memusnahkannya sejak awal?
Iblis dan Kenyamanan Iman yang Tidak Pernah Diuji
Dalam teologi populer, iblis sering direduksi menjadi kambing hitam universal. Kesalahan moral, kegagalan sosial, bahkan kemalasan berpikir, dengan mudah diserahkan pada “godaan setan”. Cara berpikir ini tampak religius, tetapi sesungguhnya menyederhanakan tanggung jawab etis manusia.
Michel Foucault mengingatkan bahwa kekuasaan bekerja melalui wacana. Dalam konteks keagamaan, figur iblis kerap difungsikan sebagai alat pendisiplinan: menakut-nakuti, membungkam pertanyaan, dan menertibkan iman agar tidak terlalu kritis.
Agama pun berubah menjadi sistem kepatuhan, bukan ruang pencarian makna. Di titik inilah pernyataan K.H. Zaitun Rasmin menjadi mengusik—bukan karena ia salah, tetapi karena ia mengganggu kenyamanan iman yang tak pernah mau diuji.
Al-Ghazali: Iblis Bukan Musuh Terbesar
Al-Ghazali tidak pernah membela iblis. Justru sebaliknya, ia menjadikan iblis sebagai simbol paling telanjang dari kesombongan. Iblis mengetahui Tuhan, bahkan berdialog langsung dengan-Nya. Namun pengetahuan tanpa ketundukan melahirkan pembangkangan.
Yang sering luput kita sadari, menurut al-Ghazali, musuh terbesar manusia bukanlah iblis di luar dirinya, melainkan sifat iblis di dalam dirinya: merasa paling benar, paling suci, paling berhak menghakimi. Dalam kerangka ini, iblis “berguna” bukan sebagai teladan, melainkan sebagai cermin—agar manusia tidak mengulangi kejatuhan yang sama.
Ibnu Taymiyyah dan Kejahatan yang Tidak Pernah Mutlak
Ibnu Taymiyyah memberikan penegasan teologis yang keras sekaligus jernih: kejahatan tidak pernah mutlak dalam tatanan Ilahi. Ia hanya tampak mutlak jika manusia memisahkan peristiwa dari kehendak Tuhan.
Iblis memang jahat secara moral. Tetapi keberadaannya bukan kebetulan kosmik. Ia adalah instrumen ujian. Tanpa iblis, iman menjadi otomatis, ketaatan menjadi mekanis, dan surga berubah menjadi hadiah murah tanpa pergulatan. Dalam logika ini, “kebaikan dari iblis” bukan kebaikan etis, melainkan kebaikan struktural—ia membuat iman bernilai mahal.
Yang sesungguhnya berbahaya bukanlah kalimat “bahkan dari iblis pun kadang-kadang ada kebaikan”, melainkan kebiasaan sebagian kita menjadikan agama sebagai ruang steril dari pertanyaan. Ketika iman hanya boleh diulang, tidak boleh diuji; hanya boleh diwariskan, tidak boleh dipikirkan; maka agama berhenti menjadi jalan pembebasan dan berubah menjadi alat pembiusan.
Dalam situasi seperti itu, iblis bahkan tidak perlu bekerja keras—sebab kepasrahan tanpa kesadaran telah lebih dulu melumpuhkan tanggung jawab moral manusia. Dan di titik inilah ironi terbesar terjadi: kita sibuk mengutuk iblis di mimbar, sementara diam-diam mempraktikkan cara berpikir yang justru paling ia sukai.
Penutup: Iblis Tidak Perlu Dibela, Hikmah Tuhan Perlu Diakui
Tidak ada satu pun ulama besar yang merehabilitasi moral iblis. Tetapi ulama besar juga tidak pernah mengerdilkan hikmah Tuhan demi menjaga kenyamanan umat. Pernyataan K.H. Zaitun Rasmin seharusnya dibaca sebagai ajakan untuk beriman secara dewasa—iman yang berani berpikir, bukan iman yang rapuh oleh satu kalimat provokatif.
Sebab iman yang gemetar hanya karena sebuah pertanyaan, mungkin bukan iman yang sedang diserang, melainkan iman yang selama ini disembunyikan dari ujian.
Dan barangkali, justru di situlah iblis paling menikmati perannya.
Catatan:
Baharuddin Hafid adalah Akademisi, penulis dan pemerhati isu keislaman, pendidikan, dan pemikiran kritis.
Makassar—09 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


