Opinions

Kegagalan Lenin dalam Membangun Politik Kekuasaan di Rusia ‎Catatan Polemis dan Bayangan Tan Malaka

IMG 20260105 WA0088
Baharuddin Hafid - Dosen tetap Universitaz Megatezky Makassar Dan Instruktur NDPers Nasional. Selasa (06/01/2026). Foto Ist ‎

Oleh Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

‎INSAN.NEWS || Makassar,- Selasa 06 Januari 2026 – Lenin memenangkan revolusi, tetapi kalah dalam mengelola kekuasaan. Ini paradoks yang kerap ditutupi oleh glorifikasi Revolusi Oktober 1917. 

‎Dalam sejarah politik modern, Lenin memang tercatat sebagai revolusioner ulung, tetapi sebagai arsitek kekuasaan, ia meninggalkan bangunan yang retak sejak fondasi.

Negara Soviet lahir bukan sebagai rumah bersama rakyat, melainkan sebagai benteng ideologi yang dijaga senjata.

‎Revolusi yang Menelan Negara

Kualitas Demokrasi Permusyawaratan dan Demokrasi Elektoral: Telaah Kritis atas Praktik Demokrasi Indonesia Pra dan Pasca Reformasi

‎Kesalahan pertama Lenin adalah menganggap revolusi sebagai tujuan akhir, bukan sebagai jembatan menuju tata kekuasaan yang beradab.

‎Politik Bolshevik pasca-1917 bergerak dalam logika darurat permanen:

‎‎”Perang saudara dijadikan justifikasi, keadaan genting dilembagakan, dan kekerasan dinormalisasi”.

‎‎War Communism adalah bukti paling telanjang. Atas nama sosialisme, negara merampas hasil tani, mematikan pasar, dan mengalienasi kelas yang justru diklaim sebagai subjek revolusi.

‎‎Kelaparan massal 1921 bukan kecelakaan sejarah, melainkan akibat langsung dari kebijakan ideologis yang menolak realitas sosial. Negara revolusioner berubah menjadi negara predator.

Mahasiswa Doktor Kesehatan Masyarakat Soroti Keterbatasan Akses, SDM, dan Infrastruktur Kesehatan di Bone Selatan

‎‎Partai Lebih Suci dari Rakyat Lenin melakukan dosa politik paling fatal:

‎‎”Mengganti rakyat dengan partai”.

‎‎Dalam konsep democratic centralism, demokrasi berhenti di ruang rapat elite Bolshevik. Setelah itu, yang ada hanyalah ketaatan.

‎Pembubaran Majelis Konstituante Rusia pada 1918 bukan sekadar langkah taktis, tetapi pengakuan jujur bahwa Lenin tidak mempercayai kehendak rakyat bila tak sejalan dengan partai.

‎‎Sejak saat itu, negara Soviet kehilangan legitimasi moralnya. Kekuasaan tidak lagi lahir dari persetujuan, melainkan dari klaim kebenaran ideologis.

Duka yang Dikejar Kamera: ‎Catatan dari Gunung Sangiang

‎Lenin menanam benih negara satu suara – dan sejarah membuktikan, suara tunggal selalu berakhir sebagai teriakan penindasan.

‎Teror sebagai Tata Kelola

‎Pembentukan Cheka dan praktik Red Terror menunjukkan kegagalan Lenin membedakan antara kekuasaan dan kekerasan.

Teror bukan lagi alat sementara, tetapi metodologi pemerintahan. Negara tidak dibangun di atas hukum, melainkan di atas rasa takut.

‎Ini bukan sekadar soal etika, tetapi soal efektivitas politik. Negara yang hidup dari teror akan terus membutuhkan teror. Di titik ini, Stalinisme bukan penyimpangan, melainkan kelanjutan yang konsisten dari logika kekuasaan Lenin. Sejarah tidak dikhianati oleh Stalin – sejarah dijalankan secara brutal.

‎NEPNEP: 

‎”Mundur Tanpa Introspeksi ‎New Economic Policy (NEP) sering dipuji sebagai fleksibilitas Lenin”.

‎Padahal, NEP adalah pengakuan diam-diam atas kegagalan total. Namun pengakuan itu setengah hati. Lenin memperbaiki ekonomi, tetapi membiarkan politik tetap membusuk.

‎Tidak ada rehabilitasi kebebasan sipil, tidak ada koreksi struktur kekuasaan, tidak ada desentralisasi partai.

‎Negara Soviet tetap menjadi mesin tanpa rem. Dan mesin seperti itu, cepat atau lambat, akan mencari operator yang paling kejam.

‎Tan Malaka: 

‎‎”Revolusi Tanpa Negara Teror ‎Di sinilah Tan Malaka menjadi cermin kritis bagi Lenin”.

‎Sama-sama Marxis, sama-sama revolusioner, tetapi berbeda secara radikal dalam imajinasi kekuasaan.

‎Tan Malaka tidak menempatkan partai sebagai pengganti rakyat, dan tidak memuja negara sebagai tujuan sejarah.

‎‎Dalam Madilog dan Aksi Massa, Tan Malaka menekankan kesadaran, pendidikan, dan rasionalitas sebagai fondasi revolusi.

Ia menolak kudeta elitis yang memutus hubungan dengan rakyat. Baginya, revolusi tanpa kesadaran massa hanya akan melahirkan diktator baru dengan baju ideologi lama.

‎Berbeda dengan Lenin yang membangun negara sebelum membangun manusia, Tan Malaka justru curiga pada negara yang lahir terlalu cepat.

Ia paham, kekuasaan yang tidak diawasi rakyat akan menjelma menjadi tirani – meski mengatasnamakan proletariat.

‎Ironisnya, sejarah Indonesia justru menyingkirkan Tan Malaka, sementara Lenin diagungkan. Padahal, secara etis dan politis, Tan Malaka menawarkan revolusi yang lebih dewasa, lebih manusiawi, dan lebih tahan terhadap pembusukan kekuasaan.

Penutup: 

Revolusi yang Gagal Dewasa

‎Kegagalan Lenin bukan karena ia terlalu kejam, tetapi karena ia terlalu percaya bahwa kebenaran ideologi dapat menggantikan kebijaksanaan politik. Ia lupa bahwa kekuasaan membutuhkan kontrol, oposisi, dan kerendahan hati historis.

‎Lenin mengajarkan bagaimana merebut negara. Tan Malaka mengingatkan bagaimana seharusnya negara tidak berubah menjadi penjara bagi rakyatnya sendiri. Di antara keduanya, sejarah memberi vonis tegas:

‎‎”Revolusi tanpa etika kekuasaan hanya akan mengganti penindas lama dengan penindas baru”.

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

× Advertisement
× Advertisement