Oleh : Buhari Fakkah – Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidenreng – Rappang,- 12 Desember 2025 – Di tengah hiruk-pikuk perdebatan politik yang kian melebar, ada satu ayat dari Surah Hud (11:20) yang terasa relevan untuk dibaca ulang:
“Mereka tidak akan mampu melemahkan Allah… Azab mereka dilipatgandakan, karena mereka tidak mau mendengar dan tidak pula melihat.”
Ayat ini tentu bukan komentar politik. Namun, seperti banyak teks suci, ia menghadirkan cermin sosial yang pantas kita tatap saat ingatan publik dikaburkan oleh hiruk-pikuk narasi yang saling berebut ruang.
Dalam konteks hari ini, ayat tersebut mengajak kita merenungkan kecenderungan manusia untuk memilih kenyamanan wacana daripada kegelisahan kebenaran.
Di banyak ruang publik, kita menyaksikan sekelompok orang yang memeluk keyakinannya begitu erat – bukan karena ia benar, tetapi karena ia membebaskan mereka dari kewajiban menghadapi realitas.
Fenomena ini bukan baru. Dalam politik kita, loyalitas sering kali lebih kencang daripada logika. Narasi yang sudah dibangun dengan rapi seakan lebih berharga daripada pertanyaan yang belum sempat diutarakan.
Daya dengar melemah, daya lihat mengecil, bukan karena kemampuan itu hilang, tetapi karena kehendak untuk memakai keduanya kian menipis.
Ayat tersebut seolah memberikan peringatan yang tidak keras, tetapi cukup jelas:
”Ada batas bagi rekayasa persepsi. Kita boleh menyesuaikan panggung, mengatur pencahayaan, menata kata, bahkan memilih potongan cerita yang ingin ditampilkan”.
Namun, sebagaimana ditegaskan ayat itu, kebenaran tidak pernah tunduk pada konstruksi narasi, betapapun kokohnya pagar opini yang dibangun.
Dalam beberapa episode politik terakhir, publik tampak dihadapkan pada kecenderungan menutup rapat pintu pertanyaan.
Setiap kritik dianggap gangguan, setiap keraguan diperlakukan sebagai ancaman, dan setiap suara berbeda disandingkan dengan niat buruk. Sikap seperti ini menyisakan ruang yang sempit bagi akal sehat.
Bahkan, tak jarang terlihat seolah kemampuan mendengar hanyalah pilihan, dan kemampuan melihat keputusan moral yang bisa dipindah tempatkan sesuai kebutuhan.
Sarkasme halus ayat itu menjadi sangat terasa:
“Mereka tidak mau mendengar dan tidak pula melihat.”
Di dalamnya terkandung kritik terhadap kesadaran yang memilih untuk menundukkan diri pada kenyamanan narasi.
Pada akhirnya, opini ini tidak sedang menunjuk siapa pun. Ia hanya mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang telinganya tetap terbuka meskipun suasana politik memanas;
”Matanya tetap jernih meskipun kabut narasi semakin tebal”.
Dan mungkin, pesan paling penting dari ayat itu adalah ini:
”Kita boleh menunda kebenaran, tetapi tidak bisa menghapusnya”.
Selebihnya, sejarah akan bekerja sendiri – baik dengan catatan, kesabaran, maupun ironi yang tak pernah kita duga.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


