Oleh: H. Muh. Ikhsan AR. (HMI AR.)
Dosen Pemikiran Islam IAIN Kendari dan Pengurus MW KAHMI Sulawesi Tenggara
INSAN.NEWS || Kendari,- 05 Februari 2026,- HMI dan Kesadaran Kosmologis. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak awal berdirinya tidak hanya dimaksudkan sebagai organisasi kader politik–intelektual, tetapi sebagai gerakan kesadaran peradaban.
NDP (Nilai Dasar Perjuangan) menempatkan manusia sebagai khalîfah fî al-ardh, subjek sejarah yang bertugas memakmurkan semesta.
Kosmologi dalam Islam tidak melihat alam sebagai benda mati, melainkan sebagai ayat-ayat kauniyah yang hidup dan bertasbih:
تُسَبِّحُتُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 44)
Artinya, kader HMI sejatinya hidup di dalam semesta spiritual, bukan sekadar ruang material.
Dari Antroposentris ke Teo-Ekosentris
Modernitas melahirkan cara pandang antroposentris ekstrem:
“Manusia sebagai pusat dan penguasa mutlak alam”.
Akibatnya:
”Eksploitasi sumber daya”.
- Krisis iklim.
- Kerusakan ekologis struktural.
Ekoteologi Islam mengoreksi ini dengan paradigma teo-ekosentris:
Allah sebagai pusat → manusia sebagai khalifah → alam sebagai amanah.
Dalam Al-Qur’an:
وَلَاوَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah ia diperbaiki.”
(QS. Al-A‘rāf [7]: 56)
Merusak lingkungan bukan sekadar dosa ekologis, tetapi dosa teologis.
Ekoteologi sebagai Etika Kaderisasi HMI
Jika NDP HMI berbicara tentang:
- Tauhid
- Kemanusiaan
- Keadilan sosial
Maka ekoteologi adalah ekspansi praktis tauhid ke wilayah ekologis.
Seorang kader HMI seharusnya:
- Konsekuensi Ekoteologis
- Dimensi
- Tauhid
- Tidak menyembah pertumbuhan ekonomi
- Ibadah
- Menjaga air, tanah, udara
- Dakwah
- Advokasi lingkungan
- Intelektual
Kritik pembangunan eksploitatif
Kosmologi Islam: Alam sebagai Subjek Moral
Berbeda dengan filsafat Barat yang memandang alam sebagai objek, Islam memandang alam sebagai subjek moral:
Gunung bisa “khusyuk” (QS. Al-Hasyr: 21) Hewan adalah “umat seperti kalian” (QS. Al-An‘ām: 38)
Alam bisa bersaksi di hari kiamat
Ini berarti:
”Merusak alam = merusak relasi spiritual kosmik”.
Dalam perspektif sufi (Ibn ‘Arabi, Rumi, al-Ghazali), alam adalah tajalli (penampakan) sifat-sifat Allah.
HMI di Tengah Krisis Planet
Hari ini dunia menghadapi:
- Climate change
- Food insecurity
- Urban ecological collapse
- Spiritual emptiness
Jika HMI tetap hanya berkutat pada:
- Politik elektoral
- Perebutan struktur
- Simbol kekuasaan
Maka HMI kehilangan fungsi kosmiknya sebagai penjaga peradaban.
Manifesto Ekoteologi HMI (Usulan) Sebagai gagasan ideologis, HMI dapat merumuskan:
“Green NDP” (Nilai Dasar Perjuangan Hijau)
Tauhid ekologis:
“Alam sebagai amanah Ilahi”.
Keadilan ekologis:
“Lingkungan sebagai hak generasi masa depan”.
Spiritualisasi Spiritualisasi alam:
- Ibadah tidak terpisah dari konservasi.
Intelektualisme hijau:
“Kader HMI harus literat krisis iklim”.
Gerakan praksis:
“Dari diskusi ke aksi lingkungan nyata”.
Penutup:
Dari Khalifah Politik ke Khalifah Kosmik. HMI sering berbicara tentang khalifah sosial-politik, tetapi lupa bahwa konsep Qur’ani jauh lebih luas:
”Khalifah kosmik”.
Menjadi kader HMI hari ini berarti bukan hanya mengubah struktur kekuasaan, tetapi menjaga harmoni semesta sebagai amanah Ilahi.
- HMI tanpa kosmologi akan kering.
- HMI tanpa ekoteologi akan ikut menghancurkan bumi.
HMI dengan kosmologi–ekoteologi berpotensi menjadi gerakan peradaban spiritual di era krisis planet.
Selamat Milad ke-79 Himpunanku
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


