Opinions

Liturgi Dusta dan Republik Para Penyembah Bayangan ‎

IMG 20251103 WA0016
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Kamis (12/02/2026). Foto Barsa

Oleh: Buhari Fakkah— Dosen UMS Rappang 

‎INSAN.NEWS || Sidrap—Di negeri yang  terlalu lama memuja citra, kebohongan tidak lagi berjalan sembunyi – sembunyi. Ia berparade. Ia mengenakan jas rapi, berdiri di podium, dan berbicara tentang moralitas dengan suara yang dilatih oleh tepuk tangan. Dusta tidak lagi merasa perlu bersembunyi, sebab ia telah menemukan rumahnya yaitu fanatisme.

‎Fanatisme adalah gereja tanpa Tuhan, tapi penuh jamaah. Di sana, pemimpin tidak perlu benar, ia hanya perlu diyakini. Kebenaran bukan lagi soal korespondensi dengan fakta, melainkan soal konsistensi dengan identitas.

‎Seperti kata teori identitas sosial, manusia lebih takut kehilangan kelompok daripada kehilangan rasionalitasnya.

‎Maka ketika sang pemimpin berbohong, para pengikut tidak bertanya, “Apakah ini benar?” Mereka bertanya,

Dari Language Games ke Ilmu Hudhuri: Menganyam Gagasan Wittgenstein—Mehdi Hairi Yazdi—Muhammad Sabri ‎

‎“Apakah ini menguntungkan kelompokku?” Jika jawabannya ya, maka dusta naik derajat menjadi doktrin.

‎Antonio Gramsci pernah berbicara tentang hegemoni, bagaimana kekuasaan bertahan bukan hanya dengan paksaan, tetapi dengan persetujuan.

‎Lanjut penjelasan Buhari dalam tulisan resmi nya, kamis (12/02/2026), di sinilah kebohongan menemukan bentuknya yang paling elegan; ia tidak dipaksakan, ia disepakati. Ia diulang di ruang – ruang diskusi, disebarkan di media sosial, dipertahankan di warung kopi, sampai ia terdengar seperti kebenaran.

‎Hegemoni bekerja bukan dengan membungkam, tetapi dengan membuat orang merasa sedang berpikir bebas, padahal pikirannya sudah dipagari.

‎Lalu datanglah para pragmatis seperti teknokrat loyalitas, birokrat kepentingan, dan intelektual penyewa argumen. Mereka tahu retakan dalam narasi, tetapi memilih menjadi plester.

Invasi Terhadap Suatu Negara Berdaulat, Degradasi dan Melemahnya PBB dan Hukum Internasional

‎Dalam teori pilihan rasional, manusia mengejar keuntungan maksimal dengan biaya minimal. Integritas sering kali terlalu mahal. Lebih mudah membela dusta daripada kehilangan akses. Lebih nyaman menjadi pembenar daripada menjadi pengkritik.

‎Sementara itu, cognitive dissonance bekerja seperti tukang sulap dalam kepala. Ketika fakta dan keyakinan bertabrakan, manusia jarang mengganti keyakinan. Ia lebih suka mengganti tafsir atas fakta. Pemimpin yang tertangkap basah tidak dianggap bersalah, ia dianggap korban framing.

‎Kebohongan tidak diakui sebagai kesalahan, melainkan sebagai “strategi.” Maka lahirlah republik para penyembah bayangan dari orang-orang yang lebih setia pada citra daripada realitas.

‎Dalam lanskap seperti ini, diam bukanlah netral. Diam adalah bentuk partisipasi paling sopan. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai symbolic violence yaitu kekerasan yang tak terasa sebagai kekerasan. Ketika kebohongan dibiarkan, ia menjadi norma. Ketika norma berubah, hati nurani terasa seperti gangguan sistem.

‎Yang paling tragis bukanlah bahwa pemimpin berbohong. Sejarah penuh dengan itu. Yang paling tragis adalah ketika masyarakat mengembangkan antibodi terhadap rasa malu.

Jika Iblis Tak Pernah Berguna, Mengapa Tuhan Tidak Memusnahkannya

Ketika dusta tak lagi memicu kemarahan, melainkan hanya debat teknis. Ketika integritas dianggap naif, dan sinisme dianggap dewasa.

‎Namun kebohongan punya satu kelemahan ontologis; ia bergantung. Ia butuh pengulang, pembela, dan pemoles. Ia seperti api yang terus meminta kayu bakar berupa loyalitas buta.

‎Tanpa itu, ia padam. Kebenaran berbeda. Ia tidak perlu sorak – sorai. Ia mungkin kalah cepat, tapi ia tidak perlu revisi berkala untuk bertahan hidup.

‎Maka pertanyaannya bukan lagi mengapa pemimpin berbohong tapi

‎Pertanyaannya adalah  mengapa begitu banyak orang rela menjadi arsitek bagi kebohongan itu?

‎Mungkin karena lebih mudah menjadi bagian dari gema daripada menjadi suara. Lebih aman memeluk ilusi kolektif daripada berdiri sendirian bersama fakta.

‎Dan di situlah tragedi sosial kita bukan pada kekuatan dusta, melainkan pada kelemahan keberanian.

Sidenreng—Rappang 12 Februari 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement