Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Papua—Sejarah Papua sering dimulai dari Injil. Setiap 5 Februari, Mansinam diperingati sebagai “awal peradaban Papua”, seolah-olah sebelum Alkitab menjejak pasir pulau kecil itu, Papua hanyalah ruang kosong, sunyi dari nilai, iman, dan politik.
Di sinilah problem epistemik bermula: sejarah yang dimulai dari kedatangan, bukan dari keberadaan.
Padahal, jauh sebelum salib ditegakkan di Mansinam pada 1855, pulau ini telah berada dalam jaringan peradaban Nusantara Timur sejak abad ke 15, di mana Islam, adat Papua, dan kekuasaan Kesultanan Tidore telah lebih dahulu berkelindan.
Mansinam bukan halaman pertama sejarah Papua, melainkan bab yang dipilih untuk diingat sementara bab lain sengaja disobek.
Mansinam dan Orbit Tidore
Dalam lintasan abad ke-15 hingga ke-17, Kesultanan Tidore bukan hanya pusat rempah, tetapi imperium maritim yang menjangkau Halmahera, Raja Ampat, Fakfak, Kaimana, hingga pesisir Teluk Cenderawasih.
Papua termasuk wilayah sekitar Mansinam masuk dalam orbit politik dan kultural Tidore. Relasi ini ditandai oleh pengangkatan pemimpin lokal, jaringan dagang, serta penyebaran Islam di pesisir.
Islam datang ke Papua bukan sebagai agama penakluk, melainkan sebagai bagian dari lalu lintas manusia, dagang, dan kekuasaan lokal Nusantara.
Ia hadir berdampingan dengan adat, bernegosiasi dengannya, bukan menghapusnya. Dalam konteks ini, Mansinam adalah ruang perlintasan, bukan ruang hampa.
Namun narasi dominan kerap mengabaikan fase ini. Islam direduksi menjadi “datang belakangan” atau “tidak signifikan”, padahal justru kolonialisme Eropa mengakui klaim Tidore atas Papua sebagai dasar legitimasi kekuasaan mereka.
Ironisnya, ketika kolonialisme membutuhkan Tidore, sejarahnya diakui; ketika narasi nasional dibangun, sejarah itu disisihkan.
Injil, Kolonialisme, dan Politik Keselamatan
Masuknya Injil di Mansinam melalui misionaris Ottow dan Geissler pada 1855 sering dipresentasikan sebagai peristiwa murni spiritual.
Padahal, dalam sejarah global, misi agama hampir selalu berjalan beriringan dengan kepentingan kolonial.
Injil membawa pesan keselamatan, tetapi juga membawa cara pandang Eropa tentang dunia, manusia, dan kekuasaan.
Ini bukan tuduhan iman, melainkan pembacaan sejarah. Kekristenan di Papua tumbuh dalam konteks kolonial, dengan dukungan struktur kekuasaan Belanda.
Pendidikan, administrasi, dan agama dijalin dalam satu benang: menciptakan subjek kolonial yang patuh dan “beradab” menurut ukuran Eropa.
Mansinam kemudian diposisikan sebagai “titik nol” peradaban Papua. Dari sinilah lahir narasi bahwa Papua diselamatkan oleh Injil, seolah-olah adat Papua sebelumnya adalah kegelapan.
Di titik ini, Injil yang sejatinya membawa kabar pembebasan justru dijadikan alat legitimasi penghapusan sejarah lokal.
Adat Papua Yang Bertahan di Tengah Tiga Arus
Namun adat Papua tidak lenyap. Ia bertahan, beradaptasi, dan bernegosiasi baik dengan Islam, Kristen, maupun kolonialisme.
Adat menjadi fondasi etika sosial yang menjaga keseimbangan relasi manusia, alam, dan roh. Islam dan Kristen diterima sejauh tidak merobohkan fondasi itu.
Problem muncul ketika kolonialisme dan kemudian negara modern yang mengklaim kebenaran tunggal atas sejarah.
Adat direduksi menjadi folklor, Islam dipinggirkan, dan Kristen dimonopoli sebagai identitas Papua. Padahal Papua yang nyata adalah Papua yang majemuk sejak awal.
Mansinam sebagai Simbol Perebutan Makna
Mansinam hari ini bukan sekadar situs ziarah, melainkan arena perebutan makna. Ia bisa dibaca sebagai simbol iman, tetapi juga sebagai simbol kolonialisme epistemik: ketika sejarah ditulis dari sudut pandang pemenang.
Membaca ulang Mansinam bukan berarti menolak Injil, apalagi iman Kristen Papua. Yang ditolak adalah narasi tunggal yang meniadakan Islam dan adat dari sejarah Papua.
Sejarah yang adil bukan sejarah yang memilih satu iman, tetapi sejarah yang mengakui seluruh jejak manusia yang pernah hidup dan memberi makna.
Penutup: Mengembalikan Sejarah ke Martabatnya
Papua tidak lahir di Mansinam. Papua telah ada jauh sebelum itu dengan adatnya, politiknya, dan relasi Nusantaranya. Mansinam hanyalah salah satu persimpangan penting, tempat sorban, salib, dan kekuasaan kolonial saling berjumpa.
Mengakui Islam di Papua bukan ancaman bagi Kekristenan. Mengakui adat Papua bukan ancaman bagi negara. Justru di sanalah martabat sejarah ditegakkan: ketika masa lalu tidak dipaksa tunduk pada kepentingan hari ini.
Mansinam seharusnya dikenang bukan sebagai awal, tetapi sebagai cermin agar Papua tidak terus-menerus diperlakukan sebagai tanah yang baru “ada” ketika orang luar datang membawa kitab dan bendera.
Mansinam—19/01/2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


