Opinions

Menahan untuk Bebas: Puasa sebagai Revolusi Batin ‎

Puasa
‎Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari, Menegaskan Bahwa Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus, Melainkan Revolusi Batin Yang Membebaskan Manusia dari Perbudakan Nafsu Menuju Kesadaran Takwa. Kamis, (19/02/2026). Foto Ist

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag (Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari) 

INSAN.NEWS || Kendari—Puasa sering dipahami sebagai latihan menahan diri; menahan lapar, haus, dan keinginan. Kita terbiasa mendefinisikan puasa sebagai tidak makan dan minum dari subuh sampai magrib.

‎Definisi ini tidak salah, tetapi terlalu sempit. Karena jika puasa hanya soal menahan, ia berakhir sebagai ibadah fisik—bukan peristiwa batin.

‎Padahal, Al-Qur’an sejak awal memberi tujuan yang jauh lebih dalam;

‎“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS.2:183).

Bawaslu Mengaji Demokrasi: Antara Regulasi dan Moralitas ‎

Tujuan puasa bukan lapar, tetapi “takwa”—kesadaran diri di hadapan Tuhan.

Menahan: Latihan Mengendalikan Diri

‎Puasa memang dimulai dengan menahan. Kita menahan makan, minum, emosi, bahkan pikiran negatif. Nabi Muhammad ﷺ menegaskan bahwa puasa tidak cukup hanya menahan perut:

‎“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”‎(HR. al-Bukhari).

‎Artinya, menahan diri dalam puasa bukan hanya biologis, tetapi “moral dan spiritual”. Menahan lisan dari dusta, menahan hati dari dengki, menahan ego dari merasa paling benar.

‎Dari Suara ke Harga: Renungan tentang Demokrasi dan Amanah

Dari Menahan ke Membebaskan

‎Justru di titik menahan itulah pembebasan dimulai. Ketika kita mampu berkata “tidak” kepada dorongan diri, kita sedang merebut kembali kendali atas hidup kita.

‎Nabi ﷺ bersabda:

‎“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Puasa melatih kekuatan sejati itu; Menguasai diri sendiri

Dari Fatwa ke Harmoni: Memperkuat Kemitraan MUI dalam Merawat Sulawesi Tenggara

‎Kita mungkin merasa kehilangan kenyamanan, tetapi sebenarnya sedang dibebaskan dari perbudakan nafsu. Kita tidak lagi otomatis menuruti keinginan, melainkan memilih secara sadar.

Puasa dan Ilusi Kebebasan Modern

‎Dunia modern mengajarkan bahwa kebebasan adalah bisa melakukan apa saja. Makan kapan mau, beli apa saja, berkata sesuka hati. Tapi sering kali itu bukan kebebasan, melainkan “ketergantungan yang disamarkan”.

‎Al-Qur’an mengingatkan:

‎“Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagaituhannya?”(QS.45:23).

‎Puasa datang untuk membebaskan manusia dari “tuhan-tuhan kecil” itu: perut, ego, gengsi, dan keinginan tak terbatas.

Puasa sebagai Jalan Merdeka

‎Maka puasa sejatinya bukan ibadah yang melemahkan, tetapi “ibadah yang memerdekakan”. Ia membebaskan manusia dari dorongan instingtif yang menguasai hidup tanpa disadari.

‎Nabi ﷺ bersabda:

‎“Puasa itu adalah perisai.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

‎Perisai dari apa? Dari kebiasaan buruk, dari ego, dari kehampaan makna.

Penutup: Menahan Itu Jalan, Membebaskan Itu Tujuan

‎Puasa memang dimulai dari menahan, tetapi berakhir pada pembebasan. Menahan adalah metode; membebaskan adalah tujuan. Jika setelah Ramadhan kita lebih sabar, lebih jujur, lebih mampu mengendalikan diri, berarti puasa telah bekerja.

‎Tetapi lebih tegas yang disampaikan dalam tulisan resminya Ikhsan, Kmaijika yang berubah hanya jadwal makan, sementara sikap hidup tetap sama, maka puasa hanya singgah di tubuh—belum menyentuh jiwa.

‎Karena puasa sejati bukan membuat kita lemah, melainkan membuat kita lebih merdeka dari diri kita sendiri.

Wallahu A’lam bi al-Shawwab

Kendari—19 Februari 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement