Oleh: Prof. Dr. Muhammad Sabri (Guru Besar Filsafat Islam UIN Alauddin Makassar, Direktur Pengkajian Kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP)
INSAN.NEWS || Jakarta—Postscriptus yang mengguncang. Akhir yang menggugat; “masihkah Tuhan punya masa depan?”.
Pesan itu seolah hadir untuk mengoyak ketertiban iman, “maybe God really is an idea of the past,” begitu pendakuan Karen Amstrong dalam bab terakhir bukunya yang monumental, The History of God.
Buku yang lahir dari buah riset yang ketat dan genial; bagaimana manusia—sepanjang tak kurang dari 4000 tahun—tanpa mengenal letih, mencoba “merumuskan” Tuhan.
Tuhan “masa lalu” adalah Tuhan yang memiliki peran decisive dalam denyut nadi sejarah manusia yang beku. Tiga pilar wiracarita soal Tuhan pun diluahkan dalam narasi-narasi besar (grand narrative); mitos, Kitab Suci, dan sains.
Masing-masing punya argumen yang riuh. Tak ada mufakat. Saling debat. Di sana, ada seteru abadi yang menggenang.
Satu-satunya yang secara nisbi bisa diterima tanpa jejak pertikaian; bahwa Tuhan “ditemukan” dalam aksara lalu diekspresikan dalam semesta amsal yang jamak.
Namun, haruskah ini berarti jika Tuhan akan tetap memainkan peran “masa lalu”-Nya untuk masa kini dan masa depan? Apakah “paham” tentang Tuhan masa lalu akan tetap bertahan dalam sebilah keyakinan dan tersimpan rapi dalam pualam dogma yang dingin?
Adakah “rumusan” Tuhan masa silam akan selalu bersemayam di “langit” transenden, dan membiarkan semesta berlari di atas hukum-hukum kosmik yang teguh?
Amstrong, lagi-lagi bersikukuh dengan temuannya, setelah dengan benderang menghamparkan sukma zaman (zeitgeist) masa kini yang suram; aneka kekerasan dan perang, kehancuran ekologi yang pilu, demoralisasi gelap, dehumanisasi hitam, aneka penyakit kronis yang tak tersembuhkan, penduduk yang kian eksplosif, kelaparan dan kekeringan yang terus menganga, aneka virus yang menghadirkan kematian masif, hingga agama—yang sejauh ini diandaikan sebagai medan paling otoritatif “mempercakapkan” Tuhan—justru jadi institusi yang “memupuk” api kebencian dan pertikaian panjang.
Dalam huru hara zaman seperti ini, masihkah “paham” tentang Tuhan bermakna dan bisa dipertahankan? Kesangsian, tiba-tiba menjadi segumpal kabut dalam jawaban Amstrong.
Tampaknya, iman, Tuhan, dan sejarah bukanlah sebilah arus sepihak, tapi pesona persilangan yang penuh gelora dan juga kisah.
Sejarah pun mewartakan bahwa Tuhan adalah episentrum: selalu saja ada detak rindu yang gigil untuk menemu Tuhan di setiap nafas zaman.
“…ide manusia tentang Tuhan memiliki sejarah. (…) gagasan itu selalu punya arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang mengonstruknya di pelbagai penggalan waktu…” (Amstrong, 2011:21).
Dan kita tahu, “tafsir” menjadi lalu lintas paham yang tak sedikit menerbitkan sengketa. Mungkin sebab itu, acap kali kita menemukan ada selisih dan seteru dalam “praktik” bertuhan. Ada amuk dan perang yang gemuruh “atas nama” Tuhan.
Sikap radikalisme buta, fanatisme batu, dan eksklusi beragama yang belum terdewasakan, lalu menjelma “titik didih” di balik tindak sistemik pemusnahan kemanusiaan.
Gagasan tentang Tuhan di “masa depan,” musti keluar dari dinding simbol, jangkar citra, dan terungku simulakrum tanda.
Ide tentang Tuhan “masa depan,” sebab itu, mengandaikan pentingnya sikap rendah hati, welas asih, intersubjektif, membebaskan, dan pos-dogmatik kaum beriman dalam setiap ikhtiar mengeja nama, sifat, dan titah-Nya.
Bung Karno mengandaikannya secara genial, yang dicetuskan pada pidato legendaris 1 Juni 1945 di hadapan Sidang Besar BPUPK, sebagai “Ketuhanan yang bekebudayaan.”
Pada akhirnya, “Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah”, begitu pendakuan Goenawan Mohamad dalam esai reflektifnya, Tuhan & Hal-hal yang Tak Selesai (2008).
Demikianlah. Selalu saja ada misterium yang mengitari-Nya, pasti. Jangan-jangan, Tuhan “masa depan”—seperti lamat-lamat diakui dalam tulisan Amstrong—adalah Tuhan yang “dialami” oleh kaum mistikus?
Dialah Tuhan yang “membuka Diri dan Lapang” dan tanpa pengerdilan akan-Nya dari kaum demagog.
Itu sebab, jalan menemui Tuhan: membentang sangat luas sebanyak detak irama jantung orang-orang yang merindui-Nya.
Jakarta—05 Maret 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


