Opinions

Mi‘raj Takwa: Dari Lapar ke Lapang

Dosen
Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.---Dosen Sejarah Pemikiran Islam IAIN Kendari---Di Tengah Hiruk-Pikuk Wacana dan Banjir Tanda, Filsafat Mengingatkan Kita; Tidak Semua Kebenaran Lahir dari Kata, Sebagian Hanya Bisa Dialami Dalam Keheningan. Kamis (05/03/2026). Foto Ist ‎

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

‎(Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari) 

INSAN.NEWS || Kendari—Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah jiwa—tempat manusia belajar naik, bertahap, dari tubuh menuju ruh, dari reaksi menuju refleksi, dari sempit menuju lapang.

Dalam konteks inilah firman Allah dalam QS. Āli ‘Imrān ayat 133–134 menemukan relevansi eksistensialnya:

‎ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ۝ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Puasa dan Arsitektur Jiwa: Dari Etika Kebajikan Al-Farabi hingga Ontologi Wujud Mulla Sadra

‎_Wa sāri‘ū ilā maghfiratin min rabbikum wa jannatin ‘arḍuhā as-samāwātu wal-arḍ, u‘iddat lil-muttaqīn._

‎_Alladzīna yunfiqūna fis-sarrā’i waḍ-ḍarrā’, wal-kāẓimīnal-ghayẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn._

‎“Bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia; dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.”

‎Ayat ini seperti peta ruhani bagi perjalanan Ramadhan. Ia dimulai dengan kata “sāri‘ū”—bersegeralah.

Sebuah seruan dinamis, bukan statis. Iman bukan sikap pasif; ia adalah gerak menuju cahaya. Puasa mengajarkan gerak itu; dari lapar fisik menuju kelapangan batin.

Ramadhan dan Demokrasi: Ikhtiar Bawaslu Merawat Amanah dan Ukhuwah

‎Lapar sebagai Jalan Naik

‎Lapar dalam puasa bukan tujuan; ia sarana. Ia mengosongkan tubuh agar jiwa menjadi peka. Ketika perut kosong, kesadaran terisi. Ketika hasrat dibatasi, hati menemukan keluasan. Di sinilah makna mi‘raj takwa; kenaikan spiritual yang dimulai dari disiplin tubuh.

‎‎Ayat 133–134 menegaskan bahwa surga diperuntukkan bagi al-muttaqīn, bukan sekadar bagi yang berpuasa secara lahiriah. Lalu siapa mereka? Ayat berikutnya menjawab dengan tiga karakter:‎

  1. Dermawan dalam lapang dan sempit
  2. Menahan amarah
  3. Memaafkan sesama

‎Puasa sejatinya melatih tiga hal ini. Saat lapar, kita belajar empati dan berbagi. Saat lelah, kita belajar mengendalikan emosi. Saat tersinggung, kita diajak memilih memaafkan daripada melampiaskan.

Dari Sempit ke Lapang

Menemukenali “Rumus” Tuhan Masa Depan

‎Menariknya, ayat ini menyebut surga “seluas langit dan bumi.” Lapang. Kontras dengan kondisi batin yang sempit akibat amarah dan dendam.

Orang yang tak mampu menahan marah hidup dalam ruang batin yang pengap. Tetapi orang yang memaafkan—ia hidup dalam keluasan.

‎Ramadhan adalah terapi perluasan jiwa. Ia mengajari kita bahwa kelapangan bukan hasil kepemilikan materi, melainkan hasil penguasaan diri.

‎Orang yang mampu “kāẓimīnal-ghayẓ” (menahan marah) dan “‘āfīna ‘anin-nās” (memaafkan) telah membuka pintu surga dalam dirinya sebelum ia memasukinya kelak.

Spirit Ramadhan di Era Digital

‎‎Di zaman digital, manusia mudah tersulut. Satu komentar bisa memicu kemarahan. Satu berita bisa menimbulkan kebencian kolektif.

‎Dunia maya sering menjadi ruang tanpa kendali emosi. Dalam konteks ini, QS. 3:134 terasa semakin aktual.

‎Menahan marah hari ini bukan hanya soal tatap muka, tetapi juga soal jempol dan keyboard. Memaafkan bukan hanya di ruang keluarga, tetapi juga di ruang publik digital. Puasa mengajarkan delay response—menunda reaksi, memberi ruang bagi kesadaran sebelum bertindak.

‎Bila Ramadhan hanya menghasilkan tubuh yang lapar tetapi hati yang tetap reaktif, maka kita belum benar-benar naik. Mi‘raj takwa adalah transformasi karakter, bukan sekadar ritual tahunan.

‎Menuju Ihsan

‎Ayat ini ditutup dengan kalimat agung:

‎“Wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn”—Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.

‎Target akhirnya bukan hanya takwa, tetapi ihsan—berbuat baik melampaui kewajiban, memaafkan meski mampu membalas, memberi meski sedang kekurangan.

‎Inilah puncak mi‘raj itu; ketika manusia tidak lagi digerakkan oleh ego, tetapi oleh kesadaran Ilahi.

‎Ramadhan seharusnya membuat kita lebih lapang—lebih sabar, lebih dermawan, lebih pemaaf. Dari lapar fisik menuju kelapangan ruhani. Dari reaksi menuju refleksi. Dari dendam menuju rahmah.

‎Karena sesungguhnya, surga seluas langit dan bumi itu bukan hanya tujuan akhirat. Ia adalah simbol keluasan jiwa yang mulai tumbuh ketika manusia bersegera menuju ampunan.

‎Dan perjalanan itu dimulai dari satu langkah sederhana; menahan diri saat kita mampu melampiaskan.

‎Itulah mi‘raj takwa—dari lapar menuju lapang.

Wallahu A’lam bi al-Shawwab

Kendari—05 Maret 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News 

× Advertisement
× Advertisement