INSAN.NEWS || Makassar—Maraknya kekerasan yang melibatkan remaja di Kota Makassar menjadi peringatan bagi sekolah, keluarga, pemerintah, dan organisasi kepemudaan. Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Makassar, Muhajir, menantang Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), seluruh kepala SMP, serta organisasi Atlantara mengambil peran konkret dalam mencegah konflik antarpelajar.
Muhajir menegaskan, upaya mencegah kekerasan tidak boleh berhenti pada pernyataan keprihatinan. Seluruh pihak, menurut dia, perlu menunjukkan langkah nyata untuk melindungi pelajar dari pergaulan berisiko dan mencegah jatuhnya korban.
“Wattunami Appa Tujui Makassar!” serunya, mengajak berbagai pihak bergerak bersama menyelesaikan persoalan kekerasan remaja, Minggu (18/10).
Muhajir: Jangan Tunggu Korban Bertambah
Muhajir mengatakan, persoalan kekerasan remaja bukan sekadar menyangkut citra kota atau nama baik kelompok tertentu. Lebih dari itu, keselamatan dan masa depan generasi muda harus menjadi perhatian utama.
“Kami jelas tidak mau semakin banyak korban. Kami juga tidak rela anak-anak kami terjerumus dalam pergaulan negatif. Masa depan bangsa dan Kota Makassar ini, gambaran ke depannya adalah kondisi pemudanya hari ini. Mau dikenal sebagai apa bangsa ini nantinya?” kata Muhajir.
Ia menilai pembinaan generasi muda harus dilakukan secara berkelanjutan. Lingkungan sekolah yang aman, pendampingan keluarga, serta pergaulan yang sehat menjadi bagian penting untuk mencegah remaja terlibat dalam tindakan kekerasan.
“Bukan juga soal citra dan sebatas nama semata. Tapi persoalan kehidupannya, keturunan ta, kondisinya ke depan bagaimana?” ujarnya.
Menurut Muhajir, pencegahan kekerasan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sekolah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan orang tua, masyarakat, pemerintah, dan komunitas yang berinteraksi langsung dengan pelajar.
“Bukan Waktunya Saling Menyalahkan”
Muhajir juga mengingatkan agar persoalan kekerasan remaja tidak dijadikan ajang saling menyalahkan atau menunjukkan siapa yang paling kuat. Ia mendorong seluruh elemen masyarakat membangun solidaritas dan kepedulian melalui tindakan nyata.
“Kalau bukan ki saling membantu, saling peduli, saling sayang, siapa pale lagi kasian? Bukan mi waktunya saling menyalahkan, bukan mi juga soal siapa paling jago. Tapi bagaimana kemuliaan hati ta dan peran ta yang nyata,” tuturnya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya mengubah kepedulian menjadi program yang bisa dirasakan langsung oleh pelajar. Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui pendidikan antikekerasan, konseling, penguatan kegiatan ekstrakurikuler, pembinaan kepemimpinan, serta komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua.
Sekolah juga perlu memiliki mekanisme untuk mengenali potensi konflik sejak dini dan berkoordinasi dengan pihak terkait apabila muncul ancaman terhadap keselamatan peserta didik.
MKKS dan Kepala Sekolah Diminta Tunjukkan Inovasi
Secara khusus, Muhajir menantang MKKS dan seluruh kepala SMP di Makassar untuk memperkuat pendidikan karakter serta menghadirkan inovasi yang relevan dengan persoalan pelajar saat ini.
“Wattunami Appa Tujui Makassar! Kalau memang mau kasih lihat jago ta, kasih lihat mi di sini bagaimana jago ta kasih selesai dan mana peranta selesaikan ini masalah,” katanya.
Ia meminta para kepala sekolah tidak hanya menyampaikan kepedulian, tetapi juga menunjukkan kontribusi yang terukur dalam mencegah kekerasan dan membangun lingkungan pendidikan yang aman.
“Saya ini Kabid SMP tantang kepala sekolah, MKKS juga harus berperan aktif. Apa inovasi ta, mana peran dan kepedulian? Jangan hanya bicara peduli, baru tidak ada aksi,” ujar Muhajir.
Tantangan tersebut menjadi dorongan bagi satuan pendidikan untuk mengevaluasi upaya pembinaan peserta didik. Program pencegahan perlu disusun sesuai kondisi masing-masing sekolah, melibatkan guru, tenaga konseling, orang tua, serta peserta didik.
Selain itu, sekolah perlu memperkuat ruang dialog agar pelajar dapat menyampaikan persoalan yang mereka hadapi tanpa takut mendapat stigma atau perlakuan diskriminatif.
Atlantara Ditagih Berkontribusi
Muhajir turut menyoroti pentingnya peran organisasi dan komunitas di luar sekolah, termasuk Atlantara, dalam membantu mencegah konflik antarpelajar.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pembinaan dan menghadirkan pendampingan yang berkelanjutan.
Namun, keterlibatan berbagai pihak perlu diterjemahkan ke dalam agenda yang jelas, pembagian tanggung jawab, dan evaluasi berkala. Dengan begitu, upaya pencegahan tidak berhenti sebagai seruan, tetapi menghasilkan langkah yang dapat dinilai manfaatnya.
Persoalan kekerasan remaja memang tidak bisa diselesaikan melalui satu program atau satu institusi. Diperlukan kerja bersama untuk membangun lingkungan yang aman, memperkuat karakter, dan membuka ruang bagi anak muda mengembangkan potensi secara positif.
Bagi Muhajir, ukuran kepedulian bukanlah seberapa keras seseorang menyampaikan seruan, melainkan sejauh mana peran dan tindakannya membantu melindungi generasi muda.
Kini, tantangan tersebut berada di hadapan sekolah, MKKS, organisasi kepemudaan, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat: mengubah keprihatinan menjadi aksi nyata agar konflik antarpelajar tidak terus berulang.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


