Oleh: Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)
INSAN.NEWS || Makassar—Dalam lanskap narasi Al-Qur’an, tidak ada figur nabi yang diulang, dielaborasi, dan dikontekstualisasikan secara intens seperti Nabi Musa.
Namanya disebut lebih dari nabi-nabi lain; kisahnya tersebar di berbagai surah—dari fase kelahiran di bawah tirani, konfrontasi dengan kekuasaan, eksodus kolektif, hingga pergulatan internal umatnya di padang Tih.
Intensitas ini bukan sekadar repetisi historis, melainkan konstruksi pedagogis, teologis, dan sosiologis.
Musa sebagai Narasi Perlawanan Struktural
Secara sosiologis, kisah Musa adalah arketipe perlawanan terhadap hegemoni. Ia berhadapan dengan Firaun—simbol absolutisme politik, monopoli ekonomi, dan manipulasi ideologis.
Dalam kerangka sosiologi modern, relasi Musa-Firaun dapat dibaca sebagai relasi antara subaltern dan rezim hegemonik (meminjam istilah Antonio Gramsci).
Lebih lanjut dijelaskan Bahar dalam tulisan resminya, Selasa (24/02/2026), Firaun bukan hanya individu, tetapi representasi struktur kuasa yang memproduksi ketakutan dan ketundukan melalui aparatus negara.
Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Firaun melakukan divide et impera; “Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah…” (QS. al-Qashash: 4).
Ini paralel dengan teori modern tentang politik identitas dan fragmentasi sosial sebagai alat pelanggeng kekuasaan.
Musa hadir bukan hanya membawa mukjizat, tetapi membangun kesadaran kolektif (collective consciousness dalam istilah Émile Durkheim).
Eksodus Bani Israil bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi transformasi mental dari mentalitas budak menuju subjek merdeka.
Namun, Al-Qur’an juga jujur menggambarkan resistensi internal; ketakutan, nostalgia pada perbudakan, bahkan penyembahan anak sapi.
Ini adalah kritik terhadap psikologi masyarakat pasca-kolonial—bahwa pembebasan politik tidak otomatis melahirkan kemerdekaan mental.
Tafsir Klasik: Musa sebagai Ulul Azmi dan Legislator
Dalam tafsir klasik seperti karya Ibn Kathir dan Al-Tabari, pengulangan kisah Musa dipahami sebagai penegasan atas kedudukannya sebagai nabi ulul azmi.
Musa adalah nabi syariat besar, pembawa Taurat, pemimpin politik sekaligus spiritual.
Al-Tabari menekankan dimensi ibrah (pelajaran) dalam pengulangan kisahnya; bahwa konflik Musa-Firaun adalah sunnatullah dalam sejarah—pertarungan permanen antara tauhid dan tirani.
Ibn Kathir menggarisbawahi sisi keteguhan Musa menghadapi kediktatoran, bahkan ketika menghadapi penolakan kaumnya sendiri.
Tafsir klasik cenderung memusatkan perhatian pada mukjizat, dialog kenabian, dan aspek moral individual.
Musa adalah figur sabar, tegas, namun juga manusiawi—pernah marah, pernah gelisah, bahkan pernah secara tidak sengaja membunuh seorang Qibthi sebelum masa kenabiannya.
Unsur kemanusiaan ini membuatnya sangat “historis” dan dekat dengan realitas sosial.
Tafsir Modern: Musa sebagai Simbol Emansipasi
Dalam tafsir modern seperti Muhammad Abduh dan Fazlur Rahman, kisah Musa tidak berhenti pada moralitas personal, tetapi dibaca sebagai pesan pembebasan sosial.
Abduh melihat narasi Musa sebagai kritik terhadap despotisme politik dunia Islam modern.
Fazlur Rahman menekankan bahwa wahyu tentang Musa adalah pola etis-historis; agama hadir dalam sejarah untuk mereformasi struktur sosial, bukan sekadar membina kesalehan ritual.
Pendekatan hermeneutika modern juga melihat repetisi kisah Musa sebagai strategi retoris Al-Qur’an dalam membangun memori kolektif umat Islam awal—yang saat itu berada dalam tekanan sosial-politik di Mekkah dan Madinah.
Dengan menghadirkan Musa berulang kali, Al-Qur’an seolah mengatakan kepada Nabi Muhammad dan para sahabat; perjuanganmu memiliki preseden sejarah.
Musa dan Dialektika Kekuasaan
Jika dibaca melalui lensa sosiologi kekuasaan ala Michel Foucault, relasi Musa-Firaun memperlihatkan bahwa kuasa tidak hanya represif tetapi produktif—Firaun memproduksi wacana ketuhanan dirinya: “Ana rabbukum al-a’la” (Akulah tuhanmu yang paling tinggi).
Di sini, Musa hadir sebagai kontra-wacana (counter discourse), membongkar klaim kebenaran absolut negara.
Menariknya, Al-Qur’an tidak mengakhiri kisah Musa dengan kemenangan sempurna. Setelah Firaun tenggelam, problem internal tetap ada. Ini mengajarkan bahwa revolusi struktural harus diikuti revolusi moral.
Mengapa Musa Paling Banyak Disebut?
Pertama, karena kompleksitas misinya; spiritual, politik, hukum, dan sosial.
Kedua, karena ia menghadapi sistem tirani paling total dalam Al-Qur’an.
Ketiga, karena kisahnya merepresentasikan siklus sejarah umat manusia; penindasan–pembebasan–pengkhianatan–pertobatan.
Dalam konteks Indonesia dan dunia Muslim kontemporer, narasi Musa tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa agama bukan sekadar legitimasi kekuasaan, melainkan kritik terhadapnya.
Musa adalah simbol bahwa wahyu selalu berpihak pada yang tertindas (mustadh‘afin), bukan pada istana.
Akhirnya, dominasi kisah Musa dalam Al-Qur’an bukan soal kuantitas penyebutan, tetapi karena ia adalah cermin paling utuh tentang drama kemanusiaan; antara iman dan ketakutan, antara pembebasan dan godaan tirani baru.
Musa bukan hanya tokoh sejarah suci; ia adalah prototipe gerakan sosial sepanjang zaman.
Makassar—24 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


