INSAN.NEWS || Jeneponto,- Kegiatan Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Jeneponto kembali menghadirkan momentum penting bagi pembentukan karakter intelektual dan kepemimpinan sosial kader HMI.
Dengan menjadikan Grand Tema: “Sekapur Sirih” sebagai bingkai konseptual, forum ini mampu merekatkan tradisi intelektual HMI dengan kebutuhan zaman yang semakin dinamis.
Bertempat di Aula Hotel Lingkarsut, Jalan Lingkar Kabupaten Jeneponto, Senin (03/12/2025), puluhan peserta dari berbagai cabang HMI se-Sulawesi Selatan dan luar Sulawesi berkumpul untuk memperkuat pemahaman keilmuan, memperluas cakrawala sosial, dan membangun perspektif keislaman yang lebih matang.
Ruang ini hidup dengan dialektika, argumentasi, dan perdebatan yang mencerminkan semangat keilmuan HMI sejak masa awal pendiriannya.
Pendampingan Akademik oleh Master of Training
Dalam penyampaian materi kali ini, Suhartini Suaedy didampingi secara langsung oleh Aminatuzzuhriah, selaku Master of Training (MOT) Intermediate Training HMI Cabang Jeneponto.
Pendampingan ini bukan hanya sebagai bagian dari tata acara, tetapi merupakan bentuk penegasan bahwa setiap kegiatan perkaderan HMI harus berjalan sesuai kaidah akademik, metodologi pembelajaran, dan nilai-nilai perkaderan.
Aminatuzzuhriah mengawal seluruh alur penyampaian materi, memastikan ruang dialektika berjalan terstruktur, sistematis, dan memberi ruang partisipasi penuh bagi peserta.
Sinergi ini membuat materi yang disampaikan menjadi lebih inklusivitas terhadap gagasan dan tanggapan peserta, komprehensif, dan mudah dipahami oleh seluruh peserta.
Ekonomi Syariah sebagai Ruang Emansipasi Perempuan
Dalam pemaparan materi bertema:
“Perempuan Berdaya: Navigasi Kemandirian Ekonomi Syariah di Tengah Jurang Stratifikasi Gender”
Suhartini menyajikan analisis mengenai posisi perempuan dalam struktur sosial Indonesia. Ia menekankan bahwa persoalan perempuan bukan sekadar isu domestik atau wacana perempuan semata, tetapi merupakan bagian dari persoalan sosial yang terhubung dengan struktur ekonomi, budaya, dan kebijakan negara.
Secara retoris, ia menegaskan:
“Perempuan tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap pembangunan. Mereka adalah pilar peradaban. Ketika perempuan berdaya secara ekonomi, maka stabilitas sosial, moral, dan kesejahteraan keluarga ikut menguat.”
Suhartini memaparkan bahwa ekonomi syariah menyediakan ruang aman dan bermartabat bagi perempuan untuk berkembang.
Melalui prinsip keadilan distributif, kesetaraan akses, dan penghapusan praktik eksploitatif, ekonomi syariah menjadikan perempuan subjek aktif dalam pembangunan ekonomi.
Stratifikasi Gender: Ketimpangan yang Masih Mengakar
Ia juga menyoroti kondisi stratifikasi gender yang masih membelenggu banyak perempuan di Indonesia. Ketimpangan ini hadir dalam berbagai bentuk:
Terbatasnya akses modal, rendahnya literasi keuangan, stigma sosial terhadap perempuan bekerja, serta kebijakan ekonomi yang belum sensitif terhadap keadilan gender.
Dalam konteks itu, solusi pemberdayaan perempuan harus bersifat:
- Struktural,
- Terukur,
- Berbasis komunitas, dan
- Berlandaskan prinsip-prinsip syariah.
Konsep-konsep ini memberikan peserta gambaran bahwa pemberdayaan perempuan bukan hanya persoalan individu, tetapi bagian dari rekonstruksi sosial dan moral masyarakat.
Perspektif Nilai Dasar Perjuangan (NDP)
Mengaitkan pemaparan dengan Nilai Dasar Perjuangan HMI, Suhartini menjelaskan bahwa pemberdayaan perempuan adalah manifestasi dari misi besar HMI: Memanusiakan Manusia.
Dalam NDP, manusia dipandang sebagai makhluk bermartabat, berpikir, dan berperan sosial. Oleh karena itu, segala bentuk diskriminasi gender sesungguhnya merupakan tindakan yang merendahkan martabat kemanusiaan itu sendiri.
“Jika kita serius menghayati NDP, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan: bahwa memuliakan perempuan adalah bagian dari tugas keislaman dan tugas kemanusiaan.”
Intervensi Peserta: Suara Perempuan Muda Dalam Arena Keilmuan
Dialektika forum semakin kaya ketika peserta dari HMI Cabang Makassar,
Nur Fatmi (Komisariat Unimerz),
Mengajukan pertanyaan reflektif:
Bagaimana perempuan muda HMI dapat mengambil peran konkret dalam penguatan ekonomi syariah di tingkat kampus dan komunitas?
Pertanyaan ini memperlihatkan bagaimana perempuan muda HMI mulai memahami pentingnya peran mereka dalam ekosistem ekonomi syariah. Dalam menjawabnya, Suhartini memberikan tiga rekomendasi konkret:
1. Penguatan Literasi Syariah dan Digital
Perempuan harus menguasai dasar-dasar ekonomi syariah, manajemen bisnis, serta teknologi digital yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi modern.
2. Pengembangan Komunitas Wirausaha Perempuan
Kampus harus menjadi ruang aman bagi perempuan untuk bereksperimen dengan ide bisnis, berkolaborasi, dan membangun jejaring.
3. Keberanian Mengambil Tindakan
Penguatan ekonomi perempuan hanya bisa terjadi jika terdapat aksi nyata, bukan sekadar diskusi. Perempuan harus berani memulai usaha, sekecil apa pun skalanya.
“Perempuan muda HMI adalah energi baru bagi ekonomi umat. Mereka yang akan menulis babak baru keadilan ekonomi syariah di masa depan.”
LK II sebagai Mesin Pembentukan Kepemimpinan Intelektual
Melalui sesi ini, LK II kembali membuktikan dirinya sebagai arena intelektual yang melahirkan kader-kader berkarakter, berwawasan luas, dan memiliki sensitivitas sosial.
Forum ini bukan sekadar ruang peningkatan kapasitas, tetapi ruang transformasi pemikiran, tempat nilai, gagasan, dan arah gerakan diuji.
Dengan perpaduan antara metodologi perkaderan yang kuat, pendampingan Master of Training, Aminatuzzuhriah dan materi yang kaya muatan nilai, LK II HMI Cabang Jeneponto mengukuhkan perannya sebagai kawah candradimuka pembentukan pemimpin masa depan.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


