Opinions

Politik Modern harus diasuh oleh Argumentasi Rasional ‎

IMG 20251103 WA0016
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd - Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng - Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Kamis (22/01/2026). Foto Barsa

Oleh: Buhari Fakkah Dosen UMS Rappang

INSAN.NEWS || Sidenreng – Rappang,- Kamis 22 Januari 2026 – Pernyataan “politik modern itu harus diasuh oleh argumentasi rasional” bukan sekadar idealisme akademik, melainkan syarat minimum agar politik tidak jatuh menjadi arena manipulasi naluri, emosi, dan mitos kekuasaan.

‎Dalam politik modern, legitimasi kekuasaan tidak lagi bersumber dari darah, wahyu, atau karisma personal, melainkan dari alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara publik. Karena itu, politik menuntut argumentasi rasional – bukan teriakan massa, bukan kultus individu, apalagi sentimen identitas yang disulut tanpa nalar.

‎Argumentasi rasional berfungsi sebagai pengasuh politik dalam tiga makna penting.

Pertama, ia mendisiplinkan kekuasaan. Kekuasaan yang tidak dipaksa menjelaskan dirinya akan selalu tergoda menjadi sewenang-wenang. Rasionalitas memaksa penguasa menjawab pertanyaan mengapa dan untuk siapa kebijakan dibuat. Tanpa argumentasi, kekuasaan berubah menjadi kehendak telanjang yang hanya mencari pembenaran, bukan kebenaran.

Demokrasi Tanpa Akal Sehat: Hilirisasi Digital dan Kebodohan Dipertontonkan dalam Janji 19 Juta Lapangan Kerja

Kedua, ia memanusiakan warga negara. Politik rasional mengakui rakyat bukan sebagai massa emosional yang cukup digerakkan dengan slogan, tetapi sebagai subjek berpikir yang layak diberi alasan. Di sini, warga diperlakukan sebagai citizen, bukan crowd. Politik tanpa argumentasi rasional pada dasarnya adalah penghinaan intelektual terhadap rakyatnya sendiri.

Ketiga, argumentasi rasional menjadi fondasi deliberasi demokratis. Demokrasi bukan sekadar hitung suara, melainkan pertukaran alasan. Tanpa rasionalitas, demokrasi merosot menjadi kompetisi kebohongan yang paling efektif, bukan gagasan yang paling masuk akal. Inilah yang oleh Habermas disebut sebagai runtuhnya public reason atau hilangnya ruang publik yang sehat.

‎‎Sebaliknya, ketika politik diasuh oleh irasionalitas, emosi mentah, hoaks, fanatisme yang lahir bukan keberpihakan pada rakyat, melainkan populisme dangkal. Politik semacam ini bising, tapi kosong;

‎‎”Ramai, tapi miskin makna; tampak membela rakyat, padahal sedang mengeksploitasi ketidaktahuan mereka atau kebodohan masyarakatnya”.

‎Maka, politik modern yang menolak argumentasi rasional sejatinya sedang mundur ke pra-modernisme, ke era di mana kekuasaan tidak perlu menjelaskan diri. Di titik itulah politik berhenti menjadi sarana etis mengatur kehidupan bersama, dan berubah menjadi panggung nafsu kekuasaan.

HMI Maros Desak Peninjauan Ulang Perpress Nomor 115 Tahun 2025: Ancaman Ketidakadilan Dan Pembengkakan Birokrasi ‎

Singkatnya, 

‎Politik tanpa argumentasi rasional bukan politik modern, itu hanya kekuasaan yang belum dewasa.

‎Dewasalah Dalam Berpolitik Kawan🙏🙏

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

Pluralisme Ala Barat: Ketika Toleransi Menjadi Alat Pembungkaman
× Advertisement
× Advertisement