Opinions

Puasa dan Arsitektur Jiwa: Dari Etika Kebajikan Al-Farabi hingga Ontologi Wujud Mulla Sadra

Puasa
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Jum'at (06/03/2026). Foto Ist

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang 

INSAN.NEWS || Sidrap—Di antara lima rukun Islam, puasa sering dipahami secara sederhana yaitu menahan lapar dan dahaga. Namun jika dibaca melalui lensa filsafat Islam khususnya pemikiran Al-Farabi, Ibn Sina, dan Mulla Sadra maka puasa justru tampil sebagai proyek besar pembentukan manusia.

Ia bukan sekadar ibadah ritual, tetapi rekayasa metafisik atas struktur jiwa.

Puasa tidak berdiri sebagai dasar aqidah, melainkan sebagai pilar praksis iman. Namun justru dalam praksis itulah tersembunyi transformasi terdalam manusia.

1. Al-Farabi: Puasa dan Tatanan Kebajikan

Ramadhan dan Demokrasi: Ikhtiar Bawaslu Merawat Amanah dan Ukhuwah

Dalam filsafat politik-etik Al-Farabi, manusia ideal adalah manusia yang jiwanya teratur. Ia membagi jiwa dalam struktur rasional dan irasional. Kebahagiaan (sa‘ādah) hanya tercapai bila akal memimpin hasrat.

Puasa, dalam kerangka ini, adalah latihan disiplin etis. Ia menempatkan akal sebagai penguasa atas nafsu biologis.

Lapar bukan tujuan, tetapi metode. Ketika tubuh meminta dan akal menahan, terjadi reposisi kekuasaan dalam diri.

Inilah fondasi masyarakat utama (al-madīnah al-fāḍilah) individu-individu yang mampu menguasai diri sebelum menguasai dunia.

Tanpa pengendalian diri, negara akan dikuasai ambisi; tanpa disiplin batin, hukum menjadi formalitas kosong. Maka puasa adalah etika politik dalam bentuk paling sunyi.

Menemukenali “Rumus” Tuhan Masa Depan

2. Ibnu Sina: Puasa dan Penyempurnaan Jiwa

Bagi Ibn Sina, manusia adalah jiwa rasional yang terikat sementara pada tubuh. Tubuh bukan musuh, tetapi ia bisa menjadi tiran.

Dalam kerangka psikologi Avicennian;

  1. Jiwa vegetatif adalah kebutuhan biologis
  2. Jiwa hewani adalah dorongan emosional
  3. Jiwa rasional adalah kesadaran intelektual

Puasa melemahkan dominasi dua tingkat pertama agar yang ketiga menguat. Ketika kebutuhan biologis dikendalikan, jiwa lebih ringan menerima limpahan intelektual dan spiritual.

Karena itu, banyak tradisi intelektual Islam menempatkan puasa sebagai prasyarat kejernihan berpikir.

Subuh Berjamaah di Rappocini, Munafri Tekankan Kolaborasi Warga dan Pemerintah Kebersihan Kota

Lapar yang terkendali bukan sekadar asketisme, tetapi metode epistemik; ia membersihkan gangguan indrawi agar akal lebih fokus pada yang universal.

Puasa dalam perspektif ini adalah jalan penyempurnaan eksistensi intelektual manusia.

3. Mulla Sadra: Puasa dan Gerak Substansial Jiwa

Dalam metafisika Mulla Sadra, wujud (eksistensi) bersifat dinamis. Jiwa manusia mengalami harakah jawhariyyah gerak substansial dari tingkat material menuju spiritual. Puasa menjadi akselerator gerak ini.

Ketika manusia menahan diri;

  1. Ia mengurangi keterikatan pada materi
  2. Ia menguatkan dimensi immaterial
  3. Ia menggeser kualitas wujudnya

Puasa bukan hanya tindakan moral, tetapi transformasi ontologis. Ia mengubah intensitas keberadaan manusia.

Dalam Hikmah Muta‘āliyah, setiap amal memiliki konsekuensi eksistensial. Puasa menghaluskan wujud jiwa, menjadikannya lebih transparan terhadap cahaya Ilahi.

Karena itu dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa “untuk-Ku” karena ia menyentuh langsung relasi eksistensial antara hamba dan Tuhan.

4. Mengapa Puasa?

Shalat mengatur waktu. Zakat mengatur harta. Haji mengatur ruang. Tetapi puasa mengatur keinginan.

Dan keinginan adalah pusat krisis manusia.

Seluruh tragedi sejarah ketidakadilan, eksploitasi, kerakusan berakar pada ketidakmampuan menahan diri. Puasa melatih manusia menghadapi dirinya sendiri. Ia membangun integritas yang tidak tergantung pengawasan sosial.

Karena itu puasa adalah ibadah paling personal sekaligus paling revolusioner.

Penutup: Puasa sebagai Revolusi Sunyi

Dalam etika Al-Farabi, puasa menata kebajikan. Dalam psikologi Ibn Sina, puasa menyempurnakan jiwa. Dalam ontologi Mulla Sadra, puasa mentransformasikan wujud.

Ia bukan sekadar ritual tahunan, tetapi arsitektur pembentukan manusia.

Di dunia yang dikuasai hasrat konsumsi dan kecepatan instan, puasa mengajarkan jeda. Dalam peradaban yang bising, ia mengajarkan diam. Dalam sejarah yang dipenuhi ambisi, ia mengajarkan kendali.

Puasa adalah revolusi yang tidak berteriak, tetapi mengubah manusia dari dalam.

Dan mungkin justru karena itulah puasa dipilih karena perubahan terbesar tidak terjadi di jalanan, melainkan di dalam jiwa.

Sidenreng Rappang—06 Maret 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement