Opinions

Puasa sebagai Gerak Substansial Jiwa: Telaah Filsafat Mulla Sadra

Puasa
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd---Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng---Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Selasa (03/03/2026). Foto Ist

Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang 

INSAN.NEWS || Sidrap—Setiap Ramadan, umat Islam memasuki fase penahanan diri; lapar, dahaga, dan pengendalian hasrat. Namun pertanyaan filosofisnya jarang diajukan secara serius; apakah puasa hanya disiplin moral, ataukah ia merupakan proses transformasi ontologis manusia?

‎Dalam khazanah filsafat Islam, khususnya melalui pemikiran Mulla Sadra pendiri mazhab Hikmah Muta‘āliyah (Teosofi Transenden) puasa dapat dipahami bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan proyek metafisik yang menyentuh struktur terdalam eksistensi manusia.

‎Al-Qur’an menegaskan;

‎“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Demokrasi dan Pendidikan: Guru Honorer dalam Bayang-Bayang Negara Demokratis

‎Ayat ini sering dimaknai secara moral. Namun dalam kerangka filsafat Sadra, kata takwa bukan hanya kategori etika, melainkan kondisi ontologis tingkat intensitas keberadaan yang lebih tinggi.

Primasi Eksistensi dan Puasa

‎Fondasi metafisika Mulla Sadra adalah doktrin Aṣālat al-Wujūd (primasi eksistensi). Ia menegaskan bahwa yang paling nyata bukanlah “hakikat tetap” (mahiyyah), melainkan eksistensi (wujūd) itu sendiri.

Dengan kata lain, manusia bukan entitas statis, melainkan realitas yang terus bergerak dan mengalami intensifikasi keberadaan.

‎Dalam perspektif ini, puasa bukan sekadar tindakan menahan makan dan minum. Ia adalah intervensi terhadap intensitas eksistensi manusia.

Netralitas ASN: Ketika Loyalitas Berhadapan dengan Hukum dan Amanah ‎

Saat dorongan biologis dilemahkan, dominasi dimensi material berkurang, sementara dimensi spiritual menguat. Puasa menjadi mekanisme pengalihan pusat gravitasi eksistensi dari tubuh menuju jiwa.

Gradasi Wujud dan Kenaikan Derajat Eksistensial

Sadra juga mengembangkan teori Tasykīk al-Wujūd (gradasi eksistensi). Wujud tidak tunggal dalam kualitas tapi ia memiliki tingkatan. Materi berada pada tingkat paling rendah, sementara wujud Ilahi adalah puncaknya.

‎Dalam struktur hierarkis ini, manusia berada di antara dunia materi dan dunia akal. Ia bisa turun, bisa pula naik.

Puasa berfungsi sebagai tangga eksistensial. Dengan mengendalikan syahwat, manusia mengurangi keterikatannya pada lapisan wujud yang rendah dan bergerak menuju tingkat yang lebih tinggi.

Negeri Setengah Demokrasi: Republik yang Rajin Memilih, Enggan Mendengar ‎

‎Takwa, dalam konteks ini, adalah peningkatan kualitas keberadaan bukan sekadar kepatuhan normatif.

Gerak Substansial: Revolusi Metafisika

‎Gagasan paling revolusioner dari Mulla Sadra adalah Al-Ḥarakah al-Jawhariyyah (gerak substansial). Berbeda dari filsafat Aristotelian yang menganggap substansi tetap, Sadra berpendapat bahwa substansi itu sendiri bergerak.

‎‎Jiwa manusia, menurutnya, mengalami evolusi ontologis dari potensi menuju aktualitas. Ia lahir dalam keadaan lemah, kemudian bertumbuh menuju kesempurnaan.

‎Dalam kerangka ini, puasa bukan perubahan aksidental seperti sekadar perilaku lahiriah melainkan percepatan gerak substansial jiwa.

Ia adalah katalisator transformasi esensial. Setiap pengendalian diri mempercepat evolusi eksistensial manusia menuju kesempurnaan.

‎Dengan demikian, Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi momentum percepatan ontologis.

Pengetahuan Presensial dan Kesadaran Ilahi

‎Dalam epistemologi Sadra, terdapat konsep ‘ilm ḥuḍūrī (pengetahuan presensial). Pengetahuan sejati bukan hanya representasi mental, tetapi kehadiran langsung objek dalam diri subjek.

‎Puasa membuka ruang bagi pengalaman semacam ini. Saat tubuh dilemahkan, hijab material menipis. Kesunyian batin menghadirkan kesadaran yang lebih jernih.

Lapar dan dahaga bukan sekadar sensasi fisik, tetapi medium pembongkaran ilusi kemandirian manusia.

‎Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa puasa adalah ibadah yang “untuk-Ku”. Secara filosofis, ini dapat dipahami sebagai bentuk relasi paling langsung antara eksistensi manusia dengan Wujud Mutlak tanpa mediasi simbolik yang kuat seperti pada ibadah-ibadah lain.

Puasa sebagai Proyek Metafisik

‎Jika diringkas, dalam perspektif Mulla Sadra, puasa memiliki tiga dimensi besar;

  1. ‎Ontologis – Ia memodifikasi intensitas eksistensi manusia.
  2. Epistemologis – Ia membuka ruang pengetahuan presensial.
  3. Teleologis – Ia mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan.

‎Puasa, dengan demikian, bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah proses rekonstruksi diri. Ia adalah latihan ontologis untuk menjadi lebih “ada” secara autentik.

‎Dalam dunia modern yang sangat materialistik, pembacaan filosofis ini menjadi penting. Ketika manusia direduksi menjadi konsumen dan tubuh biologis, puasa justru mengingatkan bahwa keberadaan manusia melampaui materi. Ia memiliki kapasitas untuk bergerak naik secara esensial.

‎Ramadan, dalam kacamata Sadra, adalah bulan gerak substansial yaitu saat jiwa diberi kesempatan untuk melampaui dirinya sendiri.

‎Dan mungkin, di sanalah makna terdalam takwa yakni intensifikasi keberadaan menuju cahaya yang lebih tinggi.

Sidenreng Rappang—03 Maret 2026

INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement