News

‎Ramadan dan Evaluasi Kekuasaan: Forum Dialog di Makassar Soroti Satu Tahun Kepemimpinan Nasional ‎

Ramadan
Peserta Dialog Ramadan dan Buka Puasa Bersama berfoto usai diskusi bertema “Muhasabah Kebangsaan di Bulan Suci: Menakar Satu Tahun Kepemimpinan Nasional dalam Perspektif Nilai Keislaman” di Rumah Kopi ONDONG, Ahad (15/3/2026). Foto Ist

INSAN.NEWS || Makassar—Suasana Ramadan dimanfaatkan sebagai ruang refleksi kebangsaan. Sejumlah aktivis mahasiswa dan tokoh masyarakat menggelar Dialog Ramadan dan Buka Puasa Bersama 1447 Hijriah di Jalan RSI Faisal No. 3 Makassar, Ahad (15/03/2026).

Diskusi yang dimulai pukul 16.00 WITA itu mengangkat tema “Muhasabah Kebangsaan di Bulan Suci: Menakar Satu Tahun Kepemimpinan Nasional dalam Perspektif Nilai Keislaman.”

IMG 20260315 WA00901

Aktivis mahasiswa dan organisasi kepemudaan mengikuti Dialog Ramadan bertema “Muhasabah Kebangsaan di Bulan Suci: Menakar Satu Tahun Kepemimpinan Nasional dalam Perspektif Nilai Keislaman” di Rumah Kopi Ondong, Makassar, Ahad (15/3/2026).

Forum ini mencoba membaca kinerja kepemimpinan nasional melalui pendekatan etika Islam yang menekankan prinsip keadilan, amanah, dan kemaslahatan umat.

Narasumber utama, Ketua Umum Forum Pemuda Nasional (FORPEMNAS) Fajar Muharam, menilai Ramadan merupakan momentum yang tepat untuk melakukan introspeksi terhadap praktik kepemimpinan nasional.

“Dalam perspektif nilai keislaman, pemimpin harus menghadirkan keadilan sosial, menjaga amanah, serta memastikan kebijakan negara membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” kata Fajar dalam diskusi tersebut.

Sinkronisasi Data Pemilih: KPU Maros Temukan Perbedaan Nama Desa, Koordinasi dengan Disdukcapil

Menurut dia, indikator kepemimpinan yang adil tidak semata diukur dari stabilitas politik, tetapi dari sejauh mana kebijakan negara mampu menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ia menilai kesenjangan ekonomi dan persoalan kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah.

Fajar juga menekankan pentingnya amanah dan integritas dalam kepemimpinan. Evaluasi terhadap berbagai program pemerintah, kata dia, perlu terus dilakukan agar kebijakan publik benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Diskusi turut menyinggung perbedaan perspektif antara pemerintah dan masyarakat dalam memandang konsep keadilan. Dalam forum tersebut disampaikan bahwa logika kebijakan negara kerap berbeda dengan perspektif kritis masyarakat sipil dan kalangan mahasiswa.

Salah satu peserta mengangkat konsep maslahah umat sebagai tolok ukur lain dalam menilai kepemimpinan. Kebijakan negara, menurutnya, harus diukur dari sejauh mana dampaknya membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Ketokohan Akbar Tandjung Dinilai Layak Menjadi Panutan dalam Berpolitik

IMG 20260315 WA0086

Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya, Taufikurrahman (tengah), bersama Fajar Muharam (kanan) dan moderator Elsa Salsabilla (kiri) dalam dialog Ramadan bertajuk “Muhasabah Kebangsaan di Bulan Suci: Menakar Satu Tahun Kepemimpinan Nasional dalam Perspektif Nilai Keislaman” di Rumah Kopi Ondong, Makassar, Ahad (15/3/2026).

Forum ini juga menyinggung pemikiran intelektual Muslim Indonesia Nurcholish Madjid, yang menekankan pentingnya keterbukaan berpikir serta kesadaran bahwa kebenaran dalam ruang sosial-politik membutuhkan dialog dan penalaran akademik.

Ketua Umum HMI Cabang Gowa Raya periode 2026–2027, Taufikurrahman, yang baru dilantik sehari sebelumnya pada 14 Maret 2026, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menegaskan keterlibatan mahasiswa dalam ruang diskursus publik mengenai arah kepemimpinan nasional.

Sementara itu, pemilik Rumah Kopi Ondong, Asri Pandu, yang menjadi tuan rumah kegiatan, mengingatkan bahwa Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dilantik dengan sumpah jabatan di atas Al-Qur’an.

Karena itu, nilai moral dan tanggung jawab kepada rakyat, menurut dia, harus menjadi landasan utama dalam menjalankan kekuasaan.

Kegiatan ini juga dihadiri Ketua Umum PMII Cabang Makassar, aktivis mahasiswa UIN Makassar, serta sejumlah organisasi kepemudaan di Kota Makassar.

Puasa antara Syariat dan Ma‘rifat: Sintesis Etika Spiritual dalam Pemikiran Al-Ghazali

Dialog kemudian ditutup dengan buka puasa bersama yang dihadiri aktivis mahasiswa, pemuda, dan masyarakat sekitar.

Para peserta berharap forum semacam ini dapat menjadi ruang diskusi yang kritis sekaligus reflektif untuk menilai arah kepemimpinan nasional secara objektif dan berkeadaban.

‎‎INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement