Opinions

Ranting Itu Penting: Basis Muhammadiyah Bertumbuh dan Besar

IMG 20260131 WA0002
Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara, Muhammadiyah Tidak Lahir di Gedung-Gedung Megah, Tetapi Tumbuh dari Denyut Ranting Yang Hidup Bersama Ummat. Dari Sanalah Gerakan Dimulai, Setiap Hari. Sabtu (31/01/2026). Foto Barsa

Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.

‎(Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Sulawesi Tenggara) 

‎INSAN.NEWS || Kendari,- 31 Januari 2026 – Di tengah dinamika masyarakat yang kian kompleks dan tantangan dakwah yang semakin berlapis, Muhammadiyah sejatinya tidak pernah kekurangan gagasan besar. Namun, sering kali kita lupa bahwa kekuatan terbesar.

‎Muhammadiyah justru bukan terletak pada wacana elitis di tingkat pusat, melainkan pada denyut kehidupan di akar rumput:

‎”Ranting”.

Parlementer vs Presidensial: Daulat Rakyat antara Prinsip Normatif dan Ilusi Prosedural

‎Ranting adalah wajah paling nyata Muhammadiyah di tengah umat. Di sanalah ide-ide besar diuji, disederhanakan, dan diterjemahkan menjadi amal nyata.

KH. Ahmad Dahlan sejak awal tidak membangun Muhammadiyah sebagai organisasi menara gading. Spirit tajdid yang ia bawa bukanlah proyek intelektual semata, melainkan gerakan sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Dahlan pernah menegaskan bahwa;

“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” 

‎Pesan ini sering dikutip, tetapi jarang direnungkan secara struktural. Ranting adalah bentuk paling konkret dari “menghidupkan Muhammadiyah”, sebab di sanalah kader bekerja tanpa sorotan, tanpa fasilitas besar, namun dengan keikhlasan.

LBH BAKTI JUSTISIA MAKASSAR : Reformasi Polri Harus Lewat Pengawasan, Bukan Perubahan Struktur Sektoral

Buya Hamka dalam berbagai tulisannya juga menekankan bahwa kekuatan umat Islam terletak pada keberanian untuk membangun dari bawah. Ia menyebut bahwa perubahan besar dalam sejarah Islam selalu lahir dari komunitas kecil yang memiliki kesadaran moral.

‎Dalam konteks Muhammadiyah, komunitas kecil itu adalah ranting:

‎”Pengajian ibu-ibu, TPA di surau, sekolah kecil di kampung, klinik sederhana di desa”.

‎Semua itu mungkin tidak spektakuler, tetapi justru di situlah watak dakwah kultural Muhammadiyah diuji.

Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, berkali-kali menegaskan bahwa ranting adalah “tulang punggung” persyarikatan.

Moral Aforisme dan Post-Truth: Ketika Survei Turun Kasta Menjadi Konsultan Kemenangan

Dalam satu kesempatan ia menyatakan bahwa; 

‎“Sebesar apa pun visi pusat, ia tidak akan bermakna jika tidak berdenyut di ranting.” 

‎Pernyataan ini mengandung kritik halus terhadap kecenderungan organisasi modern yang gemar berorientasi pada proyek besar, tetapi lupa membangun ekosistem kader di tingkat lokal.

Tanpa ranting yang hidup, Muhammadiyah berisiko menjadi organisasi administratif belaka, kehilangan ruh gerakan.

‎Nurcholish Madjid, meski bukan struktural Muhammadiyah, memberikan refleksi penting tentang makna masyarakat sipil (civil society).

‎Menurutnya, kekuatan masyarakat terletak pada jaringan komunitas yang mandiri dan berdaya. Jika logika ini diterapkan dalam Muhammadiyah, maka ranting bukan sekadar unit struktural, melainkan ruang pembentukan masyarakat sipil Muslim:

‎”Tempat warga belajar demokrasi, etika publik, dan kesalehan sosial”.

‎Masalahnya, dalam praktik, ranting sering diperlakukan sebagai “pelengkap administrasi”. Banyak ranting hidup sekadar untuk memenuhi laporan, bukan sebagai pusat kreativitas dakwah.

‎Padahal, justru di era digital dan krisis kepercayaan terhadap institusi besar, masyarakat lebih mudah tersentuh oleh gerakan kecil yang dekat, personal, dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Ranting memiliki modal sosial yang tidak dimiliki pusat:

‎”Kedekatan emosional dengan jamaah”.

‎Dalam perspektif ideologi Muhammadiyah, ranting sejatinya adalah medan tajdid yang paling autentik.

Tajdid tidak harus selalu berupa wacana filsafat atau ijtihad akademik; Ia juga bisa hadir dalam bentuk sederhana:

‎”Menghidupkan kembali budaya membaca Al-Qur’an di kampung, memberdayakan ekonomi jamaah, atau mendampingi remaja dari arus narkoba dan radikalisme”.

‎Semua itu hanya mungkin dilakukan secara efektif di level ranting. Maka, jika Muhammadiyah ingin benar-benar “bertumbuh dan besar”, pertanyaannya bukan berapa banyak gedung megah yang dibangun di kota, melainkan;

‎”Berapa banyak ranting yang hidup, kreatif, dan berdaya”.

‎Seperti dikatakan Ahmad Dahlan, Muhammadiyah bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk diperjuangkan.

Dan perjuangan itu, dalam makna paling nyata, dimulai dari ranting. Di sanalah Muhammadiyah sesungguhnya lahir setiap hari.

INSAN.NEWS — Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement