INSAN.NEWS || Bulukumba—Pembentukan karakter kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang kapasitas intelektual dan kemampuan mengelola organisasi. Fondasi kehidupan pribadi dan keluarga juga menjadi bagian penting dalam membentuk manusia yang matang secara moral.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Forum LKK HMI Cabang Bulukumba.
Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian LK II dan LKK HMI Cabang Bulukumba yang mengusung grand tema “Kepemimpinan Profetik HMI Pilar Indonesia Emas 2045.” Kegiatan berlangsung di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Bulukumba), Jalan Jenderal Ahmad Yani Nomor 41, Bulukumba.
Dalam forum tersebut, materi “SAMAWA” atau Sakinah, Mawaddah, Warahmah disampaikan oleh Ir. Andi Putri Rumpang, MSc. atau yang akrab disapa Kak Cheche. Materi ini mengangkat perspektif tentang pentingnya membangun keluarga yang dilandasi ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat sebagai bagian dari kehidupan seorang kader.
Konsep Sakinah, Mawaddah, Warahmah tidak hanya ditempatkan sebagai gagasan mengenai kehidupan rumah tangga. Dalam konteks perkaderan, nilai tersebut dapat menjadi refleksi mengenai tanggung jawab, kedewasaan, keteladanan, serta kemampuan seseorang membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan terdekatnya.
“Keluarga yang dibangun dengan nilai sakinah, mawaddah, dan warahmah menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk pribadi yang memiliki tanggung jawab, kasih sayang, dan keteladanan, Sabtu (29/8).
Pembahasan SAMAWA juga memiliki kaitan dengan gagasan kepemimpinan profetik yang menjadi tema besar perkaderan HMI Cabang Bulukumba. Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan berpikir dan mengambil keputusan, tetapi juga membutuhkan kematangan karakter serta tanggung jawab moral dalam menjalankan perannya.
Melalui forum LKK, kader HMI didorong untuk melihat persoalan keluarga dan kehidupan sosial secara lebih luas. Keluarga dipandang sebagai ruang awal pembentukan nilai dan karakter manusia sebelum seseorang mengambil peran yang lebih besar di tengah masyarakat.
Diskusi tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas kader menuju cita-cita Indonesia Emas 2045. Kepemimpinan profetik yang diharapkan lahir dari proses perkaderan bukan sekadar kepemimpinan yang kuat secara intelektual, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan, tanggung jawab, kasih sayang, dan keteladanan.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda
Follow Berita InsanNews di Google News


