INSAN.NEWS || Jakarta—Senja perlahan turun di pelataran Masjid Istiqlal. Cahaya keemasan menyentuh lantai-lantai terbuka, sementara di kejauhan Monumen Nasional berdiri tegak, menjadi latar sunyi bagi ratusan jamaah yang menanti waktu berbuka.
Barisan manusia duduk berjejer dengan tenang. Tidak ada hiruk pikuk yang berlebihan, tidak ada dorong-dorongan yang memecah suasana. Ketika panitia membagikan makanan, tangan-tangan terulur secukupnya.
Satu orang mengambil satu. Kesederhanaan itu justru menghadirkan makna yang dalam; kesadaran untuk berbagi ruang dan rezeki.
Menjelang adzan maghrib, percakapan meredup. Waktu seakan melambat. Lalu suara adzan berkumandang, mengalun dan memantul di antara kubah dan langit Jakarta.
Dalam sekejap, doa-doa terucap lirih, dan tegukan pertama air menjadi simbol kemenangan kecil setelah seharian menahan diri.
Pemandangan tersebut bukan sekadar potret berbuka puasa bersama. Tetapi potret yang mencerminkan tentang bagaimana nilai-nilai keimanan menjelma menjadi sikap sosial yang tertib. Ketika kesadaran tumbuh dari dalam, ketenangan tercipta tanpa perlu dipaksa.
Di tengah wajah ibu kota yang sering digambarkan serba cepat dan keras, senja di pelataran Istiqlal menunjukkan sisi lain; bahwa harmoni masih mungkin, bahwa rasa cukup masih hidup, dan bahwa kebersamaan tidak selalu membutuhkan kata-kata.
Buka puasa di ruang terbuka itu menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia menjelma menjadi pelajaran sunyi tentang adab, empati, dan keindahan yang lahir dari kesederhanaan.
Jakarta—26 Februari 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


