Opinions

Kutukan Banjir Aceh dan Sumatra: Ketika Tuhan Terlalu Sering Dijadikan Tersangka ‎ ‎

IMG 20251103 WA0016
‎Dr. Buhari Fakkah, M.Pd - Dosen Universitas Muhammadiyah Sidenreng - Rappang, Pemerhati Demokrasi, Dan Etika Publik. Aktif menulis Opini Reflektif Tentang Filsafat, Demokrasi dan Politik di Berbagai Media. Sabtu (31/01/2026). Foto Barsa

Oleh : Buhari Fakkah – Dosen UMS Rappang

INSAN.NEWS || Sidenreng – Rappang,- Minggu 14 Desember 2025 – Setiap banjir datang, Tuhan kembali duduk di kursi pesakitan. Mimbar ramai, status media sosial khusyuk:

‎‎”Ini azab, ini teguran, ini kutukan”.

‎‎Sementara di tempat lain, ekskavator tetap bekerja, hutan terus ditelanjangi, izin tambang diteken sambil tersenyum, dan sungai diperlakukan seperti selokan raksasa. Tuhan disalahkan. Manusia dibebaskan.

‎Aceh dan Sumatra tenggelam bukan karena langit tiba-tiba bengis, melainkan karena daratan terlalu lama diperkosa atas nama investasi, pembangunan, dan – ironisnya – kemajuan umat. Air hanya menjalankan tugas paling jujur dalam hukum alam:

Perang Yurisdiksi dan Retaknya Integrasi Nasional: Aceh dan Papua antara Otonomi, Keadilan, dan Ancaman Disintegrasi NKRI

‎”Mengisi ruang yang dirusak manusia”.

‎Narasi “kutukan” adalah jalan pintas paling malas dalam beragama. Ia mematikan akal sehat sekaligus membebaskan para pelaku kerusakan dari tanggung jawab. Ketika banjir disebut murka Tuhan, maka oligarki tambang bisa tidur nyenyak. Ketika korban disebut kurang bertobat, maka pejabat tata ruang tak perlu diseret ke pengadilan.

‎Aceh, dengan label Serambi Mekkah, seharusnya paling depan dalam etika ekologis. Tapi yang tumbuh justru kesalehan poster:

‎”Simbol agama berlimpah, keberanian melawan perusak alam nyaris punah. Syariat rajin mengatur tubuh dan moral privat rakyat kecil, tapi gagap saat berhadapan dengan korporasi dan kekuasaan yang menggergaji hutan”.

‎Di sinilah agama kehilangan taring profetiknya. Ia berubah dari suara pembebasan menjadi pengeras suara kekuasaan. Dari pembela korban menjadi penenang penderitaan. Doa diperdagangkan sebagai pengganti kebijakan, zikir dijual sebagai substitusi keadilan.

‎Jokowi: Antara Pulang Kampung Menjadi Rakyat Biasa atau Berjuang Demi Anak di PSI

‎Menyebut banjir sebagai kutukan bukan hanya keliru, tapi juga tidak adil secara teologis. Tuhan tidak kehabisan cara menegur, tapi manusia kehabisan keberanian untuk bercermin. Alam tidak sedang marah – ia sedang menagih utang.

‎Jika umat beragama masih jujur, pertanyaannya bukan “dosa apa yang membuat banjir datang”, melainkan:

‎‎”Siapa yang menandatangani izin, siapa yang membiarkan, dan siapa yang diuntungkan”.

‎Tanpa keberanian mengajukan pertanyaan itu, agama hanya akan menjadi bagian dari masalah – bukan solusi.

‎Banjir akan terus datang selama langit disalahkan dan bumi terus dijual. Tuhan tak perlu dibela. Yang perlu diselamatkan justru iman kita – dari kebodohan, kemunafikan, dan keberpihakan yang salah arah.

Ranting Itu Penting: Basis Muhammadiyah Bertumbuh dan Besar

‎INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New

× Advertisement
× Advertisement