Opinions

‎Jokowi: Antara Pulang Kampung Menjadi Rakyat Biasa atau Berjuang Demi Anak di PSI

IMG 20260201 WA0000
Baharuddin Hafid - Dosen Tetap Universitas Megarezky Makassar Dan Instruktur NDPers Nasional. Minggu, (01/02/2026). Foto Bang Barsa

Oleh Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)

INSAN.NEWS || Makassar,- 01 Februari 2026 – Ada satu fase dalam sejarah kekuasaan yang selalu sunyi namun menentukan:

‎”Saat seorang presiden turun dari panggung”.

‎Di titik itulah watak sejati kekuasaan diuji – apakah ia benar-benar selesai, atau sekadar berganti rupa.

‎Joko Widodo kini berdiri di persimpangan itu. Di satu sisi, narasi “pulang kampung menjadi rakyat biasa” terus diulang sebagai simbol kesederhanaan dan keikhlasan.

KETIKA FAKTA DITEMUKAN, TETAPI PUTUSAN TIDAK MENEMUKANNYA

‎Di sisi lain, keterlibatan politik keluarga – terutama langkah politik anaknya melalui PSI – membuka tafsir berbeda:

‎”Bahwa Jokowi belum benar-benar selesai dengan kekuasaan”.

‎Secara simbolik, Jokowi selalu piawai membangun citra pascakekuasaan. Wacana kembali ke Solo, bertani, hidup sederhana, adalah klimaks dari mitos politik yang ia bangun sejak awal:

‎”Presiden dari rakyat, kembali ke rakyat. Narasi ini kuat, emosional, dan sangat Indonesia”.

‎Ia menjanjikan akhir yang indah bagi sebuah kekuasaan yang dimulai dengan harapan besar.

Ketika MK Memilih: Tidak Dapat Diterima

‎Namun politik tidak pernah hanya soal simbol;

‎”Ia adalah soal struktur dan kepentingan”. 

‎Ketika PSI – partai yang relatif kecil, progresif, dan sangat bergantung pada figur – memberi karpet merah bagi anak Jokowi, publik membaca sinyal lain:

‎”Kekuasaan mungkin tidak diwariskan secara formal, tetapi pengaruhnya sedang diamankan”.

‎Di sinilah dilema Jokowi menjadi problem etika politik, bukan sekadar urusan keluarga.

Di Antara Malam dan Siang, Hati Mencari Tuhan: Tadabbur QS.3:27

‎Dalam teori politik klasik, republik modern menolak politik dinasti bukan karena hubungan darah itu sendiri, tetapi karena ia mengaburkan meritokrasi dan mempersempit sirkulasi elite.

‎Ketika nama keluarga menjadi modal politik utama, demokrasi bergeser dari kompetisi gagasan ke kompetisi silsilah.

‎Jokowi, yang lahir dari rahim anti-elite dan anti-dinasti, justru berisiko menutup lingkaran sejarah dengan menciptakan elite baru atas namanya sendiri.

‎PSI menjadi medan uji yang menarik. Partai ini selama bertahun-tahun mengklaim diri sebagai antitesis politik lama:

‎”Anti-korupsi, anti-feodalisme, anti-dinasti”.

‎Ketika kemudian ia begitu dekat dengan keluarga Jokowi, PSI seakan terjebak dalam paradoks ideologisnya sendiri.

‎Apakah ini strategi rasional untuk bertahan hidup di politik elektoral yang keras, atau pengkhianatan diam-diam terhadap nilai yang mereka gaungkan?

‎Bagi Jokowi, dukungan – langsung atau tidak – terhadap langkah politik anaknya membawa konsekuensi serius. Ia tak lagi sekadar mantan presiden, melainkan figur bayangan (shadow power) yang memengaruhi arah politik pasca-kepemimpinannya.

‎Dalam konteks ini, “pulang kampung” menjadi metafora yang retak:

‎”Secara fisik ia mungkin kembali ke Solo, tetapi secara politik ia tetap berada di Jakarta”.

‎Sebagian pembela Jokowi akan berkata:

‎”Setiap warga negara, termasuk anak presiden, berhak berpolitik”.

‎Argumen ini sah secara normatif. Namun politik tidak hidup di ruang hampa hukum semata;

‎”Ia hidup dalam persepsi publik. Ketika akses, atensi, dan legitimasi diperoleh karena hubungan keluarga dengan pusat kekuasaan, maka klaim “hak yang setara” kehilangan daya etiknya”.

‎Pilihan Jokowi sebenarnya sederhana, meski konsekuensinya berat. Ia bisa benar-benar menutup buku kekuasaan, menjaga jarak dari politik praktis, dan membiarkan anaknya berjuang tanpa bayang-bayang istana – meski itu berarti risiko gagal.

‎Atau ia memilih tetap bertarung secara tidak langsung, memastikan warisan politiknya hidup melalui PSI dan keluarga, dengan risiko merusak narasi moral yang selama ini ia bangun.

‎Sejarah akan mencatat bukan hanya apa yang Jokowi bangun selama sepuluh tahun berkuasa, tetapi juga bagaimana ia mengakhiri kekuasaannya.

‎Apakah ia dikenang sebagai presiden yang tahu kapan harus berhenti, atau sebagai pemimpin yang terlalu mencintai pengaruhnya hingga enggan benar-benar pergi.

‎Di titik ini, Jokowi bukan lagi sekadar individu, melainkan simbol. Dan simbol, dalam politik, selalu berbicara lebih keras daripada kata-kata.

‎INSAN.NEWS — Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News

× Advertisement
× Advertisement