Oleh : Buhari Fakkah Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidenreng – Rappang,- Senin 15 Desember 2025 – Dalam politik Indonesia hari ini, kita menyaksikan gejala yang semakin mengkhawatirkan:
”Pujian yang membanjir tanpa nalar, dan kritik yang dipersempit ruangnya”.
Keduanya bukan sekadar dinamika biasa dalam pemerintahan;
”Keduanya adalah moral hazard yang berpotensi membuat kekuasaan kehilangan arah”.
Pujian yang berlebihan telah menjadi mata uang politik yang murah namun laku keras. Ia membuat penguasa merasa stabil ketika sebenarnya rapuh, merasa populer ketika sebenarnya hanya disokong opini buatan, dan merasa dituahkan ketika sesungguhnya sedang dijauhkan dari kenyataan.
Dalam atmosfer seperti itu, koreksi dianggap gangguan, bukan kebutuhan. Kekuasaan justru dibiarkan tumbuh dalam isolasi:
“Nyaman, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang terjadi di bawah permukaan”.
Lebih berbahaya lagi ketika kritik dibaca sebagai pembangkangan. Sebuah pemerintahan yang sehat semestinya menerima kritik sebagai bagian dari mekanisme keselamatan, bukan sebagai ancaman legitimasi.
Namun yang terjadi hari ini, kritik justru sering dipelintir sebagai kepentingan politik, dijauhkan dari substansi, lalu dibungkam dengan retorika stabilitas. Sikap seperti ini bukan hanya merusak demokrasi, tetapi juga mengkerdilkan kepercayaan publik.
Dalam situasi inilah kita perlu bertanya:
Siapa sebenarnya yang diuntungkan ketika pujian didewakan dan kritik ditakutkan? Jawabannya jelas:
”Bukan Rakyat”.
Pujian yang tak berbasis fakta hanya menguntungkan lingkar kekuasaan yang ingin mempertahankan posisi, bukan institusi negara yang ingin menjaga kualitas kebijakan.
Demokrasi membutuhkan keberanian dua pihak:
“Rakyat yang berani mengoreksi, dan penguasa yang cukup matang untuk mendengarkan”.
Jika salah satu hilang, maka yang tersisa hanyalah ritual politik tanpa substansi.
Pada akhirnya, publik harus ingat bahwa memuji penguasa tidak salah, tetapi melapisi kekuasaan dengan pujian hingga kebal kritik adalah bahaya. Begitu pula, mengkritik bukan dosa;
”Justru pengabaian terhadap kritiklah yang membuat kekuasaan berjalan tanpa rem”.
Dan kekuasaan tanpa rem selalu berakhir di tempat yang sama:
Jurang – bukan bagi penguasanya saja, tetapi bagi seluruh bangsa yang membiarkannya”.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


