INSAN.NEWS || Makassar,- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dituntut tidak hanya hadir sebagai organisasi kaderisasi, tetapi juga sebagai kekuatan pemikiran yang mampu membaca dan memengaruhi arah zaman.
Hal tersebut ditegaskan Andi Sri Wulandani Thamrin, Staf Khusus Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, saat menjadi pemateri dalam Intermediate Training (LK II) Tingkat Nasional HMI Korkom Tamalate Cabang Makassar di Wisma Latobang, Minggu (01/02/2026).
Dalam pemaparannya, Andi Sri Wulandani menekankan bahwa hegemoni bukan sekadar dominasi kekuasaan, melainkan kemenangan ideologi dan cara pandang.
Menurutnya, kader HMI harus mampu menggagas perubahan dengan menjadikan nilai-nilai HMI sebagai lensa dalam membaca realitas sosial, nasional, hingga global.
“HMI adalah organisasi perkaderan. Pertanyaannya, apakah kita sudah sadar kontribusi apa yang harus kita berikan sebagai kader HMI?” tegasnya di hadapan peserta LK II.
Ia juga menyoroti peran strategis pemuda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Bonus demografi yang diperkirakan hanya berlangsung sekitar 13 tahun ke depan disebut sebagai peluang sekaligus tantangan besar yang menuntut kesiapan intelektual dan ideologis generasi muda.
Lebih lanjut, Andi Sri Wulandani mengajak kader HMI untuk membaca arah kebijakan nasional, termasuk Asta Cita pemerintahan serta target RPJPN 2025, dan menempatkan posisi kader HMI secara strategis dalam sinergi pembangunan nasional.
Tak kalah penting, ia mendorong agar Bidang Hubungan Internasional tidak hanya eksis di tingkat Pengurus Besar (PB) HMI, tetapi juga hadir di tingkat cabang.
Menurutnya, hal ini penting agar kader HMI di daerah memiliki sensitivitas terhadap dinamika global, termasuk eskalasi konflik internasional seperti perang Palestina, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta perubahan geopolitik dunia.
Sesi diskusi berlangsung dinamis. Andi Tenri Buana Octavia, peserta dari Cabang Makassar, menyoroti peran kecerdasan buatan yang sangat membantu manusia, namun tidak memiliki naluri dan harapan, sehingga menurutnya intelektualitas manusia tetap harus menjadi faktor utama.
Sementara itu, Abdul Rais Rahman dari Gowa Raya mempertanyakan posisi ideologi HMI dalam konteks global, serta sejauh mana HMI berperan dalam percaturan internasional. Kaisar, peserta dari Cabang Bima, mengangkat isu kondisi mahasiswa hari ini dan tantangan kaderisasi ke depan.
Menutup diskusi, pemateri menegaskan bahwa kunci masa depan HMI dan bangsa berada di tangan para kader muda. Ia mengingatkan pentingnya membina insan akademis yang berintegritas, menjaga simbol dan nama baik HMI, serta menjadikan pemikiran sebagai dasar tindakan nyata.
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google New


