Oleh: Baharuddin Hafid (Akademisi Universitas Megarezky Makassar)
INSAN.NEWS || Makassar—Sejarah pemikiran tidak pernah netral; ia adalah arena pertarungan antara otoritas, tradisi, dan rasionalitas.
Sosok Ibnu Rusyd di Barat dikenal dengan nama (Averroes) menjadi salah satu contoh paling tragis sekaligus ironis dalam sejarah intelektual dunia Islam.
Di satu sisi, ia dicerca, dibuang, bahkan karya-karyanya dibakar di sebagian wilayah dunia Islam. Di sisi lain, pemikirannya justru disambut hangat, dikembangkan, dan dijadikan fondasi kebangkitan rasionalitas di Eropa Barat.
Paradoks ini tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan dari benturan epistemologis antara rasionalisme filsafat dan ortodoksi teologis.
Ibnu Rusyd, yang hidup di bawah kekuasaan Dinasti Almohad di Andalusia, adalah pembela gigih tradisi filsafat Aristoteles.
Ia menulis komentar-komentar monumental terhadap karya Aristoteles, dengan keyakinan bahwa akal dan wahyu tidaklah bertentangan, melainkan saling melengkapi.
Namun, pandangan ini berbenturan dengan arus besar teologi Islam kala itu, terutama pasca kritik keras Al-Ghazali dalam karya Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf).
Al-Ghazali menuduh para filsuf terjerumus dalam kesesatan metafisik, yang kemudian melahirkan kecurigaan luas terhadap filsafat.
Ibnu Rusyd mencoba menjawab melalui Tahafut al-Tahafut (Kerancuan atas Kerancuan), tetapi momentum sejarah tampaknya tidak berpihak padanya.
Tradisi intelektual Islam bergerak ke arah konservatisme teologis, di mana filsafat semakin tersisih dari arus utama.
Sementara itu, di Eropa Barat, situasinya justru berkebalikan. Karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani, menjadi sumber utama bagi para pemikir skolastik seperti Thomas Aquinas. Melalui apa yang dikenal sebagai “Averroisme Latin,” pemikiran Ibnu Rusyd berkontribusi besar dalam membangkitkan tradisi rasionalitas di universitas-universitas Eropa abad pertengahan.
Ia menjadi jembatan penting antara warisan Yunani klasik dan kebangkitan intelektual Barat, yang kelak bermuara pada Renaisans.
Di titik inilah kita menyaksikan ironi sejarah: dunia Islam yang pernah menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan justru menutup ruang bagi tradisi rasional kritis, sementara Barat yang sebelumnya relatif “gelap” justru menyerap dan mengembangkan warisan tersebut. Ibnu Rusyd menjadi simbol dari pergeseran pusat gravitasi intelektual dunia.
Namun, penting untuk dicatat bahwa penolakan terhadap Ibnu Rusyd bukan semata soal “anti-rasionalitas,” melainkan juga terkait dengan konteks politik dan sosial.
Kekuasaan membutuhkan stabilitas, dan stabilitas sering kali lebih mudah dijaga melalui ortodoksi ketimbang perdebatan bebas. Dalam konteks ini, filsafat—yang membuka ruang kritik dan penafsiran—dipandang sebagai ancaman potensial.
Sebaliknya, Eropa Barat pada masa itu sedang berada dalam fase pencarian epistemologis. Gereja, meskipun dominan, mulai berhadapan dengan kebutuhan rasionalisasi teologi.
Pemikiran Ibnu Rusyd menawarkan perangkat metodologis yang sangat dibutuhkan: bagaimana menggunakan akal tanpa sepenuhnya meninggalkan iman.
Ini menjelaskan mengapa ia justru “diterima” di Barat—bukan karena Barat lebih rasional sejak awal, tetapi karena ia berada dalam momentum sejarah yang tepat untuk menerima rasionalitas.
Dari sini, pelajaran paling penting bukanlah sekadar nostalgia atas kejayaan masa lalu, melainkan refleksi kritis terhadap kondisi intelektual kontemporer dunia Islam.
Apakah kita masih mengulang pola yang sama—mencurigai nalar kritis dan menghindari perdebatan filosofis? Ataukah kita mampu merekonsiliasi kembali akal dan wahyu sebagaimana diperjuangkan Ibnu Rusyd?
Ibnu Rusyd sejatinya tidak pernah benar-benar “milik Barat.” Ia adalah produk peradaban Islam yang kosmopolit, terbuka, dan percaya diri.
Ketika dunia Islam kehilangan keberanian intelektualnya, Barat mengambil alih estafet tersebut.
Maka, menghidupkan kembali semangat Ibnu Rusyd bukanlah soal mengimpor rasionalitas dari Barat, melainkan merebut kembali warisan intelektual kita sendiri.
Dalam konteks ini, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi mengapa Ibnu Rusyd diagungkan di Barat dan dicerca di Timur, tetapi: apakah dunia Islam hari ini siap berdamai dengan tradisi berpikir kritis yang pernah ia lahirkan sendiri?
Wallahu A’lamubishshawab
Makassar— 01 Mei 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


