Oleh: Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag.
(Dosen Sejarah Pemikiran Politik Islam Pascasarjana IAIN Kendari dan Ketua Komisi KUB MUI Sulawesi Tenggara)
INSAN.NEWS || Kendari—Perang sering kali tidak dimulai dari peluru pertama, tetapi dari narasi pertama. Ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada akhir Februari 2026—dengan hampir 900 serangan dalam hitungan jam—dunia tidak hanya menyaksikan eskalasi militer, tetapi juga sebuah pergeseran geopolitik yang jauh lebih dalam. (Encyclopedia Britannica)
Pertanyaannya bukan lagi sekadar mengapa perang ini terjadi,tetapi apa yang sebenarnya sedang dibangun di baliknya?
Antara Ancaman Nyata dan Narasi yang Dibangun
Secara resmi, agresi ini dibingkai sebagai respons terhadap program nuklir Iran, pengaruh militernya di Timur Tengah, dan kegagalan diplomasi internasional. (Encyclopedia Britannica)
Namun, sejarah menunjukkan bahwa alasan keamanan sering kali menjadi pintu masuk bagi agenda yang lebih besar. Dari Irak hingga Afghanistan, retorika “stabilitas” dan “keamanan global” kerap berujung pada restrukturisasi kekuasaan regional—bahkan global.
Iran, dalam konteks ini, bukan sekadar negara target. Ia adalah simpul strategis:
- Penghubung antara Timur Tengah, Asia Tengah, dan dunia Islam
- Pemilik salah satu jalur energi terpenting dunia: Selat Hormuz
- Simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat
Ketika simpul ini diguncang, yang terguncang bukan hanya Iran—melainkan keseimbangan dunia.
Perang Energi: Jantung Tatanan Global
Konflik ini segera mengguncang pasar energi global. Harga minyak melonjak tajam, dan distribusi energi dunia terganggu secara signifikan. (MarketWatch)
Bahkan, gangguan di Selat Hormuz—yang mengalirkan sekitar 20% pasokan energi global—telah memicu efek domino terhadap inflasi dan stabilitas ekonomi dunia. (The Guardian)
Ini menunjukkan satu hal penting:
- Perang ini bukan hanya tentang Iran, tetapi tentang kontrol atas arteri ekonomi dunia.
Dalam logika geopolitik klasik, siapa menguasai energi, ia menguasai dunia. Maka, konflik ini bisa dibaca sebagai upaya mengamankan—atau merebut kembali—kendali atas sumber daya strategis global.
Dari Konflik Regional ke Rekayasa Orde Dunia
Yang lebih mengkhawatirkan adalah meluasnya konflik ke berbagai titik: Lebanon, Teluk, hingga jalur perdagangan internasional. (Reuters & The Economic Times)
Ini bukan lagi perang bilateral. Ini adalah konflik sistemik.
Dalam perspektif teori hubungan internasional:
- Realisme melihat ini sebagai perebutan kekuasaan
- Konstruktivisme melihatnya sebagai pertarungan narasi dan identitas
- Teori sistem dunia melihatnya sebagai restrukturisasi pusat dan pinggiran kekuasaan
Jika ditarik lebih jauh, konflik ini mengandung ciri khas proyek tatanan dunia baru”:
- Delegitimasi aktor lama (Iran sebagai kekuatan regional)
- Militerisasi kawasan strategis
- Penguatan aliansi global berbasis kepentingan energi dan keamanan
- Normalisasi intervensi atas nama stabilitas
Rekayasa Konflik atau Keniscayaan Sejarah?
Apakah ini rekayasa? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Konflik ini lahir dari akumulasi panjang:
- Trauma sejarah sejak Revolusi Iran 1979
- Kegagalan diplomasi nuklir
- Kompetisi pengaruh di Timur Tengah
Namun, cara dan momentum terjadinya konflik ini menunjukkan adanya kalkulasi strategis yang matang. Iran diserang dalam kondisi melemah—secara ekonomi, politik, dan regional. (Encyclopedia Britannica)
Artinya, ini bukan sekadar reaksi spontan. Ini adalah keputusan geopolitik yang diperhitungkan.
Implikasi bagi Dunia Islam dan Global Selatan
Bagi dunia Islam, konflik ini membuka luka lama: Fragmentasi, ketergantungan, dan ketidakmampuan membangun kekuatan kolektif.
Sementara bagi Global Selatan, ini menjadi pengingat bahwa: tatanan dunia tidak pernah netral—ia selalu dibentuk oleh kekuatan dominan.
Jika konflik ini berlanjut, kita mungkin akan melihat:
- Polarisasi global baru (blok Barat vs non-Barat)
- Krisis ekonomi global berkepanjangan
- Normalisasi konflik sebagai instrumen politik internasional
Penutup: Membaca di Balik Asap Perang
Perang ini bukan hanya tentang siapa menyerang siapa. Ia adalah tentang siapa yang menulis ulang aturan dunia.
Di balik rudal dan drone, ada peta baru yang sedang digambar.
Di balik kehancuran, ada tatanan yang sedang dibangun. Pertanyaannya kini: apakah dunia akan menerima tatanan itu—atau melawannya?
Wallahu A’lam bi al-Shawwab
Kendari—20 April 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


