Oleh: Buhari Fakkah—Dosen UMS Rappang
INSAN.NEWS || Sidrap—Ali Syariati dalam Ideologi Kaum Intelektual mengajukan satu pertanyaan fundamental: apakah ilmu pengetahuan digunakan untuk membebaskan manusia atau justru menjadi alat pembenaran bagi kepentingan tertentu?
Bagi Syariati, intelektual bukanlah sekadar pemilik gelar akademik, penulis jurnal, atau pembicara seminar.
Intelektual adalah manusia yang memiliki kesadaran historis dan tanggung jawab moral terhadap penderitaan masyarakat.
Ia harus hadir ketika kemanusiaan diinjak, bukan ketika isu tersebut sedang populer atau menguntungkan secara ideologis.
Di sinilah kritik terhadap sebagian kaum intelektual dalam membaca konflik Papua menjadi relevan.
Ketika film Pesta Babi mengangkat dugaan kekerasan negara, berbagai forum akademik bergerak cepat mendiskusikannya. Kritik, seminar, artikel ilmiah, dan advokasi bermunculan.
Namun ketika guru ditembak di ruang kelas, tenaga kesehatan dibunuh di daerah pelayanan, pekerja sipil dieksekusi, dan masyarakat Papua menjadi korban kekerasan kelompok bersenjata OPM/KKB, respons yang sama sering kali tidak terdengar.
Ali Syariati menyebut fenomena seperti ini sebagai kegagalan intelektual menjalankan fungsi historisnya.
Menurut Syariati, seorang intelektual tidak boleh menjadi “penonton netral” di tengah penderitaan manusia. Netralitas dalam situasi ketidakadilan sering kali bukanlah objektivitas, melainkan bentuk lain dari keberpihakan yang disamarkan.
Dalam salah satu gagasan sentralnya, Syariati menegaskan bahwa: “Seorang intelektual adalah orang yang sadar akan kondisi zamannya dan bertanggung jawab terhadap nasib masyarakatnya.”
Kalimat ini mengandung pesan yang sangat kuat. Kesadaran tanpa keberanian moral hanyalah pengetahuan yang mandul.
Ilmu yang tidak melahirkan keberpihakan kepada nilai kemanusiaan hanya akan menghasilkan apa yang oleh Syariati disebut sebagai elit intelektual yang terasing dari realitas rakyat.
Dalam konteks Papua, pertanyaannya sederhana:
Jika intelektual begitu sensitif terhadap dugaan pelanggaran HAM oleh negara, mengapa sensitivitas yang sama tidak muncul terhadap pembunuhan guru, tenaga kesehatan, pekerja sipil, dan masyarakat adat oleh kelompok bersenjata?
Apakah nilai kemanusiaan ditentukan oleh identitas pelaku?
Apakah korban hanya layak dibela ketika kematiannya sesuai dengan narasi politik tertentu?
Syariati menolak cara berpikir semacam itu. Baginya, intelektual harus berpihak kepada manusia, bukan kepada narasi.
Karena itu, intelektual organik tidak memilih-milih korban. Ia mengutuk kekerasan negara jika terjadi.
Ia juga mengutuk kekerasan separatis jika terjadi. Ia berdiri bersama rakyat yang menderita, bukan bersama ideologi yang sedang ia sukai.
Sebaliknya, intelektual bisu adalah mereka yang menggunakan ilmu secara selektif. Mereka menjadikan objektivitas sebagai slogan, tetapi menerapkan empati secara diskriminatif.
Mereka mengutuk satu bentuk kekerasan, namun diam terhadap bentuk kekerasan lainnya. Mereka berbicara tentang HAM, tetapi hanya untuk korban yang sesuai dengan preferensi politiknya.
Padahal bagi Syariati, intelektual sejati bukanlah pencari kenyamanan akademik. Ia adalah penjaga nurani masyarakat.
Sejarah menunjukkan bahwa kejahatan sering kali bertahan bukan karena kuatnya para pelaku, melainkan karena diamnya mereka yang mengetahui kebenaran.
Maka tragedi terbesar dalam dunia intelektual bukanlah ketika ilmuwan salah berbicara, melainkan ketika ilmuwan memilih diam di hadapan penderitaan manusia.
Jika guru yang gugur, tenaga kesehatan yang dibunuh, dan warga sipil yang menjadi korban konflik tidak mampu membangunkan suara moral kaum intelektual, maka yang sedang kita saksikan bukan krisis keamanan Papua semata, melainkan krisis nurani intelektual itu sendiri.
Dalam bahasa Ali Syariati, saat itulah kaum intelektual berhenti menjadi agen pembebasan dan berubah menjadi penghuni menara gading yang kehilangan hubungan dengan derita manusia.
Ali Syariati mengatakan “Ilmu yang kehilangan keberpihakan kepada kemanusiaan akan melahirkan intelektual yang cerdas, tetapi tidak berani; kritis, tetapi selektif; dan akhirnya menjadi saksi bisu atas penderitaan yang seharusnya ia bela.”
Sidenreng Rappang—03 Juni 2026
INSAN.NEWS – Menginspirasi Anda Follow Berita InsanNews di Google News


